Kerajaan Tarumanegara berdiri pada
taahun 450 Masehi dengan raja yang memerintah Purnawarman. Kerajaan
Tarumanegara adalah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah yang sekarang
menjadi Provinsi Banten, Jawa Barat dan Jakarta. Kerajaan ini berdiri kira-kira
pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M, dan beribu kota di Jayasinghapura. Kerajaan
Tarumanegara adalah kelanjutan dari kerajaan Salakanagara, dan merupakan salah
satu kerajaan tertua yang ada di Indonesia.
Salakanagara, adalah salah satu
kerajaan kuno yang pernah ada di Indonesia. Bahkan, banyak orang percaya bahwa
Salakanagara merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara. Salakanagara
kemudian menjadi kerajaan besar yang beribukota di Rajatapura. Rajatapura ini
menjadi pusat pemerintahan raja-raja Dewawarman (I-VIII) hingga tahun 362. Raja
Dewawarman VIII memiliki seorang menantu bernama Jayasingawarman. Ia adalah
seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Salakanagara
karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan
Maurya. Jayasingawarman inilah yang kemudian mendirikan kerajaan baru bernama
Tarumanegara. Setelah Kerajaan Tarumanegara berdiri, pusat pemerintahan beralih
dari Rajatapura ke Tarumanegara. Dan Salakanagara hanya menjadi sebuah Kerajaan
Daerah.
Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara
dapat diketahui dari 7 buah prasasti batu yang ditemukan. Lima ditemukan di
Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Ketujuh prasasti tersebut
adalah :
1. Prasasti Kebon Kopi, Bogor
2. Prasasti Tugu, Jakarta
3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, Banten
4. Prasasti Ciauteun, Bogor
5. Prasasti Muara Cianten, Bogor
6. Prasasti Jambu, Bogor
7. Prasasti Pasir Awi, Bogor
Dari prasasti-prasasti itu, diketahui
bahwa kerajaan Tarumanegara dibangun oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada
tahun 358 M. Jayasingawarman kemudian memerintah sampai tahun 382 M. Setelah
meninggal, Jayasingawarman dimakamkan di sekitar sungai Gomatri (wilayah
Bekasi).
Selain prasasti, bukti lain keberadaan
kerajaan Tarumanegara adalah adanya berita dari China. Orang-orang China
mengatakan bahwa kerajaan Tarumanegara beberapa kali mengirim utusan ke negeri
China pada masa Dinasti Sui dan Dinasti Tang. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan
Tarumanegara di akui oleh kekaisaran China, dan hubungan baik telah terjamin di
antara keduanya.
Kerajaan Tarumanegara diperkirakan
berkembang antara tahun 400-600 M. berdasarkan prasasti, diketahui raja yang
memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Pada saat itu, wilayah kekuasaan
Kerajaan Tarumanegara menurut prasasti Tugu meliputi hampir seluruh Jawa Barat
yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor, dan Cirebon. Raja Purnawarman
sendiri terkenal sebagai seorang raja yang arif dan bijaksana. Salah satu
bentuk kearifannya adalah ketika pada tahun ke-22 pemerintahannya, atau
tepatnya pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati sepanjang
6112 tombak (sekitar 11 km) yang dikerjakan dalam waktu 21 hari. Penggalian
Sungai Gomati tersebut untuk menghindari bencana alam berupa banjir di aliran
Sungai Chandrabhaga yang sering terjadi pada masa pemerintahannya, sekaligus
untuk mengatasi kekeringan yang terjadi pada musim kemarau. Usaha ini
membuktikan bahwa Purnawarman penuh perhatian kepada rakyatnya. Penggalian
sungai tersebut dilakukan oleh rakyat secara bergotong-royong dan tanpa
paksaan. Pada akhir penggalian, Raja Purnawarman kemudian memberikan hadiah
seratus ekor lembu kepada para Brahmana.
2.2 Kehidupan Kerajaan Tarumanega
Kehidupan pada masa Kerjaan
Tarumanegara terdiri dari beberapa bagian yaitu :
2.2.1 Kehidupan Politik
Raja Purnawarman adalah raja besar yang
telah berhasil meningkatkan kehidupan rakyatnya. Hal ini dibuktikan dari
prasasti Tugu yang menyatakan raja Purnawaman telah memerintah untuk menggali
sebuah kali. Penggalian sebuah kali ini sangat besar artinya, karena pembuatan
kali ini merupakan saluran irigasi untuk memperlancar pengairan sawah–sawah
pertanian rakyat.
2.2.2 Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial kerajaan Tarumanegara
sudah teratur rapi, hal ini terlihat dari upaya raja Purnawarman yang terus berusaha
untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyatnya. Raja Purnawarman juga
sangat memperhatikan kedudukan kaum Brahmana yang dianggap penting dalam
melaksanakan setiap upacara korban yang dilaksanakan di kerajaan sebagai tanda
penghormatan kepada para dewa. Lapisan
masyarakat Tarumanegara di duga terdiri dari :
a. Keluarga raja dan kaum bangsawan (pangeran) yang
memerintah kerajaan.
b. Kaum Brahmana yang memimpin upacara agama dan
mengembangkan agama Hindu.
c. Rakyat yang terdiri dari pemburu, pedagang, petani,
pelayar, penambang, peternak .
d. Budak-budak.
2.2.2 Kehidupan Ekonomi
Prasasti Tugu menyatakan bahwa raja
Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6122
tombak. Pembangunan terusan ini mempunyai arti ekonomis yang besar bagi
masyarakat, karena dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mencegah banjir
serta sarana lalu lintas pelayaran perdagangan antar daerah di kerajaan
Tarumanegara dengan dunia luar, juga perdagangan daerah disekitarnya.
Akibatnya, kehidupan perekonimian masyarakat kerajaan Tarumanegara sudah
teratur. Mata pencaharian rakyat Tarumanegara di
perkirakan :
1. Perburuan disimpulkan dari adanya perdagangan cula
badak dan gading gajah dengan cina.
2. Pertambangan disimpulkan dari banyaknya perdagangan
emas dan perak.
3. Perikanan disimpulkan dari adanya perdagangan penyu,
disamping menangkap penyu juga
menangkap ikan.
4. Pertanian disimpulkan dari penggalian kali untuk
mengairi sawah–sawah.
5. Perdagangan di simpulkan dari adanya hubungan
dagang dengan cina.
6. Pelayaran disimpulkan dari pengiriman utusan ke cina.
7. Peternakan di simpulkan dari hadiah 1.000 ekor sapi
dari Purnawarman
2.2.3 Kehidupan Budaya
Dilihat dari teknik dan cara penulisan
huruf–huruf dari prasasti–prasasti yang ditemukan sebagai titik kebesaran
kerajaan Tarumanegara, dapat diketahui dapat tingkat kebudayaaan masyarakat
pada masa itu sudah tinggi. Selain sebagai peninggalan budaya, keberadaan
prasasti–prasasti tersebut menunjukkan telah berkembangnya kebudayaan tulis
menulis di kerajaan Tarumanegara.
2.3 Silsilah Raja-Raja
Tarumanegara
Berikut adalah
raja-raja Tarumanagara:
a. Jayasingawarman (358 - 382)
Jayasingawarman
pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang
Maharesi dari SALANKAYANA di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya
diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada. Setelah
Jayasingawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari
Rajatapura ke Tarumanegara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan
Daerah. Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati (Bekasi).
b. Dharmayawarman (382 - 395 M)
Dipusarakan di tepi
kali Candrabaga.
c. Purnawarman (395 - 434 M)
Ia membangun ibukota
kerajaan baru dalam tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai dan
dinamainya "Sundapura". Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja
Purnawarman dalam tahun 397 M untuk menyebut ibukota kerajaan yang
didirikannya. Pustaka Nusantara,parwa II sarga 3 (halaman 159 - 162)
menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang
membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang)
sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga) di Jawa Tengah. Secara tradisional
Ci Pamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa
Barat pada masa silam.
d. Wisnuwarman (434-455)
e. Indrawarman (455-515)
f. Candrawarman (515-535 M)
g. Suryawarman (535 - 561 M)
Suryawarman tidak
hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih
banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga
mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M,
misalnya. Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru
di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Sedangkan
putera Manikmaya, tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian
menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur
menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam
tahun 612 M.
h. Kertawarman (561-628)
i. Sudhawarman (628-639)
j. Hariwangsawarman (639-640)
k. Nagajayawarman (640-666
l. Linggawarman (666-669)
Tarumanagara sendiri
hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Dalam tahun 669,
Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa.
Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung
bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan yang kedua
bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri
Kerajaan Sriwijaya.
m. Tarusbawa (669 – 723 M)
Tarusbawa yang berasal
dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa
Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat
menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan
di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara
menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan olehWretikandayun, cicit
Manikmaya, untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Tarusbawa. Karena
Putera Mahkota Galuh (SENA or SANNA) berjodoh dengan Sanaha puteri Maharani
Sima dari Kerajaan Kalingga, Jepara, Jawa Tengah, maka dengan dukungan
Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan
Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang
saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan
Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan
Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas.
2.4 Wilayah Kekusaan
Dari sumber–sumber di atas dapat di simpulkan bahwa
Tarumanegara terletak di jawa Barat. Pusatnya belum dapat di pastikan, namun
para ahli menduga kali Chandabagha adalah kali Bekasi, kira–kira anatar sungai
Citarum dan sungai Cisadane. Adapun wilayah kekuasaan kerajaan Tarumanegara
meliputi daerah Banten, Jakarta, sampai perbatasan Cirebon.
2.5 Prasasti-Prasasti
|
No
|
Prasasti
|
Informasi
|
|
1.
|
Prasasti Ciaruteun
|
Terdapat gambar dua telapak kaki
dengan tulisan huruf Palawa dan bahasa Sanskerta: Inilah dua kaki yang
seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki yang mulia Sang Purnawarman di negeri Taruma,
raja yang gagah berani di dunia.
|
|
2.
|
Prasasti Kebon Kopi
|
Terdapat gambar dua kaki gajah.
Isinya: 'Inilah dua telapak kaki gajah yang seperti Airawata, gajah penguasa
negeri Taruma yang gagah perkasa.' Tapak kaki dipuja merupakan ajaran Hindu
Vaisnawa: raja dianggap keturunan Dewa.
|
|
3.
|
Prasasti Jambu
|
Terdapat gambar sepasang kaki dengan
tulisan 'gagah mengagumkan dan jujur terhadap tugas adalah pemimpin manusia
yang tiada taranya yang termasyur Sri Purnawarman yang memerintah di Taruma
dan baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Inilah
sepasang kakinya, yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat
kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuhnya.
|
|
4.
|
Prasasti Tugu
|
Terdapat di dekat Tanjung Priok,
Jakarta Utara. Isinya: Dahulu sebuah sungai yang bernama Candrabhaga, yang
digali oleh seorang guru Rajadiraja mengalir ke laut setelah melalui puri.
Dari tahun ke-22 masa pemerintahan Purnawarman telah digali Sungai Gomati
yang penjangnya 6122 tombak (± 12 km). Penggalian selesai 21 hari dimulai
tanggal 6 paro peteng bulan Phalguna dan selesai tanggal 13 paro terang bulan
Caitra. Lalu diadakan selamatan dan oleh Purnawarman dihadiahkan kepada
Brahmana 1.000 ekor sapi.
|
|
5.
|
Prasasti Lebak
|
Terdapat di Lebak, Banten. Isinya:
Inilah tanda keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhsungguhnya
dari raja dunia, yang mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja.
|
|
6.
|
Prasasti muara Cianten
|
Prasasti ini belum dapat dibaca karena
menggunakan
huruf ikal
|
|
7.
|
Prasasti Pasir Awi
|
Prasasti ini belum dapat dibaca karena
menggunakan huruf ikal
|
2.6 Sumber-Sumber Sejarah
Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui melalui
sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam
negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di
Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa
kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan
beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada
di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah
kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara. Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri
yang berasal dari berita Tiongkok antara lain:
1. Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang
berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang
yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan
sebagian masih animisme.
2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan
535 telah datang utusan dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan.
3. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666
dan 669 telah datang utusaan dari To-lo-mo.
2.7 Kejayaan Tarumanegra
Masa keeamasan Tarumanagara disebut-sebut terjadi pada
zaman Purnawarman, bergelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya
Bhima prakarma Suryamaha purusa Jagatpati. Pembangun Tarumanagara. Ia disebut
juga narendraddhvaja buthena (panji segala raja), atau sering disebut Maharaja
Purnawarman, berkuasa pada tahun 317 Saka (395 M), meningal pada 356 Saka (434
M), dipusarakan di Citarum, sehingga disebut juga Sang Lumah ing Tarumadi.
Kemasyhuran Tarumanagara diabadikan didalam Prasasti
zaman Purnawaraman, tentang dibangunnya pelabuhan dan beberapa sungai sebagai
sarana perekonomian ; pada masa Purnawarman, Tarumanagara menaklukan raja-raja
kecil di Jawa Barat yang belum mau tunduk.
Prasasti-prasasti tersebut juga menjelaskan tentang
raja Tarumanegara ; menggali kali gomati sepanjang 6122 busur ; wilayahnya
meliputi Bogor dan Pandeglang, bahkan pada perkembangan berikutnya,
Tarumanagara mampu melebarkan sayap kekuasaannya. Perluasan daerah Tarumanagara
dilakukan melalui jalan perang maupun jalan damai, berakibat wilayah
Tarumanagara menjadi jauh lebih luas dibandingkan ketika masih dipimpin
Rajadirajaguru dan Raja Resi.
Pada zaman ini pula, masalah hubungan diplomatik
ditingkat. Sehingga wajar jika Pustaka Nusantara menyebutkan kekuasaan
Purnawarman membawahi 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau
Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga
(Purbolinggo) di Jawa Tengah. Sehingga memang secara tradisional Cipamali (Kali
Brebes) dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.
Hal yang sama dapat ditenggarai dari masa Manarah dan Sanjaya di Galuh.
a. Membangun Wilayah
Kisah Purnawarman
secara terperinci diuraikan didalam Pustaka Pararatvan I Bhumi Jawadwipa.
Langkah pertama yang dilakukannya, ia memindah kan ibukota kerajaan kesebelah
utara ibukota lama, ditepi kali Gomati, dikenal dengan sebutan Jaya singapura.
Kota tersebut didirikan Jayasingawarman, kakeknya. Kemudian diberi nama
Sundapura (kota Sunda). Iapun mendirikan pelabuhan ditepi pantai pada tahun 398
sampai 399 M. Pelabuhan ini menjadi sangat ramai oleh kapal Tarumanagara.
Raja Tarumanagara pada
masa Purnawarman sangat memperhatikan pemeliharaan aliran sungai. Tercatatat
beberapa sungai yang diperbaikinya :
1. Pada tahun 410 M ia
memperbaiki kali Gangga hingga sungai Cisuba, terletak di daerah Cirebon,
termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Indraprahasta.
2. Pada tahun 334 Saka
(412 M) memperindah alur kali Cupu yang terletak di kerajaan Cupunagara yang
mengalir hingga istana raja.
3. Tahun 335 Saka (413 M)
Purnawarman memerintahkan membangun kali Sarasah atau kali Manukrawa (Cimanuk).
4. Tahun 339 Saka (417 M),
memperbaiki alur kali Gomati dan Candrabaga, yang sebelumnya pernah dilakukan
oleh Rajadirajaguru, kakeknya.
5. Tahun 341 Saka (419),
memperdalam kali Citarum yang merupakan Sungai terbesar di Wilayah kerajaan
Tarumanagara.
Proses dan hasil
pembangunan beberapa sungai diatas menghasilkan beberapa implikasi, yakni dapat
memperteguh daerah-daerah yang dibangun sebagai daerah kekuasaan Tarumanagara.
Kedua, karena sungai pada saat itu sebagai sarana perkenomian yang penting,
maka pembangunan tersebut membangkitkan perekonomian pertanian dan perdagangan.
Politik dan Keamanan Sejak pra Aki Tirem wilayah pantai barat pulau Jawa
tak lekang dari gangguan para perompak, bahkan keberadaan Salakanagara tak
lepas pula dari perlunya penduduk Kota Perak mempertahankan diri dari gangguan
para perompak. Disinilah sebenarnya Dewawarman I berkenalan dengan masyarakat
Yawadwipa dan dari thema ini pula masyarakat Jawa Barat bersentuhan dengan
kebudayaan India. Konon kabar ketika
masa Salakanagara, pemberantasan perompak dianggap sulit, bahkan menurut cerita
rakyat, ketujuh putra Dewawarman yang terakhir terbunuh dilaut ketika menghalau
para perompak. Para India, perompak yang paling ganas berasal dari laut Cina
Selatan, sehingga Sang Dewawarman menganggap perlu untuk membuka jalur
diplomatik dengan Cina dan Gangguan para perompak dialami juga ketika zaman
Purnawarman, bahkan wilayah laut Jawa sebelah utara, barat dan timur telah
dikuasai perompak. Semua kapal diganggu atau dirampas, yang terakhir para
perompak berhasil menyandera dan membunuh seorang menteri Kerajaan Tarumanagara
dan para pengikutnya. Untuk menghancurkan para perompak, Sang Purnawarman
langsung memimpin pasukan Tarumanagara. Kontak senjata pertama terjadi
diwilayah Ujung Kulon. Para perampok tersebut dibunuh dan dibuang kelaut.
Sedemikian marahnya Purnawarman. Sejak peristiwa itu daerah tersebut menjadi
aman, karena Purnawarman menghukum mati setiap perompak yang tertangkap. Untuk
meneguhkan hubungan diplomatik, banyak anggota kerajaan yang menikah dengan
keluarga raja lain. Purnawarman memiliki permaisuri dari raja bawahannya,
disamping istri-istri lainnya dari Sumatra, Bakulapura, Jawa Timur dan beberapa
daerah lainnya. Dari permaisuri ini kemudian lahir sepasang putra dan putri.
Putra Purnawarman bernama diberi nama Wisnuwarman, kelak menggantikan
kedudukannya sebagai raja Tarumanagara. Sedangkan adiknya dinikahi oleh seorang
raja di Sumatera. Konon dikemudian hari di Sumatera terdapat raja besar yang
bernama Sri Jayanasa, dari kerajaan Sriwijaya (pada saat itu masih dibawah
kerajaan Melayu), dia adalah keturunan Purnawarman.
a. Pemberontakan
Cakrawarman
Pada saat Purnawarman
meninggal Tarumanagara membawahi 46 raja-raja kecil. Sungguh kekuasaan yang
besar dan perlu raja yang mampu dan kuat untuk melanjutkan kekuasaan ini. Ia
kemudian digantikan oleh putranya, yakni Wisnuwarman, dinobatkan tahun 356 Saka
(434 M), Ia memerinta selama 21 tahun.
Wisnuwarman meneruskan kebijakan ayahnya, namun ia jauh lebih bijaksana dibandingkan Purnawarman yang dianggap bertangan besi. Untuk menjaga eksistensi Tarumanagara, penobatan ini diberitahukan keesegenap Negara sahabat dan bawahannya. Pada awal pemerintahan Wisnuwarman sudah beberapa kali mengalami upaya pembunuhan. Hingga kemudian diketahui, bahwa aktor intellectual upaya pembunuhan itu adalah Cakrawarman, pamannya sendiri, adik Purnawarman.
Cakrawarman dimasa Purnawarman menjabat sebagai panglima angkatan perang. Ia sangat setia mendampingi kakaknya dalam upaya melebarkan sayap kekuasaan Tarumanagara. Ia dianggap orang kedua di Tarumanagara. Sepeninggal Purnawarman Ia diharapkan para pengikutnya untuk menggantikan Purnawarman.
Upaya makar sebenarnya tidak akan pernah terjadi jika Cakrawarman tidak berambisi dan yakin terhadap kepemimpinan Wisnuwarman yang mampu melanjutkan kekuasaan Purnawarman. Keraguannya sangat beralasan, mengingat Cakrawarman tidak bertabiat seperti ayahnya, yang tegas dan tanpa kompromi terhadap lawan-lawannya. Namun patut diakui, sejak masa Wisnuwarman keadilan dan kemakmuran Tarumanagara bisa dapat tercapai. Upaya makar yang dilakukan pula oleh para pejabat istana yang setia kepada Cakrawarman, seperti Sang Dewaraja (wakil panglima angkatan perang), Sang Hastabahu (kepala bayangkara), Kuda Sindu (wakil panglima angkatan laut), serta pejabat angkatan perang dan para pejabat kerajaan-kerajaan bawahan Tarumanagara. Cakrawarman akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran di sebelah selatan Indraprahasta, tidak jauh dari Sungai Cimanuk. Ia terbunuh oleh pasukan Bhayangkara Indraprahasta, kerajaan dibawah Tarumanagara yang setia kepada Wisnuwarman. Sejak peristiwa tersebut, pasukan bhayangkara Tarumanagara selalu dipercayakan kepada orang-orang Indraprahasta. Kepercayaan demikian berlangsung hingga pada peristiwa Galuh, ketika terjadi pemberontakan Purbasora terhadap Sena. Negara Indrapahasta yang dibangun Resi Sentanu itu dibumi hanguskan oleh Sanjaya. Peristiwa pengancuran Indraprahasta oleh Sanhaya diabadikan dalam Nusantara III/2, sebagai berikut : kang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira. Rajya Indraprahasta kebehan nira kaprajaya sapinasuk kadatwan syuhdrawa pinaka tan hana rajya manih i mandala Carbon Ghirang. Wadyanbala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinadika, meh sakweh ira pejah nirawaceca. Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satrwikang tan hana karunya budhi pinaka satwakura. Kerajaan Indraprahasta itu telah musnah oleh Rahyang Sanjaya karena kalah perangnya. Seluruh Kerajaan Indraprahasta ditundukan termasuk keratonya hancur lumat seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang. Angkatan perang, pembesar kerajaan, seluruh golongan penduduk, penghuni istana, para terkemuka, hampir seluruhnya binasa tanpa sisa. Hanya beberapa orang yang berhasil melarikan diri bersembunyi di hutan, gunung dan sungai yang terluput dari musuh yang tidak mengenal belas kasihan seperti binatang buas.
Wisnuwarman meneruskan kebijakan ayahnya, namun ia jauh lebih bijaksana dibandingkan Purnawarman yang dianggap bertangan besi. Untuk menjaga eksistensi Tarumanagara, penobatan ini diberitahukan keesegenap Negara sahabat dan bawahannya. Pada awal pemerintahan Wisnuwarman sudah beberapa kali mengalami upaya pembunuhan. Hingga kemudian diketahui, bahwa aktor intellectual upaya pembunuhan itu adalah Cakrawarman, pamannya sendiri, adik Purnawarman.
Cakrawarman dimasa Purnawarman menjabat sebagai panglima angkatan perang. Ia sangat setia mendampingi kakaknya dalam upaya melebarkan sayap kekuasaan Tarumanagara. Ia dianggap orang kedua di Tarumanagara. Sepeninggal Purnawarman Ia diharapkan para pengikutnya untuk menggantikan Purnawarman.
Upaya makar sebenarnya tidak akan pernah terjadi jika Cakrawarman tidak berambisi dan yakin terhadap kepemimpinan Wisnuwarman yang mampu melanjutkan kekuasaan Purnawarman. Keraguannya sangat beralasan, mengingat Cakrawarman tidak bertabiat seperti ayahnya, yang tegas dan tanpa kompromi terhadap lawan-lawannya. Namun patut diakui, sejak masa Wisnuwarman keadilan dan kemakmuran Tarumanagara bisa dapat tercapai. Upaya makar yang dilakukan pula oleh para pejabat istana yang setia kepada Cakrawarman, seperti Sang Dewaraja (wakil panglima angkatan perang), Sang Hastabahu (kepala bayangkara), Kuda Sindu (wakil panglima angkatan laut), serta pejabat angkatan perang dan para pejabat kerajaan-kerajaan bawahan Tarumanagara. Cakrawarman akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran di sebelah selatan Indraprahasta, tidak jauh dari Sungai Cimanuk. Ia terbunuh oleh pasukan Bhayangkara Indraprahasta, kerajaan dibawah Tarumanagara yang setia kepada Wisnuwarman. Sejak peristiwa tersebut, pasukan bhayangkara Tarumanagara selalu dipercayakan kepada orang-orang Indraprahasta. Kepercayaan demikian berlangsung hingga pada peristiwa Galuh, ketika terjadi pemberontakan Purbasora terhadap Sena. Negara Indrapahasta yang dibangun Resi Sentanu itu dibumi hanguskan oleh Sanjaya. Peristiwa pengancuran Indraprahasta oleh Sanhaya diabadikan dalam Nusantara III/2, sebagai berikut : kang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira. Rajya Indraprahasta kebehan nira kaprajaya sapinasuk kadatwan syuhdrawa pinaka tan hana rajya manih i mandala Carbon Ghirang. Wadyanbala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinadika, meh sakweh ira pejah nirawaceca. Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satrwikang tan hana karunya budhi pinaka satwakura. Kerajaan Indraprahasta itu telah musnah oleh Rahyang Sanjaya karena kalah perangnya. Seluruh Kerajaan Indraprahasta ditundukan termasuk keratonya hancur lumat seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang. Angkatan perang, pembesar kerajaan, seluruh golongan penduduk, penghuni istana, para terkemuka, hampir seluruhnya binasa tanpa sisa. Hanya beberapa orang yang berhasil melarikan diri bersembunyi di hutan, gunung dan sungai yang terluput dari musuh yang tidak mengenal belas kasihan seperti binatang buas.
b. Pemberian Otonomi
Kisah penumpasan
pemberontakan Cakrawarman memberikan pelajaran terhadap pihak keraton dan
raja-raja dibawah Tarumanagara untuk tidak mengulang peristiwa yang sama.
Keteguhan kekuasaan selanjutnya dirubah, dari yang bersifat tangan besi di
zaman Purnawarman menjadi perilaku adil dan bijaksana. Ia memperhatikan
kesejahteraan rakyat dan mengayomi raja-raja yang ada dibawah kekuasaannya.
Suri ketauladan Wisnuwarman digambarkan ketika menggagalkan upaya Kup Cakrawarman. Secara bijak ia mengadili orang-orang suruhan Cakrawarman untuk memberitahukan aktor intelectualnya. Ia memperlakukan tersangka dengan baik dan secara cerdik dijanjikan tidak akan dihukum mati. Kemudian iapun mendapatkan informasi tentang actor intellectual dimaksud.Kebijaksanaan yang ia miliki dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya, Indrawarman dan Candrawarman. Sang Maharaja Indrawarman bergelar Sang Paramartha Sakti Maha Prabawa Lingga Triwikrama Buanatala. Berkuasa selama 60 tahun, sejak 377 sampai dengan 437 Saka (455 – 515 M), sedangkan Indrawarman bergelar Sri Maharaja Candrawarman bergelar Sang Hariwangsa Purusasakti Suralaga Wangenparamarta, berkuasa selama 20 tahun, sejak tahun 437 sampai dengan 457 saka (515 – 535 M). Pada masa pemerintahannya memang banyak penduduk yang beragama Wisnu, namun tidak pernah terdengar adanya benturan, Situasi keagamaan digambar-kan tidak ada yang saling curiga dan cemburu (tan hanekang irsya). Peristiwa yang dapat dianggap monumental ketika menyerahkan pemerintahan raja-raja daerah kepada trah turunanan masing-masing, atas dasar kesetiaan kepada raja Tarumanagara. Peristiwa ini terjadi pada 454 Saka (532 M). Suatu hal yang perlu diteladani, pembagian atau penyerahan pengawasan pusat ke daerah masing-masing bukan suatu barang baru di tatar sunda. Hanya saja banyak ragam proses yang perlu dilalui. Biasanya perlu ada desakan, tekanan dan permintaan agar pusat mau memberikan otonomi. Dalam peristiwa Tarumanagara justru sebaliknya, pemberian otonomi kepada raja-raja dibawahnya dilakukan ketika Negara dalam keadaan yang stabil. Peristiwa ini digambarkan didalam naskah Wangsakerta (Jawa dwipa Sarga 1) dan disebut adanya perubahan paradigma raja-raja tarumanagara, dari tangan besi kearah pengendoran kekuasaan.Tindakan monumental tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk prasasti ketika jaman Raja Suryawarman, yang ditemukan didaerah Pasir Muara (Cibungbulang). Isi prasasti tersebut sebagai berikut : Ini sabdakalanda rakryan juru pangambat wi kawihaji panyca pasagi marsa Ndeca barpulihkan haji sundaIni tanda ucapan rakyan juru pangambat (tahun) 458 pemerintahandaerah dipulihkan kepada raja sunda.
Suri ketauladan Wisnuwarman digambarkan ketika menggagalkan upaya Kup Cakrawarman. Secara bijak ia mengadili orang-orang suruhan Cakrawarman untuk memberitahukan aktor intelectualnya. Ia memperlakukan tersangka dengan baik dan secara cerdik dijanjikan tidak akan dihukum mati. Kemudian iapun mendapatkan informasi tentang actor intellectual dimaksud.Kebijaksanaan yang ia miliki dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya, Indrawarman dan Candrawarman. Sang Maharaja Indrawarman bergelar Sang Paramartha Sakti Maha Prabawa Lingga Triwikrama Buanatala. Berkuasa selama 60 tahun, sejak 377 sampai dengan 437 Saka (455 – 515 M), sedangkan Indrawarman bergelar Sri Maharaja Candrawarman bergelar Sang Hariwangsa Purusasakti Suralaga Wangenparamarta, berkuasa selama 20 tahun, sejak tahun 437 sampai dengan 457 saka (515 – 535 M). Pada masa pemerintahannya memang banyak penduduk yang beragama Wisnu, namun tidak pernah terdengar adanya benturan, Situasi keagamaan digambar-kan tidak ada yang saling curiga dan cemburu (tan hanekang irsya). Peristiwa yang dapat dianggap monumental ketika menyerahkan pemerintahan raja-raja daerah kepada trah turunanan masing-masing, atas dasar kesetiaan kepada raja Tarumanagara. Peristiwa ini terjadi pada 454 Saka (532 M). Suatu hal yang perlu diteladani, pembagian atau penyerahan pengawasan pusat ke daerah masing-masing bukan suatu barang baru di tatar sunda. Hanya saja banyak ragam proses yang perlu dilalui. Biasanya perlu ada desakan, tekanan dan permintaan agar pusat mau memberikan otonomi. Dalam peristiwa Tarumanagara justru sebaliknya, pemberian otonomi kepada raja-raja dibawahnya dilakukan ketika Negara dalam keadaan yang stabil. Peristiwa ini digambarkan didalam naskah Wangsakerta (Jawa dwipa Sarga 1) dan disebut adanya perubahan paradigma raja-raja tarumanagara, dari tangan besi kearah pengendoran kekuasaan.Tindakan monumental tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk prasasti ketika jaman Raja Suryawarman, yang ditemukan didaerah Pasir Muara (Cibungbulang). Isi prasasti tersebut sebagai berikut : Ini sabdakalanda rakryan juru pangambat wi kawihaji panyca pasagi marsa Ndeca barpulihkan haji sundaIni tanda ucapan rakyan juru pangambat (tahun) 458 pemerintahandaerah dipulihkan kepada raja sunda.
c. Karakter kepemimpinan
Dari kearifan masa
lalu, adanya penerapan leadership yang berbeda antara masa Purnawarman dengan
Wisnuwarman. Masa Purnawarman kepemimpinan Tarumanagara dijalan kan secara
tangan besi. Ia tanpa ampun menghukum setiap para pelanggar hukum dan penganggu
ketertiban. Namun ia pun mampu menjaga hubungan baiknya melalui jalur
diplomatik dengan kerajaan lainnya. Bahkan masalah reward dan punishment sangat
kentara dijalankan. Hal ini dapat ditenggarai dari setiap selesainya membangun
suatu daerah niscaya ia memberikan hadiah kepada warga maupun Brahmana Konsep
lain dari kearifannya dapat pula ditenggarai dalam cara-cara Purnawarman
menjaga hubungan baik dengan para Brahmana, bahkan ia membangun tempat tempat
suci seperti diwilayah Indraprahasta. Hubungan raja brahmana demikian dapat
mensinergikan antara masalah duniawi (raja) dan masalah akhirat (brahma). Dalam
cara-cara mempertahankan kejayaan tersebut di zaman Wisnuwarman dilakukan
dengan cara yang benar-benar adil dan berani mendelagasikan pengawasan dan
kebijakannya kepada raja-raja bawahan. Ia pun memberikan punishment yang
seimbang dengan tingkat kesalahan para pelanggarnya. Hal ini terbukti pada
cara-cara memberikan hukuman terhadap para pemberontak. Namun tentunya, masalah
kepercayaan (dipercayai dan dapat memegang kepercayaan) merupakan factor
analisa yang pentinga ia lakukan, sehingga tanpa perang pun ia mampu
mempertahankan kejayaan Tarumanagara.
2.8 Runtuhnya Tarumanegara
Runtuhnya Tarumanegara belum dapat di ketahui pasti,
namun kerajaan Tarumanegara masih mengirimkan utusannya ke cina sampai tahun
669 M. setelah itu tidak di dapatkan lagi berita. Kemungkinan Tarumanegara di
taklukan Sriwijaya (sepertihalnya terlulis dalam Prasasti Prasasti Karang
berahi). Sehingga dapat di duga runtuhnya Tarumanegara sekitar + tahun 669 M
oleh serangan Sriwijaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar