HORMAT DAN PATUH KEPADA
ORANG TUA
Suatu
hari,ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW.Dia bertanya:”Wahai
Rasulullah,aku mempunyai harta kekayaan dan anak.Sementara ayahku berkeinginan
menguasai harta milikku dalam pembelanjaan.Apakah yang demikian ini benar?”maka
Rasulullah SAW.menjawab:”Dirimu dan harta milikmu adalah milik orangtuamu.”{H.R
.Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah}.
Begitulah,syariat
Islam menetapkan betapa besar hak-hak orang tua atas anaknya.Bukan saja ketika
sang anak masih hidup dalam rebngkuhan orang tuanya,bahkan ketika ia sudah
berkeluarga dan hidup mandiri.Tentu saja hak-hak tersebut sebanding besarnya
jasa dan pengorbanan yang telah diberikan.
Firman
Allah yang memerintahkan seorang anak berbakti,menaati,beroerilaku dan berkata
baik pada orang tua terdapat dalam Q.S Al-Isra:23.Yang artinya”Dan Tuhanmu
telah memerintahkan supaya kamu jamgan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.Jika salah seorang diantara
keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan”ah”dan
janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.{QS.Al-Isra:23}
Meski
kita diperintahkan patuh dan taat kepada mereka,namun hal itu tak berlaku ketika keduanya memerintahkan kita
menyrkutukan Allah dadn bermaksiat kepada-Nya.Rasulullah SAW bersabda:”Tidak
ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah”{H.R.Ahmad}
Teringat
denagn sebuah kisah sahabat Rasulullah yaitu Sa’ad bin Waqash,beliau diberi dua
pilihan oleh ibunya yang masih musyrik:kembali kepada kemusyrikan atau ibunya
akan mogok makan dan minum sampai mati.Ketika sang ibu tenagah melakukan
aksinya selama tiga hari tiga malam,beliau berkata”Wahai ibu,seandainya ibu
memilki 1.000 jiwa kemudian satu persatu meninggal,tetap aku tak akan
meninggalkan agamaku(Islam).Karena itu,terserah ibu mau makan atau
tidak.”Melihat sikap Sa’ad yang bersikeras itu maka ibunya pun menghentikan
aksinya.
Sehubungan
dengan peristiwa itu,maka Allah menurunkan ayat:”Dan jika keduanya memaksamu
untuk mempersukutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu,maka janganlah kamu mengikuti keduanya dadn pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik”{QS.Luqman:15}.Jadi,jika orang tua mengajak pada arah kemusyrikan
maka tidak wajib bagi kita menaati mereka.Namun,sebagai anak,tetap sopan santun
harus dijaga.
Berbakti
kepada orangtua tak terbatas ketika mereka masih hidup,tetapi bisa dilakukan
setelah mereka wafat.Hal itu pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada
Rasulullah saw.Maka Rasulullah menjawab,”Yakni demgan mengirim doa(mendoakan)
dan memohonkan ampunan.Menepati janji dan nazar yang pernah diikrarkan kedua
orangtua,memelihara hubungan silaturahim serta memuliakan kawan dan kerabat
orang tuamu”.
Durhaka
kepada orangtua(‘uquuqul walidain)termasuk dalam kategori dosa besar.Bentuknya
bisa berupa tidak mematuhi perintah,mengabaikan,menyakiti,meremehkan, memandang dengan marah,mengucapkan kata-kata yang
menyakitkan perasaan,sebagaimana disinggung dalam Al-Quran”Dan janganlah
sekalio-kali kamu mengatakan ‘ah’ kepada orangtuamu.”{QS.Al-Isra:23}.Jika
berkata’ah/cis/huh’saja tidak boleh,apalagi yang lebih kasar daripada
itu.Rasulullah saw.bersabda:”Barang siapa mebuat hati orang tua sedih,berarti
dia telah durhaka kepadanya”.{HR.Bukhari}.Dalam kesempatan lain Rasulullah
bersabda:”Termasuk perbuatan durhaka seseorang yang membelalakkan matanya
karena marah”{H.R.Ath-Thabrani}.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar