Lembar
Pengesahan
Makalah ini di sah kan pada tanggal .... Januari
2016
Mengetahui
Candra Cahya G Annisa
Kurnia D S.Pd
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga
makalah tentang “Kerajaan Mataram Kuno “ dapat kami selesaikan. Adapun makalah
ini kami buat untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah Indonesia. Makalah
ini disusun berdasarkan sumber – sumber yang relevan.
Kami ucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya. Kami menyadari makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini.
Akhir
kata kami ucapkan terimakasih. Semoga makalah ini dapat memberikan informasi
dan bermanfaat bagi kami maupun bagi pembaca.
Banjar,
16 Januari 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
Hal
Lembar Pengesahan ......................................................................................... 1
Kata Pengantar
................................................................................................... 2
DAFTAR ISI
..................................................................................................... 3
BAB 1
PENDAHULUAN ............................................................................................ 4
A.
Latar Belakang
...................................................................................... 6
B.
Rumusan Masalah
................................................................................. 6
C.
Tujuan
.................................................................................................... 6
BAB 2
ISI
a. Pengantar
Isi ......................................................................................... 8
1. Letak
Kerajaan Mataram Kuno
.............................................................. 9
2. Bidang
Politik Kerajaan Mataram
.......................................................... 10
3. Kehidupan
Sosial Kerajaan Mataram
..................................................... 12
4. Kehidupan
Ekonomi Kerajaan Mataram
................................................ 13
5. Kehidupan
Budaya Kerajaan Mataram .................................................. 14
6. Keruntuhan
Kerajaan Kerajaan Mataram
............................................... 14
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
.............................................................................................. 16
B.
Kritik ....................................................................................................... 18
C.
Saran
........................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA
.......................................................................................... 19
BAB 1
Pendahuluan
Kerajaan
Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya,
kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat
Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan ini sebenarnya mempunyai
dua corak agama yang dianut di dalamnya, yaitu Hindu Siwa dan Buddha Mahayana.
Berdasarkan
prasasti Canggal, raja pertama Mataram Kuno adalah Sanna. Kemudian, diteruskan
oleh Raja Sanjaya yang berasal dari Dinasti Sanjaya. Setelah Sanjaya, Mataram
diperintah oleh Panangkaran. Dari Prasasti Balitung diketahui bahwa Panangkaran
bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Raka i Panangkaran.
Hal ini menunjukkan bahwa Rakai
Panangkaran berasal dari keluarga Sanjaya dan juga keluarga Syailendra.
Sepeninggal Panangkaran, Mataram Kuno terpecah menjadi dua, Mataram bercorak
Hindu dan Mataram bercorak Buddha. Wilayah Mataram-Hindu meliputi Jawa Tengah
bagian utara, diperintah oleh Dinasti Sanjaya. Sementara wilayah Mataram-
Buddha meliputi Jawa Tengah bagian selatan yang diperintah Dinasti Syailendra.
Perpecahan di Mataram ini tidak berlangsung
lama. Pada tahun 850, RakaiPikatan dari Wangsa Sanjaya mengadakan perkawinan
politik dengan Pramodhawardhani dari keluarga Syailendra. Melalui perkawinan
ini, Mataram dapat
ipersatukan kembali. Pada masa
pemerintahan Pikatan−Pramodhawardani, wilayah Mataram berkembang luas, meliputi
Jawa Tengah dan Timur. Pikatan juga berhasil mendirikan Candi Plaosan.
Sepeninggal
Pikatan, Mataram diperintah oleh Dyah Balitung (898 −910 M). Setelah Balitung,
pemerintahan dipegang berturut−turut oleh Daksa, Tulodong, dan Wawa. Raja Wawa
memerintah antara tahun 924−929 M. Ia kemudian digantikan oleh menantunya
bernama Mpu Sindok.
Pada masa pemerintahan Mpu Sindok inilah,
pusat pemerintahan Mataram dipindahkan ke Jawa Timur. Hal ini disebabkan
semakin besarnya pengaruh Sriwijaya yang diperintah oleh Balaputradewa. Selama
abad ke−7 hingga ke−9 terjadi serangan−serangan dari Sriwijaya ke Mataram. Hal
ini mengakibatkan Mataramsemakin terdesak ke timur. Selain itu, adanya bencana
alam berupa letusan Gunung Merapi merupakan salah satu penyebab kehancuran
Mataram. Letusan gunung ini diyakini oleh masyarakat Mataram sebagai tanda
kehancuran dunia. Oleh karena itu, mereka menganggap letak kerajaan di Jawa
Tengah sudah tidak layak dan harus dipindahkan.
Kemunduran
kerajaan Mataram Kuno disebabkan karena kedudukan ibukota kerajaan yang semakin
lama semakin lemah dan tidak menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh:
1.
Tidak memiliki pelabuhan laut sehingga sulit
berhubungan dengan dunia luar
2.
Sering dilanda bencana alam oleh letusan Gunung Merapi
3.
Mendapat ancaman serangan dari kerajaan Sriwijaya
Oleh karena
itu pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur (di bagian
hilir Sungai Brantas) oleh Empu Sindok. Pemindahan ibukota ke Jawa Timur ini
dianggap sebagai cara yang paling baik. Selain Jawa Timur masih wilayah
kekuasaan Mataram Kuno, wilayah ini dianggap lebih strategis. Hal ini mengacu
pada letak sungai Brantas yang terkenal subur dan mempunyai akses pelayaran
sungai menuju Laut Jawa. Kerajaan itu kemudian dikenal dengan Kerajaan Mataram
Kuno di Jawa Timur atau Kerajaan Medang Kawulan.
Peninggalan
kerajaan Mataram Kuno sangatlah banyak. Diantaranya adalah Candi Kalasan, Candi
Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi
Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong,
Candi Sojiwan, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur.
Selain candi, ditemukan pula oleh Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan
tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah. Banyak pula prasasti peninggalan
kerajaan Mataram Kuno, seperti prasasti Cangga, Kalasan, Kedu (Metyasih),
Klurak, Boko.
1. Bagaimana
kehidupan politik di Kerajaan Mataram Kuno?
2. Bagaimana
kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno?
3. Bagaimana kehidupan
ekonomi di Kerajaan Mataram Kuno?
4. Bagaimana
kehidupan agama di Kerajaan Mataram Kuno?
1. Memahami
kehidupan politik di Kerajaan Mataram Kuno.
2. Memahami
kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno.
3. Memahami
kehidupan ekonomi di Kerajaan Mataram Kuno.
4. Memahami
kehidupan agama di Kerajaan Mataram Kuno.
|
BAB
2
|
|
|
SEJARAH
KERAJAAN MATARAM KUNO
|
![]() |
Gambar Istana Kerajaan
Mataram Kuno
PENGANTAR
ISI
Pada bab 2 ini kita akan membahas mengenai sejarah kerajaan
Mataram Kuno,meliputi letak ,bidang politik ,bidang ekonomi ,bidang sosial
,bidang budaya dan keruntuhannya. Sekilas mengenai kerajaan Mataran Kuno,
kerajaan Mataram Kuno adalah Kerajaan
Medang (atau sering juga disebut Kerajaan
Mataram Kuno atau Kerajaan
Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa
Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa
Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak
meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa
Tengah dan Jawa
Timur, serta membangun banyak candi
baik yang bercorak Hindu
maupun Buddha.
Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.
Kerajaan
Mataram Kuno
1. Letak Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan
Mataram Kuno terletak di wilayah aliran sungai Bogowonto, progo elo dan Begawan
Solo,Jawa Tengah bagian selatan dengan intinya yang sering disebut Bumi
Mataram. Daerah ini dikelilingi oleh pegunungan dan gunung-gunung, seperti
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi-Merbabu,
Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh banyak sungai,
seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo.
Itulah sebabnya daerah ini sangat subur.
Pusat
Kerajaan Mataram Kuno pada awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah
Mataram (dekat Yogyakarta sekarang). Kemudian pada masa pemerintahan Rakai
Pikatan dipindah ke Mamrati (daerah Kedu). Lalu, pada masa pemerintahan Dyah
Balitung sudah pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar Kedu). Kemudian pada
zaman Dyah Wawa diperkirakan kembali ke daerah Mataram. Mpu Sindok kemudian
memindahkan istana Medang ke wilayah Jawa Timur sekarang.
Beberapa
daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti
yang sudah ditemukan antara lain,
·
Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
·
Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
·
Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
·
Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
·
Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
·
Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
·
Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
Beberapa
daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan beberapa prasasti
yang sudah ditemukan antara lain:
·
di daerah Yogyakarta sekarang.
·
di Mamrati dan Poh Pitu
·
di sekitar Kedu, Jawa Tengah.
·
di Tamwlang (sekarang Tembelang) di sekitar Jombang,
Jawa Timur
·
di Watugaluh (Megaluh), sekitar Jombang, Jawa Timur.
·
di Wwatan (Wotan). Letaknya di kawasan Madiun, Jawa
Timur.
2. Bidang Politik Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan
Mataram Kuno dikenal sebagai kerajaan yang toleran dalam hal beragama. Sebab,
di Kerajaan Mataram Lama berkembang agama Buddha dan Hindu secara berdampingan.
Kerajaan ini diperintah oleh dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama
Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha.
Berdasarkan
interpretasi terhadap prasasti-prasasti bahwa kedua dinasti itu saling
bersaing berebut pengaruh dan
kadang-kadang memerintah bersama-sama. Asal usul Dinasti Sanjaya tercantum
dalam prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan bahwa Sanjaya adalah keponakan
Sanna (anak dari Sannaha). Dinasti Syailendra sendiri tercantum dalam prasasti
Sojomerto (tidak berangka tahun), isinya menceritakan tentang Dapuntahyang
Syailendra.
Berdasarkan
Prasasti Canggal (732 M), terletak di atas Gunung Wukir, Kecamatan Salam
Magelang, diketahui bahwa raja pertama dari Dinasti Sanjaya adalah Sanjaya yang
memerintah di ibu kota bernama Medang. Prasasti itu juga menceritakan tentang
pendirian sebuah lingga (lambang dewa Syiwa) di atas bukit di wilayah
Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya pada tanggal 6 Oktober 732.
Disebutkan
juga tentang Pulau Jawa yang subur dan banyak menghasilkan gandum atau padi dan
kaya akan tambang emas, yang mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Setelah
Raja Sanna meninggal, ia digantikan oleh Raja Sanjaya, anak saudara perempuan
Raja Sanna. Raja Sanjaya adalah seorang raja yang gagah berani yang telah
menaklukkan raja di sekelilingnya dan menjadikan kemakmuran bagi rakyatnya .
Menurut Carita Parahyangan (buku sejarah Pasundan), disebutkan Sanna berasal
dari Galuh (Ciamis).
Selain
prasasti Canggal, ada juga prasasti Kalasan (778 M) yang terdapat di sebelah
timur Yogyakarta. Dalam prasasti itu disebutkan Raja Panangkaran dengan
nama Syailendra Sri Maharaja Dyah
Pancapana Rakai Panangkaran. Hal itu menunjukkan bahwa raja-raja
keturunan Sanjaya termasuk keluarga
Syailendra.
Prasasti
Kedu ( Prasasti Mantyasih ) berangka tahun 907 M mencantumkan silsilah raja-raja
yang memerintah di Kerajaan Mataram. Prasasti Kedu dibuat pada masa Raja Rakai
Dyah Balitung. Adapun silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Mataram
yaitu sebagai berikut.
1) Rakai
Mataram Sang Ratu Sanjaya
2) Sri Maharaja
Rakai Panangkaran
3) Sri Maharaja
Rakai Panunggalan
4) Sri Maharaja
Rakai Warak
5) Sri Maharaja
Rakai Garung
6) Sri Maharaja
Rakai Pikatan
7) Sri Maharaja
Rakai Kayuwangi
8) Sri Maharaja
Rakai Watuhumalang
9) Sri Maharaja
Rakai Dyah Balitung.
Menurut
prasasti Kedu dapat diketahui bahwa Raja Sanjaya digantikan oleh Rakai
Panangkaran. Selanjutnya salah
seorang keturunan raja Dinasti Syailendra yang bernama Sri Sanggrama Dhananjaya
berhasil menggeser kekuasaan Dinasti Sanjaya yang dipimpin Rakai Panangkaran
pada tahun 778. Sejak saat itu, Kerajaan Mataram dikuasai sepenuhnya oleh
Dinasti Syailendra.
Tahun
778 sampai dengan tahun 856 sering disebut sebagai pemerintahan selingan.
Sebab, antara Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya silih berganti berkuasa.
Dinasti Syailendra yang beragama Buddha mengembangkan Kerajaan Mataram Lama
yang berpusat di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan Dinasti Sanjaya yang
beragama Hindu mengembangkan kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah bagian
Utara.
Puncak
kejayaan Dinasti Sanjaya terjadi pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung yang
menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia mendirikan candi Prambanan dan Loro
Jonggrang menurut model candi-candi Syailendra. Masa pemerintahan raja-raja
Mataram setelah Dyah Balitung tidak terlalu banyak sumber yang menceritakannya.
Yang dapat diketahui adalah nama-nama raja yang memerintah, yakni, Daksa
(913-919), Wawa (919-924), Tulodhong (924-929), sampai Mpu Sindok pada tahun
929 M memindahkan ibu kota kerajaan dari Medang ke Daha (Jawa Timur) dan
mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isanawangsa.
Berdasarkan prasasti yang ditemukan
Kerajaan Mataram memiliki struktur birokrasi sebagai berikut :
1.
Pusat kerajaan, yaitu daerah ibu kota kerajaan dengan
istana Sri Maharaja, tempat tinggal putra raja dan kaum kerabat dekat, para
pejabat tinggi kerajaan serta para abdi dalem.
2.
Watak, yaitu daerah yang dikuasi para pejabat
kerajaan.
3.
Wanua, yaitu desa-desa yang diperintah oleh para
pejabat desa (rama).
3.
Kehidupan Sosial Kerajaan Mataram Kuno
Dalam kehidupan masyarakat
Matarm Kuno menunjukkan gejala budaya feodal. Seluruh kekayaan yang berada di
tanah kerajaan adalah milik raja dan rakyat wajib membayar upeti kepada raja.
Raja dan keluarganya tinggal di wilayah istana. Menurut berita dari Cina,
istana Kerajaan Mataram Kuno dikelilingi dinding dari batu dan kayu. Di luar
dinding istana terdapat kediaman para pejabat tinggi kerajaan dan keluarganya.
Para hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga tinggal di tempat ini.
Selanjutnya, di luar dinding kota terdapat perkampungan rakyat yang merupakan
kelompok terbesar. Mereka hidup di desa-desa yang disebut Wanua.
Di antara golongan bangsawan
dan rakyat terdapat golongan pedagang asing. Kemungkian besar mereka berasal
dari Cina. Raja akan memberikan hadiah kepada siapa saja yang telah berjasa
untuk Kerajaan Mataram. Raja akan memberikan tanah kepada mereka untuk
dikelola. Pada umumnya tanah tersebut berupa hutan yang kemudian dibuka menjadi
sebuah pemukiman baru. Setelah itu orang tersebut akan diangkat menjadi
penguasa di tempat yang mereka buka. Ia berkuasa sebagai akuwu (kepala desa),
senopati, atau adipati (kepala daerah.
Kebudayaan masyarakat
Mataram Kuno sangat bernilai tinggi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya
peninggalan berupa prasasti dan candi. Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram
Kuno antara lain prasasti Canggal, prasasti Kelurak, dan prasasti Mantyasih.
Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.
Masyarakat Mataram Kuno terkenal
dengan keunggulan seni bangunan candi, baik candi Hindu maupun candi Budha.
Candi agama Hindu yang terkenal adalah Candi Prambananyang dibangun oleh Rakai
Pikatan. Sedangkan candi Budha yang terkenal adalah Candi Borobudur yang
dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga.
4. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Kuno bertumpu pada sector pertanian.
Wilayah Mataram memiliki kondisi yang subur sehingga cocok untuk pertanian.
Pengembangan hasil pertanian dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi.
Selanjutnya pada masa Rakai Dyah Balitung, sector perdagangan mulai berkembang.
Aktivitas perhubungan dan perdagangan laut dikembangkan melalui Sungai Bengawan
Solo. Penduduk di sekitar sungai diperintahkan untuk menjamin kelancaran lalu
lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut.
Lancarnya lalu lintas mampu
meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.
Selain di sekitar Sungai
Bengawan Solo, penduduk Mataram melakukan perdagangan di pasar-pasar yang
terletak di pusat kota dan desa. Kegiatan ini tidak dilakukan setiap hari,
tetapi bergulir menurut penanggalan kalender Jawa Kuno.
Selain pertanian dan
perdagangan , industry rumah tangga berkembang di Kerajaan Mataram Kuno. Hasil
industry ini antara lain keranjang anyaman, perkakas, pakaian, gula kelapa,
arang, dan kapur sirih. Hasil produksi ini dijual ke pasar.
5.
Kehidupan
Budaya
Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan,
banyak didirikan candi-candi yang bercorak Hindu dan Buddha. Pernikahannya
dengan Pramodhawardhani tidak menyurutkan Rakai Pikatan untuk berpindah agama.
Ia tetap memeluk agama Hindu dan permaisurinya beragama Buddha. Pembangunan
candi-candi dilakukan dengan bekerja sama. Pramodhawardhani yang bergelar Sri
Kahulunan banyak mendirikan candi yang bersifat Buddha, sedangkan suaminya
(Rakai Pikatan) banyak mendirikan candi yang bersifat Hindu.
Dalam bidang kebudayaan, Mataram Kuno
banyak menghasilkan karya yang berupa candi. Pada masa pemerintahan Raja
Sanjaya, telah dibangun beberapa candi antara lain: Candi Arjuna, Candi Bima
dan Candi Nakula. Pada masa Rakai Pikatan, dibangun Candi Prambanan.
Candi-candi lain yang dibangun pada masa Mataram Kuno antara lain Candi
Borobudur, Candi Gedongsongo, Candi Sambisari, dan Candi Ratu Baka.
6.
Keruntuhan
Kerajaan Mataram Kuno
Peranan
Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah mundur ketika pusat kekuasaannya pindah
dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Ada beberapa pendapat mengenai pemindahan pusat
kerajaan ini. Pendapat lama mengatakan bahwa pemindahan pusat kerajaan ini
sehubungan dengan adanya bencana alam berupa banjir atau gunung meletus atau
adanya wabah penyakit.
Namun,
pendapat ini tidak dapat dibuktikan sebab tidak didukung oleh bukti-bukti
sejarah. Pendapat lain menyebutkan bahwa rakyat menyingkir ke Jawa Timur akibat
adanya paksaan terhadap para penganut Hindu untuk membangun candi Buddha.
Pendapat baru menyebutkan dua faktor
berikut, yaitu :
Ketika
Sriwijaya sungguh-sungguh menyerang pada pertengahan abad ke-10, Mpu Sindok
dapat mematahkannya. Tetapi, serangan Sriwijaya berikutnya dibantu Raja
Wurawari pada tahun 1017 menghancurkan Mataram yang saat itu dipimpin
Dharmawangsa. Kerajaan Mataram yang kedua berdiri kembali di Jawa Tengah pada
abad ke-16, kali ini telah beragama Islam.
BAB 3
Penutup
a. Kesimpulan
Kerajaan
Mataram Kuno merupakan kerajaan Hindu-Budha yang ada di Jawa Tengah. Kerajaan
yang beribu kota di Medang Kamulan ini berdiri pada abad ke-8 M. Kerajaan
Mataram Kuno terdapat 3 Wangsa (dinasti) yang pernah berkuasa, yakni Wangsa
Sanjaya, Syailendra, dan Isana. Wangsa Sanjaya sendiri pemeluk agama Hindu
beraliran Syiwa, Syailendra pengikut Budha, dan Isana wangsa baru yang
didirikan oleh Mpu Sendok.
Berdasarkan
Prasasti Canggal (732), raja pertama yang berkuasa di Kerajaan Mataram yakni
Raja Sanna yang kemudian digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya tidak lain
adalah keponakan Raja Sanna, yakni putra dari Sannaha (saudara perempuan Raja
Sanna). Hal ini karena Raja Sanna tidak memiliki keturunan sebagai
penggantinya.
Pada
masa pemerintahan Sanjaya (717-746 M), Kerajaan Mataram menganut agama Hindu.
Raja Sanjaya memimpin sangat bijaksana sehingga rakyatnya hidup makmur, aman,
dan tentram. Hal ini sesuai dengan prasasti Canggal yang menyebutkan bahwa
tanah Jawa kaya akan emas dan padi.
Setelah
meninggalnya Sanjaya, Mataram dipimpin oleh Panangkaran atau Syailendra (746-784
M) yang menganut agama Budha beraliran Mahayana. Pada saat itu, agama Hindu dan
Budha berkembang bersama di Mataram Kuno. Penganut agama Hindu tinggal di Jawa
Tengah bagian utara, sedangkan pengikut agama Budha berada dibagian selatan.
Kemudian Syailendra digantikan oleh Rakai Pikatan.
Pada
tahun 850, Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya menikah dengan Pramodhawardhani
dari keluarga Syailendra. Hal ini menyebabkan Wangsa Sanjaya kembali memerintah
Mataran Kuno dan berhasil menyingkirkan Wangsa Syailendra. Oleh karena itu,
pada masa Rakai Pikatan, Mataram Kuno berhasil disatukan kembali. Wilayah
Mataram berkembang mencapai Jawa Tengan dan Jawa Timur.
Sepeninggal
Pikatan, Mataram dikuasai oleh Dyah Balitung (898-910 M). Setelah itu, Mataram
diperintah secara berturut-turut oleh Raja Daksa, Raja Tulodung, dan Raja Wawa
(924-919) yang kemudian digantikan oleh menantunya, Mpu Sindok.
Pada
masa Mpu Sindok (929-949), pusat pemerintahan Mataram dipindah ke Jawa Timur
karena di Jawa Tengah terdapat letusan Gunung Merapi yang mengakibatkan
Kerajaan Mataram hancur. Akhirnya Mpu Sindok mendirikan dinasti baru bernama
Isyana.
Setelah
Mpu Sindok, Mataram dipegang oleh Dharmawangsa (cicit Mpu Sindok) yang berkuasa
pada tahun 990-1016 M. Pada masa ini, Mataram Kuno diserang oleh Sriwijaya atas
dasar balas dendam Sriwijaya sejak Mataram dipegang oleh Rakai Pikatan.
Akhirnya pada tahun 1016, Dharmawangsa meninggal ditangan Sriwijaya.
Berakhirlah Kerajaan Mataram Kuno.
b. Kritik
..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
c. Saran
..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar