Jumat, 25 November 2016

Contoh makalah kerajaan Mataram Kuno

Lembar Pengesahan

Makalah ini di sah kan pada tanggal .... Januari 2016







Mengetahui


Ketua Kelompok                          Guru Mapel


Candra Cahya G                           Annisa Kurnia D S.Pd

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga makalah tentang “Kerajaan Mataram Kuno “ dapat kami selesaikan. Adapun makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah Indonesia. Makalah ini disusun berdasarkan sumber – sumber yang relevan.
            Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.  Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,  kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih. Semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat bagi kami maupun bagi pembaca.






                                                                                                Banjar, 16 Januari 2016


                                                                                                            Penulis
DAFTAR ISI
                                                                                                                                    Hal
Lembar Pengesahan    .........................................................................................       1
Kata Pengantar  ...................................................................................................      2
DAFTAR ISI   .....................................................................................................      3
BAB 1
PENDAHULUAN   ............................................................................................      4
A.    Latar Belakang   ......................................................................................       6
B.     Rumusan Masalah   .................................................................................       6
C.     Tujuan   ....................................................................................................      6
BAB 2
ISI
a.       Pengantar Isi   .........................................................................................       8
1.      Letak Kerajaan Mataram Kuno   ..............................................................     9
2.      Bidang Politik Kerajaan Mataram   ..........................................................     10
3.      Kehidupan Sosial Kerajaan Mataram   .....................................................     12
4.      Kehidupan Ekonomi Kerajaan Mataram   ................................................     13
5.      Kehidupan Budaya Kerajaan Mataram   ..................................................     14
6.      Keruntuhan Kerajaan Kerajaan Mataram   ...............................................     14
BAB 3
PENUTUP
A.    Kesimpulan   ..............................................................................................    16
B.     Kritik    .......................................................................................................    18
C.     Saran   ........................................................................................................    18
DAFTAR PUSTAKA   ..........................................................................................   19


BAB 1
Pendahuluan

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan ini sebenarnya mempunyai dua corak agama yang dianut di dalamnya, yaitu Hindu Siwa dan Buddha Mahayana.
          Berdasarkan prasasti Canggal, raja pertama Mataram Kuno adalah Sanna. Kemudian, diteruskan oleh Raja Sanjaya yang berasal dari Dinasti Sanjaya. Setelah Sanjaya, Mataram diperintah oleh Panangkaran. Dari Prasasti Balitung diketahui bahwa Panangkaran bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Raka i Panangkaran.
Hal ini menunjukkan bahwa Rakai Panangkaran berasal dari keluarga Sanjaya dan juga keluarga Syailendra. Sepeninggal Panangkaran, Mataram Kuno terpecah menjadi dua, Mataram bercorak Hindu dan Mataram bercorak Buddha. Wilayah Mataram-Hindu meliputi Jawa Tengah bagian utara, diperintah oleh Dinasti Sanjaya. Sementara wilayah Mataram- Buddha meliputi Jawa Tengah bagian selatan yang diperintah Dinasti Syailendra.
    Perpecahan di Mataram ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 850, RakaiPikatan dari Wangsa Sanjaya mengadakan perkawinan politik dengan Pramodhawardhani dari keluarga Syailendra. Melalui perkawinan ini, Mataram dapat
ipersatukan kembali. Pada masa pemerintahan Pikatan−Pramodhawardani, wilayah Mataram berkembang luas, meliputi Jawa Tengah dan Timur. Pikatan juga berhasil mendirikan Candi Plaosan.
Sepeninggal Pikatan, Mataram diperintah oleh Dyah Balitung (898 −910 M). Setelah Balitung, pemerintahan dipegang berturut−turut oleh Daksa, Tulodong, dan Wawa. Raja Wawa memerintah antara tahun 924−929 M. Ia kemudian digantikan oleh menantunya bernama Mpu Sindok.
    Pada masa pemerintahan Mpu Sindok inilah, pusat pemerintahan Mataram dipindahkan ke Jawa Timur. Hal ini disebabkan semakin besarnya pengaruh Sriwijaya yang diperintah oleh Balaputradewa. Selama abad ke−7 hingga ke−9 terjadi serangan−serangan dari Sriwijaya ke Mataram. Hal ini mengakibatkan Mataramsemakin terdesak ke timur. Selain itu, adanya bencana alam berupa letusan Gunung Merapi merupakan salah satu penyebab kehancuran Mataram. Letusan gunung ini diyakini oleh masyarakat Mataram sebagai tanda kehancuran dunia. Oleh karena itu, mereka menganggap letak kerajaan di Jawa Tengah sudah tidak layak dan harus dipindahkan.
Kemunduran kerajaan Mataram Kuno disebabkan karena kedudukan ibukota kerajaan yang semakin lama semakin lemah dan tidak menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh:
1.             Tidak memiliki pelabuhan laut sehingga sulit berhubungan dengan dunia luar
2.             Sering dilanda bencana alam oleh letusan Gunung Merapi
3.             Mendapat ancaman serangan dari kerajaan Sriwijaya
Oleh karena itu pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur (di bagian hilir Sungai Brantas) oleh Empu Sindok. Pemindahan ibukota ke Jawa Timur ini dianggap sebagai cara yang paling baik. Selain Jawa Timur masih wilayah kekuasaan Mataram Kuno, wilayah ini dianggap lebih strategis. Hal ini mengacu pada letak sungai Brantas yang terkenal subur dan mempunyai akses pelayaran sungai menuju Laut Jawa. Kerajaan itu kemudian dikenal dengan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur atau Kerajaan Medang Kawulan.
Peninggalan kerajaan Mataram Kuno sangatlah banyak. Diantaranya adalah Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur. Selain candi, ditemukan pula oleh Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah. Banyak pula prasasti peninggalan kerajaan Mataram Kuno, seperti prasasti Cangga, Kalasan, Kedu (Metyasih), Klurak, Boko.


1.      Bagaimana kehidupan politik di Kerajaan Mataram Kuno?
2.      Bagaimana kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno?
3.      Bagaimana kehidupan ekonomi di Kerajaan Mataram Kuno?
4.      Bagaimana kehidupan agama di Kerajaan Mataram Kuno?


1.      Memahami kehidupan politik di Kerajaan Mataram Kuno.
2.      Memahami kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno.
3.      Memahami kehidupan ekonomi di Kerajaan Mataram Kuno.
4.      Memahami kehidupan agama di Kerajaan Mataram Kuno.















BAB
2

SEJARAH
KERAJAAN MATARAM KUNO

http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/uploads/1/4/2/9/14296470/6005162_orig.jpg?248
 











Gambar Istana Kerajaan Mataram Kuno






PENGANTAR ISI

          Pada bab 2 ini kita akan membahas mengenai sejarah kerajaan Mataram Kuno,meliputi letak ,bidang politik ,bidang ekonomi ,bidang sosial ,bidang budaya dan keruntuhannya. Sekilas mengenai kerajaan Mataran Kuno, kerajaan Mataram Kuno adalah Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.











Kerajaan Mataram Kuno

1. Letak Kerajaan Mataram Kuno

          Kerajaan Mataram Kuno terletak di wilayah aliran sungai Bogowonto, progo elo dan Begawan Solo,Jawa Tengah bagian selatan dengan intinya yang sering disebut Bumi Mataram. Daerah ini dikelilingi oleh pegunungan dan gunung-gunung, seperti Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi-Merbabu, Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh banyak sungai, seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Itulah sebabnya daerah ini sangat subur.
          Pusat Kerajaan Mataram Kuno pada awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah Mataram (dekat Yogyakarta sekarang). Kemudian pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dipindah ke Mamrati (daerah Kedu). Lalu, pada masa pemerintahan Dyah Balitung sudah pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar Kedu). Kemudian pada zaman Dyah Wawa diperkirakan kembali ke daerah Mataram. Mpu Sindok kemudian memindahkan istana Medang ke wilayah Jawa Timur sekarang.
          Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan antara lain,
·                     Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
·                     Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
·                     Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
·                     Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
·                     Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
·                     Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
·                     Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
          Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan beberapa prasasti yang sudah ditemukan antara lain:
·                     di daerah Yogyakarta sekarang.
·                     di Mamrati dan Poh Pitu
·                     di sekitar Kedu, Jawa Tengah.
·                     di Tamwlang (sekarang Tembelang) di sekitar Jombang, Jawa Timur
·                     di Watugaluh (Megaluh), sekitar Jombang, Jawa Timur.
·                     di Wwatan (Wotan). Letaknya di kawasan Madiun, Jawa Timur.

2. Bidang Politik Kerajaan Mataram Kuno

          Kerajaan Mataram Kuno dikenal sebagai kerajaan yang toleran dalam hal beragama. Sebab, di Kerajaan Mataram Lama berkembang agama Buddha dan Hindu secara berdampingan. Kerajaan ini diperintah oleh dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha. 
          Berdasarkan interpretasi terhadap prasasti-prasasti bahwa kedua dinasti itu saling
bersaing berebut pengaruh dan kadang-kadang memerintah bersama-sama. Asal usul Dinasti Sanjaya tercantum dalam prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan bahwa Sanjaya adalah keponakan Sanna (anak dari Sannaha). Dinasti Syailendra sendiri tercantum dalam prasasti Sojomerto (tidak berangka tahun), isinya menceritakan tentang Dapuntahyang Syailendra.
          Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M), terletak di atas Gunung Wukir, Kecamatan Salam Magelang, diketahui bahwa raja pertama dari Dinasti Sanjaya adalah Sanjaya yang memerintah di ibu kota bernama Medang. Prasasti itu juga menceritakan tentang pendirian sebuah lingga (lambang dewa Syiwa) di atas bukit di wilayah Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya pada tanggal 6 Oktober 732. 
          Disebutkan juga tentang Pulau Jawa yang subur dan banyak menghasilkan gandum atau padi dan kaya akan tambang emas, yang mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Setelah Raja Sanna meninggal, ia digantikan oleh Raja Sanjaya, anak saudara perempuan Raja Sanna. Raja Sanjaya adalah seorang raja yang gagah berani yang telah menaklukkan raja di sekelilingnya dan menjadikan kemakmuran bagi rakyatnya . Menurut Carita Parahyangan (buku sejarah Pasundan), disebutkan Sanna berasal dari Galuh (Ciamis).
          Selain prasasti Canggal, ada juga prasasti Kalasan (778 M) yang terdapat di sebelah timur Yogyakarta. Dalam prasasti itu disebutkan Raja Panangkaran dengan
nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Hal itu menunjukkan bahwa raja-raja
keturunan Sanjaya termasuk keluarga Syailendra.
          Prasasti Kedu ( Prasasti Mantyasih ) berangka tahun 907 M mencantumkan silsilah raja-raja yang memerintah di Kerajaan Mataram. Prasasti Kedu dibuat pada masa Raja Rakai Dyah Balitung. Adapun silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Mataram yaitu sebagai berikut.
1) Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
2) Sri Maharaja Rakai Panangkaran
3) Sri Maharaja Rakai Panunggalan
4) Sri Maharaja Rakai Warak
5) Sri Maharaja Rakai Garung
6) Sri Maharaja Rakai Pikatan
7) Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
8) Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
9) Sri Maharaja Rakai Dyah Balitung.
          Menurut prasasti Kedu dapat diketahui bahwa Raja Sanjaya digantikan oleh Rakai
Panangkaran. Selanjutnya salah seorang keturunan raja Dinasti Syailendra yang bernama Sri Sanggrama Dhananjaya berhasil menggeser kekuasaan Dinasti Sanjaya yang dipimpin Rakai Panangkaran pada tahun 778. Sejak saat itu, Kerajaan Mataram dikuasai sepenuhnya oleh Dinasti Syailendra.
          Tahun 778 sampai dengan tahun 856 sering disebut sebagai pemerintahan selingan. Sebab, antara Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya silih berganti berkuasa. Dinasti Syailendra yang beragama Buddha mengembangkan Kerajaan Mataram Lama yang berpusat di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu mengembangkan kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah bagian Utara.
          Puncak kejayaan Dinasti Sanjaya terjadi pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia mendirikan candi Prambanan dan Loro Jonggrang menurut model candi-candi Syailendra. Masa pemerintahan raja-raja Mataram setelah Dyah Balitung tidak terlalu banyak sumber yang menceritakannya. Yang dapat diketahui adalah nama-nama raja yang memerintah, yakni, Daksa (913-919), Wawa (919-924), Tulodhong (924-929), sampai Mpu Sindok pada tahun 929 M memindahkan ibu kota kerajaan dari Medang ke Daha (Jawa Timur) dan mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isanawangsa.
          Berdasarkan prasasti yang ditemukan Kerajaan Mataram memiliki struktur birokrasi sebagai berikut :
1.      Pusat kerajaan, yaitu daerah ibu kota kerajaan dengan istana Sri Maharaja, tempat tinggal putra raja dan kaum kerabat dekat, para pejabat tinggi kerajaan serta para abdi dalem.
2.      Watak, yaitu daerah yang dikuasi para pejabat kerajaan.
3.      Wanua, yaitu desa-desa yang diperintah oleh para pejabat desa (rama).

3. Kehidupan Sosial Kerajaan Mataram Kuno

          Dalam kehidupan masyarakat Matarm Kuno menunjukkan gejala budaya feodal. Seluruh kekayaan yang berada di tanah kerajaan adalah milik raja dan rakyat wajib membayar upeti kepada raja. Raja dan keluarganya tinggal di wilayah istana. Menurut berita dari Cina, istana Kerajaan Mataram Kuno dikelilingi dinding dari batu dan kayu. Di luar dinding istana terdapat kediaman para pejabat tinggi kerajaan dan keluarganya. Para hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga tinggal di tempat ini. Selanjutnya, di luar dinding kota terdapat perkampungan rakyat yang merupakan kelompok terbesar. Mereka hidup di desa-desa yang disebut Wanua.
          Di antara golongan bangsawan dan rakyat terdapat golongan pedagang asing. Kemungkian besar mereka berasal dari Cina. Raja akan memberikan hadiah kepada siapa saja yang telah berjasa untuk Kerajaan Mataram. Raja akan memberikan tanah kepada mereka untuk dikelola. Pada umumnya tanah tersebut berupa hutan yang kemudian dibuka menjadi sebuah pemukiman baru. Setelah itu orang tersebut akan diangkat menjadi penguasa di tempat yang mereka buka. Ia berkuasa sebagai akuwu (kepala desa), senopati, atau adipati (kepala daerah.
          Kebudayaan masyarakat Mataram Kuno sangat bernilai tinggi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan berupa prasasti dan candi. Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno antara lain prasasti Canggal, prasasti Kelurak, dan prasasti Mantyasih. Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.
          Masyarakat Mataram Kuno terkenal dengan keunggulan seni bangunan candi, baik candi Hindu maupun candi Budha. Candi agama Hindu yang terkenal adalah Candi Prambananyang dibangun oleh Rakai Pikatan. Sedangkan candi Budha yang terkenal adalah Candi Borobudur yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga.

4. Kehidupan Ekonomi

          Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Kuno bertumpu pada sector pertanian. Wilayah Mataram memiliki kondisi yang subur sehingga cocok untuk pertanian. Pengembangan hasil pertanian dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Selanjutnya pada masa Rakai Dyah Balitung, sector perdagangan mulai berkembang. Aktivitas perhubungan dan perdagangan laut dikembangkan melalui Sungai Bengawan Solo. Penduduk di sekitar sungai diperintahkan untuk menjamin kelancaran lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut.
          Lancarnya lalu lintas mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.
          Selain di sekitar Sungai Bengawan Solo, penduduk Mataram melakukan perdagangan di pasar-pasar yang terletak di pusat kota dan desa. Kegiatan ini tidak dilakukan setiap hari, tetapi bergulir menurut penanggalan kalender Jawa Kuno.
          Selain pertanian dan perdagangan , industry rumah tangga berkembang di Kerajaan Mataram Kuno. Hasil industry ini antara lain keranjang anyaman, perkakas, pakaian, gula kelapa, arang, dan kapur sirih. Hasil produksi ini dijual ke pasar.

5.         Kehidupan Budaya

          Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, banyak didirikan candi-candi yang bercorak Hindu dan Buddha. Pernikahannya dengan Pramodhawardhani tidak menyurutkan Rakai Pikatan untuk berpindah agama. Ia tetap memeluk agama Hindu dan permaisurinya beragama Buddha. Pembangunan candi-candi dilakukan dengan bekerja sama. Pramodhawardhani yang bergelar Sri Kahulunan banyak mendirikan candi yang bersifat Buddha, sedangkan suaminya (Rakai Pikatan) banyak mendirikan candi yang bersifat Hindu.
          Dalam bidang kebudayaan, Mataram Kuno banyak menghasilkan karya yang berupa candi. Pada masa pemerintahan Raja Sanjaya, telah dibangun beberapa candi antara lain: Candi Arjuna, Candi Bima dan Candi Nakula. Pada masa Rakai Pikatan, dibangun Candi Prambanan. Candi-candi lain yang dibangun pada masa Mataram Kuno antara lain Candi Borobudur, Candi Gedongsongo, Candi Sambisari, dan Candi Ratu Baka.

6.    Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno

          Peranan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah mundur ketika pusat kekuasaannya pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Ada beberapa pendapat mengenai pemindahan pusat kerajaan ini. Pendapat lama mengatakan bahwa pemindahan pusat kerajaan ini sehubungan dengan adanya bencana alam berupa banjir atau gunung meletus atau adanya wabah penyakit. 
          Namun, pendapat ini tidak dapat dibuktikan sebab tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah. Pendapat lain menyebutkan bahwa rakyat menyingkir ke Jawa Timur akibat adanya paksaan terhadap para penganut Hindu untuk membangun candi Buddha.
Pendapat baru menyebutkan dua faktor berikut, yaitu :

*      Keadaan alam bumi Mataram yang tertutup secara alamiah berakibat negara ini sulit berkembang. Sementara, keadaan alam Jawa Timur lebih terbuka untuk perdagangan luar, tidak ada pegunungan atau gunung yang merintangi, bahkan didukung adanya Sungai Bengawan Solo dan Brantas yang memperlancar lalu lintas dari pedalaman ke pantai. Apalagi, alam Jawa Timur belum banyak diusahakan sehingga tanahnya lebih subur dibandingkan dengan tanah di Jawa Tengah.
*      Dari segi politik, ada kebutuhan untuk mewaspadai ancaman Sriwijaya, terutama karena Sriwijaya pada saat itu dikuasai dinasti Syailendra. Sebagai antisipasinya, pusat kerajaan perlu dijauhkan dari tekanan Sriwijaya. 

          Ketika Sriwijaya sungguh-sungguh menyerang pada pertengahan abad ke-10, Mpu Sindok dapat mematahkannya. Tetapi, serangan Sriwijaya berikutnya dibantu Raja Wurawari pada tahun 1017 menghancurkan Mataram yang saat itu dipimpin Dharmawangsa. Kerajaan Mataram yang kedua berdiri kembali di Jawa Tengah pada abad ke-16, kali ini telah beragama Islam.












BAB 3
Penutup
a. Kesimpulan

          Kerajaan Mataram Kuno merupakan kerajaan Hindu-Budha yang ada di Jawa Tengah. Kerajaan yang beribu kota di Medang Kamulan ini berdiri pada abad ke-8 M. Kerajaan Mataram Kuno terdapat 3 Wangsa (dinasti) yang pernah berkuasa, yakni Wangsa Sanjaya, Syailendra, dan Isana. Wangsa Sanjaya sendiri pemeluk agama Hindu beraliran Syiwa, Syailendra pengikut Budha, dan Isana wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sendok.
          Berdasarkan Prasasti Canggal (732), raja pertama yang berkuasa di Kerajaan Mataram yakni Raja Sanna yang kemudian digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya tidak lain adalah keponakan Raja Sanna, yakni putra dari Sannaha (saudara perempuan Raja Sanna). Hal ini karena Raja Sanna tidak memiliki keturunan sebagai penggantinya.
          Pada masa pemerintahan Sanjaya (717-746 M), Kerajaan Mataram menganut agama Hindu. Raja Sanjaya memimpin sangat bijaksana sehingga rakyatnya hidup makmur, aman, dan tentram. Hal ini sesuai dengan prasasti Canggal yang menyebutkan bahwa tanah Jawa kaya akan emas dan padi.
          Setelah meninggalnya Sanjaya, Mataram dipimpin oleh Panangkaran atau Syailendra (746-784 M) yang menganut agama Budha beraliran Mahayana. Pada saat itu, agama Hindu dan Budha berkembang bersama di Mataram Kuno. Penganut agama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian utara, sedangkan pengikut agama Budha berada dibagian selatan. Kemudian Syailendra digantikan oleh Rakai Pikatan.
          Pada tahun 850, Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya menikah dengan Pramodhawardhani dari keluarga Syailendra. Hal ini menyebabkan Wangsa Sanjaya kembali memerintah Mataran Kuno dan berhasil menyingkirkan Wangsa Syailendra. Oleh karena itu, pada masa Rakai Pikatan, Mataram Kuno berhasil disatukan kembali. Wilayah Mataram berkembang mencapai Jawa Tengan dan Jawa Timur.
          Sepeninggal Pikatan, Mataram dikuasai oleh Dyah Balitung (898-910 M). Setelah itu, Mataram diperintah secara berturut-turut oleh Raja Daksa, Raja Tulodung, dan Raja Wawa (924-919) yang kemudian digantikan oleh menantunya, Mpu Sindok.
          Pada masa Mpu Sindok (929-949), pusat pemerintahan Mataram dipindah ke Jawa Timur karena di Jawa Tengah terdapat letusan Gunung Merapi yang mengakibatkan Kerajaan Mataram hancur. Akhirnya Mpu Sindok mendirikan dinasti baru bernama Isyana.
          Setelah Mpu Sindok, Mataram dipegang oleh Dharmawangsa (cicit Mpu Sindok) yang berkuasa pada tahun 990-1016 M. Pada masa ini, Mataram Kuno diserang oleh Sriwijaya atas dasar balas dendam Sriwijaya sejak Mataram dipegang oleh Rakai Pikatan. Akhirnya pada tahun 1016, Dharmawangsa meninggal ditangan Sriwijaya. Berakhirlah Kerajaan Mataram Kuno.
















b. Kritik
     ..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
c.  Saran
..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................







Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar