Profil Orang Terkaya Yang ada Di Indonesia
1. R. Budi Hartono

Menjadi orang terkaya nomor satu di
Indonesia selama beberapa tahun berturut-turut itulah R. Budi Hartono yang merupakan pemilik Grup Djarum,
dilahirkan dengan nama lengkap Robert Budi Hartono pada
tanggal 28 April 1941 di Kota Semarang, Ayahnya bernama Oei Wie Gwan pemilik
usaha kecil Djarum Gramophon namanya diubah menjadi Djarum yang kelak menjadi
sebuah perusahaan rokok terbesar di dunia. Robert Budi Hartono yang memiliki
nama Tionghoa Oei Hwie Tjhong oleh Majalah Forbes dicaatat memiliki kekayaan
sebesar 8,5 Milyar Dollar atau 82.50 Trilyun Rupiah dan merupakan Orang terkaya nomor satu selama beberapa tahun di Indonesia
dan urutan 131 terkaya didunia. Semua berawal dari Mr. Oei Wie Gwan yang
membeli usaha kecil dalam bidang kretek bernama Djarum Gramophon pada tahun
1951 dann kemudian mengubah namanya menjadi Djarum. Oei mulai memasarkan kretek
dengan merek “Djarum” yang ternyata sukses di pasaran.
Setelah kebakaran hampir memusnahkan perusahaan pada tahun 1963, Djarum kembali bangkit dan memodernisasikan peralatan di pabriknya. Robert dan kakaknya yaitu Michael Budi Hartono menerima warisan ini setelah ayahnya meninggal. Pada saat itu pabrik perusahaan Djarum baru saja terbakar dan mengalami kondisi yang tidak stabil. Namun kemudian di tangan dua bersaudara Hartono, Perusahaan Djarum bisa bertumbuh menjadi perusahaan raksasa. Pada tahun 1972 Djarum mulai mengeskpor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981. Saat ini, Di Amerika Serikat pun perusahaan rokok ini memilki pangsa pasar yang besar. Dan di negeri asalnya sendiri, Indonesia, produksi Djarum mencapai 48 milyar batang pertahun atau 20% dari total produksi nasional. Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan rokok ini menjelma dari perusahaan rokok menjadi Group Bisnis yang berinvestasi di berbagai sektor. Djarum mereka, dilarang di Amerika Serikat sejak 2009 bersama dengan rokok kretek lainnya, karena telah diluncurkannya Dos Hermanos, sebuah cerutu premium pencampuran tembakau Brasil dan Indonesia.
Robert Budi Hartono dengan Group Djarum yang dipimpinnya pun melebarkan sayap ke banyak sektor antara lain perbankan, properti, agrobisnis, elektronik dan multimedia. Diversifikasi bisnis dan investasi yang dilakukan Group Djarum ini memperkokoh Imperium Bisnisnya yang berawal di tahun 1951. Di bidang Agribisnis, Robert bersama Michael memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektar yang terletak di provinsi Kalimantan Barat dari tahun 2008. Mereka bergerak di bawah payung Hartono Plantations Indonesia, salah satu bagian dari Group Djarum. Di bidang properti, banyak proyek yang dijalankan di bawah kendali CEO Djarum ini, R. Budi Hartono, dan yang paling besar adalah mega proyek Grand Indonesia yang ditantangani pada tahun 2004 dan selesai pada tahun 2008. Proyek ini mencakup hotel (renovasi dari Hotel Indonesia), pusat belanja, gedung perkantoran 57 lantai dan apartemen. Total nilai investasinya 1,3 Triliun rupiah.
Majalah Globe Asia menyatakan Robert sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 4,2 miliar dolar AS atau sekitar 37,8 triliun rupiah. Pada tahun yang sama, R. Budi Hartono bersama kakaknya, Michael Hartono di bawah bendera Group Djarum melebarkan investasi ke sektor perbankan. Dan mereka menjadi pemegang saham utama, menguasai 51% saham, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia saat ini. Berdasarkan data dari Bank Indonesia akhir tahun 2011 nilai aset BCA sebesar Rp 380,927 Triliun (tiga ratus delapan puluh koma sembilan ratus dua puluh tujuh rupiah). BCA yang secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi di tahun 1997. Dan bukti eksistensi grup Djarum adalah gedung pencakar langit di kompleks mega proyek Grand Indonesia diberi nama Menara BCA. Karena bank BCA menjadi penyewa utamanya dari tahun 2007 hingga 2035. Dengan demikian tergabunglah lingkungan operasional dua raksasa bisnis Indonesia di tengah-tengah pusat ibukota yang menjadi bukti keberkuasaan Djarum di kancah bisnis Indonesia.
Robert Budi Hartono menikah seorang wanita bernama Widowati Hartono atau lebih akrab dengan nama Giok Hartono. Bersamanya Widowati Hartono, Pemilik PT Djarum ini memiliki tiga orang putra yang kesemuanya telah menyelesaikan pendidikan. Mereka adalah Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono. Disisi lain, Robert Budi Hartono Sangat menyukai olahraga bulutangkis yang bermula dari sekedar hobi lalu mendirikan Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum pada tahun 1969. Dari lapangan bulutangkis di tempat melinting kretek, Robert Budi Hartono menemukan talenta anak muda berbakat asli Kudus. Anak muda itu dimatanya, memiliki semangat juang yang tinggi, mental yang hebat dan fisik yang prima. Tak salah intuisinya, karena dalam kurun waktu yang tidak lama, anak itu mengharumkan nama bangsa di pentas dunia. Anak muda itu adalah Liem Swie King, yang terkenal dengan julukan “King Smash”.
Disamping itu bersama kakaknya yaitu Michael Budi Hartono,mereka menjadi pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik. Salah satu bisnis Group Djarum di sektor ini bergerak di bawah bendera Polytron yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Perusahaan Polytron ini kini juga memproduksi ponsel yang sebelumnya hanya meproduksi AC, kulkas, produk video dan audio, dan dispenser. Melalui perusahaan yang baru dibuat yakni Ventures Global Prima Digital, mereka juga membeli Kaskus, yang merupakan salah satu situs terbesar di Indonesia.
Chairul Tanjung dilahirkan di Jakarta. Ia
anak A.G. Tanjung, seorang wartawan di zaman orde lama yang pernah menerbitkan
lima surat kabar beroplah kecil. Chairul dan keenam saudaranya hidup
berkecukupan. Namun, pada zaman Orde Baru, sang ayah dipaksa menutup usaha
persnya karena berseberangan secara politik dengan penguasa.
Setamat SMA, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada tahun 1981. Chairul menghadapi masalah pada biaya kuliahnya. Ia pun mulai berbisnis dari dasar sekali, berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Selanjutnya, ia membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat tapi bangkrut.
Setelah menutup tokonya, Chairul membuka usaha kontraktor. Kurang berhasil, Chairul bekerja di industri baja dan kemudian pindah ke industri rotan. Waktu itulah, ia bersama tiga rekannya ia membangun PT Pariarti Shindutama. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaannya langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Dari sini usahanya merambah ke industri genting, sandal dan properti. Sayang, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha dengan ketiga rekannya, Chairul memilih menjalankan usahanya sendiri.
Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti : keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega yang kini telah naik peringkatnya dari bank urutan bawah ke bank kelas atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia juga merambah ke bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran Jakarta ini mempunyai perusahaan real estate dan pada tahun 1999 telah mendirikan Bandung Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mendirikan Trans TV, di samping menangani stasion radio dan media on line atau satelit. Ia juga bersiap untuk masuk ke media cetak.
Di tengah persaingan yang ketat di sektor media televisi, Chairul merasa yakin Trans TV akan mampu bersaing. Ini karena ia melihat pada belanja iklan nasional yang sudah mencapai Rp 6 triliun setahun, 70% di antaranya akan diambil oleh televisi. Jumlah perusahaan Chairul, yaitu Para Group mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahi beberapa sub holding seperti : Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti) dan jumlah karyawan yang dipekerjakan kurang lebih mencapai 5.000 orang.
Dikutip dari detik.com bahwa Chairul Tanjung (CT) yang telah mengakusisi 40% saham PT Carrefour Indonesia direspon positif oleh sesama pengusaha di dalam negeri.
Setamat SMA, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada tahun 1981. Chairul menghadapi masalah pada biaya kuliahnya. Ia pun mulai berbisnis dari dasar sekali, berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Selanjutnya, ia membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat tapi bangkrut.
Setelah menutup tokonya, Chairul membuka usaha kontraktor. Kurang berhasil, Chairul bekerja di industri baja dan kemudian pindah ke industri rotan. Waktu itulah, ia bersama tiga rekannya ia membangun PT Pariarti Shindutama. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaannya langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Dari sini usahanya merambah ke industri genting, sandal dan properti. Sayang, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha dengan ketiga rekannya, Chairul memilih menjalankan usahanya sendiri.
Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti : keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega yang kini telah naik peringkatnya dari bank urutan bawah ke bank kelas atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia juga merambah ke bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran Jakarta ini mempunyai perusahaan real estate dan pada tahun 1999 telah mendirikan Bandung Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mendirikan Trans TV, di samping menangani stasion radio dan media on line atau satelit. Ia juga bersiap untuk masuk ke media cetak.
Di tengah persaingan yang ketat di sektor media televisi, Chairul merasa yakin Trans TV akan mampu bersaing. Ini karena ia melihat pada belanja iklan nasional yang sudah mencapai Rp 6 triliun setahun, 70% di antaranya akan diambil oleh televisi. Jumlah perusahaan Chairul, yaitu Para Group mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahi beberapa sub holding seperti : Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti) dan jumlah karyawan yang dipekerjakan kurang lebih mencapai 5.000 orang.
Dikutip dari detik.com bahwa Chairul Tanjung (CT) yang telah mengakusisi 40% saham PT Carrefour Indonesia direspon positif oleh sesama pengusaha di dalam negeri.
Diharapkan Carrefour dibawah Chairul
Tanjung bisa mengendepankan kepentingan nasional yaitu dapat menyumbangkan
pembinaan terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.
"Jadi harus betul-betul membela kepentingan kita, jangan justru sebaliknya," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat dihubungi detikFinance, Minggu (18/4/2010).
Sofjan mengakui langkah Para Group tersebut merupakan aksi yang positif bagi dunia usaha di Indonesia. Selain itu, kata dia, kehadiran pengusaha lokal disebuah perusahaan asing akan memberikan keyakinan bahwa kiprah Carrefour di Indonesia tidak semata-mata hanya untuk kepentingan pemodal asing.
"Saya harapkan Chairul Tanjung bisa mebantu para pelaku UKM, dengan dia masuk tidak lagi menimbulkan konfrontasi, jadi kuncinya ada di Chairul Tanjung," katanya.
Seperti diketahui, Chairul Tanjung melalui kelompok usahanya yaitu Para Group mengakuisisi 40% saham PT Carrefour Indonesia senilai lebih dari Rp 3 triliun. Akuisisi itu dilakukan Trans Corp melalui PT Trans Ritel, sebuah anak perusahaan Trans Corp.
Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.
Setelah membeli 40% saham Carrefour, Chairul kini menjadi komisaris utama PT Carrefour Indonesia didampingi oleh AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN) dan S.Bimantoro (mantan petinggi Polri) sebagai komisaris.
Gurita bisnis Chairul Tanjung memang sudah meluas. Setelah menguasai bisnis stasiun televisi, bank hingga waralaba, Chairul Tanjung meluaskan bisnisnya ke ritel dengan membeli 40% saham PT Carrefour Indonesia.
Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.
Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada urutan ke 937 dari 1.000 orang terkaya didunia versi majalah forbes dengan total kekayaan senilai US$ 1 Miliar. sedangkan daftar 40 orang terkaya Indonesia tahun 2009 versi Forbes yang dirilis, Kamis (3/12/2009) lalu. Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada posisi ke 13 .
"Jadi harus betul-betul membela kepentingan kita, jangan justru sebaliknya," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat dihubungi detikFinance, Minggu (18/4/2010).
Sofjan mengakui langkah Para Group tersebut merupakan aksi yang positif bagi dunia usaha di Indonesia. Selain itu, kata dia, kehadiran pengusaha lokal disebuah perusahaan asing akan memberikan keyakinan bahwa kiprah Carrefour di Indonesia tidak semata-mata hanya untuk kepentingan pemodal asing.
"Saya harapkan Chairul Tanjung bisa mebantu para pelaku UKM, dengan dia masuk tidak lagi menimbulkan konfrontasi, jadi kuncinya ada di Chairul Tanjung," katanya.
Seperti diketahui, Chairul Tanjung melalui kelompok usahanya yaitu Para Group mengakuisisi 40% saham PT Carrefour Indonesia senilai lebih dari Rp 3 triliun. Akuisisi itu dilakukan Trans Corp melalui PT Trans Ritel, sebuah anak perusahaan Trans Corp.
Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.
Setelah membeli 40% saham Carrefour, Chairul kini menjadi komisaris utama PT Carrefour Indonesia didampingi oleh AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN) dan S.Bimantoro (mantan petinggi Polri) sebagai komisaris.
Gurita bisnis Chairul Tanjung memang sudah meluas. Setelah menguasai bisnis stasiun televisi, bank hingga waralaba, Chairul Tanjung meluaskan bisnisnya ke ritel dengan membeli 40% saham PT Carrefour Indonesia.
Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.
Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada urutan ke 937 dari 1.000 orang terkaya didunia versi majalah forbes dengan total kekayaan senilai US$ 1 Miliar. sedangkan daftar 40 orang terkaya Indonesia tahun 2009 versi Forbes yang dirilis, Kamis (3/12/2009) lalu. Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada posisi ke 13 .
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN :
SD Van Lith, Jakarta (1975)
SMP Van Lith, Jakarta (1978)
SMA Negeri 1 Budi Utomo, Jakarta (1981)
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (1987)
KEGIATAN LAIN :
Anggota Komite Penasihat Prakarsa Jakarta
(Restrukturisasi Perusahaan)
Delegasi Indonesia untuk Asia-Europe
Business Forum
Anggota Pacific Basin Economic Council
Pengurus Yayasan Kesenian Jakarta
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan
Bulutangkis Seluruh Indonesia
Anggota Majelis Wali Amanat Universitas
Indonesia
Ketua Yayasan Indonesia Forum
.
3. Eka Tjipta Widjaja
Eka Tjipta Widjaja merupakan seorang pengusaha dan konglomerat
Indonesia, Berkat keuletannya dalam menjalankan bisnis perusahaannya, ia
merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia menurut Majalah Globe Asia
edisi bulan desember 2012 dengan kekayaan mencapai 8,7 milyar Dolar Amerika
Serikat. Pada tahun 2011, menurut Forbes, ia menduduki peringkat ke-3 orang
terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan US$ 8 miliar, beliau merupakan
pendiri sekaligus pemilik dari Sinar Mas Group, Bisnis
utamanya adalah pulp dan kertas, agribisnis, properti dan jasa keuangan. Nama
asli Eka Tjipta Widjaja adalah Oei Ek Tjhong, beliau dilahirkan pada tanggal 3
Oktober 1923 di China, Ia terlahir dari keluarga yang amat miskin. Ia pindah ke
Indonesia saat umurnya masih sangat muda yaitu umur 9 tahun. Tepatnya pada
tahun 1932, Eka Tjipta Widjaya yang saat itu masih dipanggil Oei Ek Tjhong
akhirnya pindah ke kota Makassar
"Bersama ibu, saya ke Makassar
tahun 1932 pada usia sembilan tahun. Kami berlayar tujuh hari tujuh malam.
Lantaran miskin, kami hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di
bawah kelas dek. Hendak makan masakan enak, tak mampu. Ada uang lima dollar,
tetapi tak bisa dibelanjakan, karena untuk ke Indonesia saja kami masih
berutang pada rentenir, 150 dollar"
Tiba di Makassar, Eka kecil segera
membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Tujuannya
jelas, segera mendapatkan 150 dollar, guna dibayarkan kepada rentenir. Dua
tahun kemudian, utang terbayar, toko ayahnya maju. Eka pun minta Sekolah. Tapi
Eka menolak duduk di kelas satu. Eka Tjipta Widjaja bukanlah seorang sarjana,
doktor, maupun gelar-gelar yang lain yang disandang para mahasiswa ketika
mereka berhasil menamatkan studi. Namun beliau hanya lulus dari sebuah sekolah
dasar di Makassar. Hal ini dikarenakan kehidupannya yang serba kekurangan. Ia
harus merelakan pendidikannya demi untuk membantu orang tua dalam menyelesaikan
hutangnya ke rentenir. Tamat SD, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya karena
masalah ekonomi. Ia pun mulai jualan.
Ia keliling kota Makassar, Dengan mengendarai sepeda, ia keliling kota Makasar menjajakan door to door permen, biskuit, serta aneka barang dagangan toko ayahnya. Dengan ketekunannya, usahanya mulai menunjukkan hasil. Saat usianya 15 tahun, Eka mencari pemasok kembang gula dan biskuit dengan mengendarai sepedanya. Ia harus melewati hutan-hutan lebat, dengan kondisi jalanan yang belum seperti sekarang ini. Kebanyakan pemasok tidak mempercayainya. Umumnya mereka meminta pembayaran di muka, sebelum barang dapat dibawa pulang oleh Eka. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat 1 usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya.
Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu.
Ia keliling kota Makassar, Dengan mengendarai sepeda, ia keliling kota Makasar menjajakan door to door permen, biskuit, serta aneka barang dagangan toko ayahnya. Dengan ketekunannya, usahanya mulai menunjukkan hasil. Saat usianya 15 tahun, Eka mencari pemasok kembang gula dan biskuit dengan mengendarai sepedanya. Ia harus melewati hutan-hutan lebat, dengan kondisi jalanan yang belum seperti sekarang ini. Kebanyakan pemasok tidak mempercayainya. Umumnya mereka meminta pembayaran di muka, sebelum barang dapat dibawa pulang oleh Eka. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat 1 usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya.
Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu.
Keesokan harinya, masih pukul empat
subuh, Eka sudah di Paotere. Ia membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak
tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air 2 panas,
cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu ia pinjam dari ibunya. Enam
ekor ayam ayahnya ikut ia pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih
gosok garam. Dia juga pinjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol
anggur dari teman-temannya. Jam tujuh pagi ia sudah siap jualan. Benar saja,
pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi
sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos
pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda. Setelah mencicipi
seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk
whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan
tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja ia minta izin
mengangkat semua barang yang sudah dibuang.
Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat 3 sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung. Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.
Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut dia ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan. Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar. Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kimpoi untuk menutup utang dagang.
Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal dia habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi. Pada tahun 1980, ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya yaitu menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu. Ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau. Tak tanggung-tanggung, beliau juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit. Bisnis yang dia bangun berkembang sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada tahun 1981 beliau membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh.
Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat 3 sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung. Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.
Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut dia ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan. Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar. Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kimpoi untuk menutup utang dagang.
Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal dia habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi. Pada tahun 1980, ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya yaitu menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu. Ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau. Tak tanggung-tanggung, beliau juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit. Bisnis yang dia bangun berkembang sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada tahun 1981 beliau membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh.
Selain berbisnis di bidang kelapa sawit
dan teh, Eka Tjipta Widjaja juga mulai merintis bisnis bank. Ia membeli Bank
Internasional Indonesia dengan asset mencapai 13 milyar rupiah. Namun setelah
beliau kelola, bank tersebut menjadi besar dan memiliki 40 cabang dan cabang
pembantu yang dulunya hanya 2 cabang dan asetnya kini mencapai 9,2 trilliun
rupiah. Bisnis yang semakin banyak membuat Eka Tjipta Widjaja menjadi semakin
sibuk dan kaya. Ia juga mulai merambah ke bisnis kertas. Hal ini dibuktikan
dengan dibelinya PT Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per
tahun dan bisa memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun. Pemilik Sinarmas
Group ini juga membangun ITC Mangga Dua dan Green View apartemen yang berada di
Roxy, dan tak ketinggalan pula ia bangun Ambassador di Kuningan.
Eka Tjipta Widjaja mempunyai keluarga yang selalu mendukungnya dalam hal bisnis dan kehidupannya. Beliau menikah dengan seorang wanita bernama Melfie Pirieh Widjaja dan mempunyai 7 orang anak. Anak-anaknya adalah Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, dan Meilay Widjaja.
Eka Tjipta Widjaja mempunyai keluarga yang selalu mendukungnya dalam hal bisnis dan kehidupannya. Beliau menikah dengan seorang wanita bernama Melfie Pirieh Widjaja dan mempunyai 7 orang anak. Anak-anaknya adalah Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, dan Meilay Widjaja.
4. Anthony Salim

Anthony Salim alias Liem Hong Sien, CEO Group Salim (generasi
kedua) terpilih sebagai salah seorang 10 Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005
versi Warta Ekonomi. Dia dinilai berhasil membangun kembali kerajaan bisnis
Salim Group, setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi 1998.
Sebelum krisis moneter dan ekonomi 1998, Group Salim terbilang
konglomerasi terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 milyar (sekitar
Rp 100 trilyun). Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Liem Sioe Liong,
pendiri Grup Salim, sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Bank Central Asia (BCA), miliknya di-rush pada saat krisis multidimensional 1998
itu. Untuk mengatasinya, terpaksa menggunakan BLBI dan akibatnya berutang Rp 52
trilyun. Anthony yang sudah dipercayakan memegang kendali perusahaan
menggantikan ayahandanya Sudono Salim (Liem Sioe Liong) ini pun bertanggung
jawab.
Dia melunasi seluruh utangnya, walaupun harus terpaksa melepas
beberapa perusahaan. Di antara perusahaan yang dilepas adalah PT Indocement
Tunggal Perkasa, PT BCA (kemudian dikuasai Farallon Capital dan Grup Djarum)
dan PT Indomobil Sukses Internasional.
Namun, dia tetap mempertahankan beberapa perusahaan, di
antaranya PT Indofood Sukses Makmur Tbk, dan PT Bogasari Flour Mills, yang
merupakan produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia. Selain itu juga
berkibar beberapa perusahaan di luar negeri, di antaranya di Hong Kong,
Thailand, Filipina, Cina dan India.
Majalah Globe Asia menobatkan Anthony Salim, bos Grup Indofood
sebagai taipan terkaya ketiga Indonesia. Dia berada di bawah posisi Budi
Hartono (Grup Djarum) dan Eka Tjipta Widjaja (Grup Sinar Mas). Menurut
perhitungan majalah itu - yang didasarkan pada nilai kepemilikan saham baik
yang listed atau non listed - Anthoni memiliki harta US$ 3 miliar atau sekitar
Rp 27 triliun.
Kini Indofood terus tumbuh dan berkembang sebagai raja industri
makanan di Indonesia. Bahkan, bisnis Indofood kian terintegrasi dan bergerak
dari hulu hingga hilir. Perusahaan ini bergerak di sektor agribisnis, industri
tepung terigu, produk makanan hingga menguasai jalur distribusi.
Sejumlah produk konsumen bermerek made in Indofood sudah dikenal
luas di kalangan masyarakat Indonesia, seperti mie instan (Indomie, Supermi dan
Sarimi), susu Indomilk, tepung terigu Bogasari (Segitiga Biru, Kunci Biru dan
Cakra Kembar), minyak goreng (Bimoli) hingga mentega (Simas Palmia).
Di bawah komando Anthony, pada tahun lalu, Indofood membukukan
laba bersih Rp 2 triliun. "Kami senang, meskipun harga komoditas terus
bergejolak, namun kami berhasil mencapai rekor laba bersih tertinggi,"
ujar Anthony dalam laporan keuangan Indofood 2009 yang dipublikasikan baru-baru
ini.
Menurut dia, Indofood berhasil melewati berbagai tantangan dalam
kurun waktu lima tahun yang sulit ini. Bisnis model yang terdiri dari agribinis
dan non-agribisnis, telah membuktikan ketangguhannya dalam dua tahun terakhir
ini saat harga komoditas bergejolak.
Dia mengakui krisis ekonomi global 2008 memang mengakibatkan
penurunan harga berbagai komoditas secara tajam dan menurunkan tingkat inflasi.
Pendapatan divisi agribisnis Indofood juga terpengaruh. Nilai penjualan
Bogasari juga menurun karena harga tepung turun. Namun, dia menekankan
turunnya harga komoditas justru berdampak positif bagi Produk Konsumen
Bermerek. Permintaan atas produk konsumen bermerek meningkat seiring naiknya
daya beli konsumen.
Untuk mengambil peluang yang ada dan mempertahankan kepemimpinan
pasar, Indofood memilih memperkuat brand equity melalui investasi secara terus
menerus di berbagai merek yang kami miliki. "Kami fokuskan program
komunikasi menyeluruh untuk meningkatkan awareness konsumen guna menjaga
loyalitas."
Di samping itu, dia mengaku meluncurkan berbagai produk baru
yang inovatif dan sesuai kebutuhan pasar. Dua varian baru cup noodles yang
diluncurkan pada 2009, kata dia, sangat sukses di pasaran. Untuk menembus pasar
di daerah pedesaan, Anthony menyebutkan Indofood mengembangkan program “Raja
Desa”. Tujuannya, untuk memperdalam penetrasi distribusi dan meningkatkan
ketersediaan produk-produk di pedesaan.
Putra Liem Sioe Liong ini tak mau kerajaan bisnisnya, PT
Indofood Sukses Makmur Tbk., berhenti berekspansi dan berinovasi. “Setiap
perusahaan harus berbenah diri, apalagi dalam iklim kompetisi,” kata Anthony.
Untuk mendukung rencananya itu, Anthony pun menggandeng Nestle S.A. Keduanya
sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle. Deal bisnis antara
dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung pada pendirian PT Nestle Indofood
Citarasa Indonesia. Perusahaan berstatus PMA ini menyedot dana Rp50 miliar,
dengan masing-masing pihak menyetor 50%.
“Pendirian usaha patungan baru ini akan menciptakan peluang
untuk memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki kedua perusahaan,”
kata Anthony. Ia percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya
bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham. Perusahaan
tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan, pemasaran, dan
distribusi produk kuliner. Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi
penggunaan merek produk kuliner kepada Nestle-Indofood. Indofood sendiri
memiliki kekuatan pada profil produksi rendah biaya, jangkauan distribusi yang
luas, dan kecepatan menjangkau konsumen melalui anak perusahaannya, PT
Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di bidang industri bumbu penyedap
makanan.
Anthony melihat bahwa perusahaan yang dipimpinnya adalah kapal
yang besar dengan 50.000 karyawan. Harus ada komunikasi yang baik agar kinerja
perusahaan dapat terfokus tajam dalam melihat pasar. Kata Anthony, sebenarnya
aktivitas bisnis yang dilakukan selama ini banyak, hanya saja tidak terlihat.
“Indonesia masih menjanjikan imbal hasil yang tinggi dalam bisnis,” ungkapnya.
KARIR
CEO Salim Group (0)
Presiden Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (2004)
Non-Executive Chairman and Chairman of Nomination Committee
First Pacific Company Ltd (2003)
Former Non-executive Director Elders Limited
Member of International Advisory Board Allianz SE
President Commissioner Fastfood Indonesia PT
Former President Commissioner PT Indomobil Sukses Internasional
Tbk
President Director and Member of the Board of the Directors PT
Indofood CBP Sukses Makmur
PENGHARGAAN
Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005
5. Peter Sondakh


Hari itu tentu menjadi momen menyedihkan bagi Peter Sondakh,
ayahnya B.J Sondakh wafat secara mendadak pada tahun 1975. Sang ayah
meninggalkan keluarga dan bisnis yang telah dirintisnya sejak awal di tahun
1954 berupa produksi minyak kelapa dan ekspor kayu. Setelah ayahnya wafat,
Peter Sondakh yang baru berumur dua puluh dua, mengganti posisi ayahnya menjadi
tulang punggung untuk menafkahi keluarganya dari seorang ibu dan empat saudara
perempuan. Dia juga mengambil alih bisnis ayahnya, padahal kala itu sebagian
besar karyawan telah seusia ayahnya.
Naluri bisnis ayahnya mengalir deras dalam tubuh Peter, namanya
tercatat sebagai pemegang saham PT Bumi Modern sejak 1976. Saat itu, Peter baru
berusia 24 tahun. Lalu pada tahun 1984 dia kemudian sukses membesarkan
perusahaannya di bawah bendera PT Rajawali Wira Bhakti Utama. Perusahaan inilah
cikal bakal dari Grup Rajawali, perusahaan holding yang kemudian di kenal
dengan nama PT Rajawali Corporation (RC). Kabarnya, salah satu proyek
yang berkontribusi pada awal kemajuan bisnisnya saat Peter mendapat kesempatan
menjual lahan kedutaan Indonesia di Singapura pada tahun 80an.
Satu hal yang selalu diingat oleh Peter Sondakh adalah keinginan
ayahnya untuk membuka sebuah hotel. Seiring waktu berjalan, peluang untuk
mewujudkan impian ayahnya itu terbuka lebar ketika melalui PT Bumi Modern Peter
berhasil menggandeng Asuransi Bumi Putera untuk membangun Hotel Hyatt di
Surabaya. Setelah itu, bersama Bambang Trihatmodjo, putra presiden Indonesia,
Soeharto, mereka kemudian membangun Grand Hyatt di Jakarta. Bambang adalah
mitra bisnis pertamanya.
Kerjasama Peter Sondakh dengan keluarga Cendana terus berlanjut.
Setelah sukses membangun Grand Hyatt, mereka kemudian memperluas jangkauan
bisnis dengan mendirikan jaringan televisi swasta pertama di Indonesia Rajawali
Citra Televisi Indonesia (RCTI). Hebatnya, mulai periode 1976-1996 Grup
Rajawali telah memiliki lima sektor usaha, yaitu: pariwisata, transportasi,
keuangan, perdagangan, dan jasa telekomunikasi.
Pada saat Peter Sondakh menjalankan bisnis hotel dan
televisinya, tahun 1991 pemerintah Indonesia menawarinya bisnis baru, yaitu
menangani perusahaan yang hampir bangkrut, PT Bentoel Group. Peter Sondakh pun
menerima tawaran tersebut dan perlahan namun pasti mampu menaikkan citra PT
Bentoel kembali. Akhirnya Pada tahun 1999, PT Bentoel Group sudah mulai
menunjukkan adanya keuntungan.
Peter Sondakh dikenal sebagai pebisnis ulung dan piawai dalam
menggunakan koneksi tingkat tinggi. Bersama Bambang Trihatmodjo, Grup Rajawali
ikut membangun Plaza Indonesia bersama PT Bimantara. Rajawali juga merambah
sektor telekomunikasi dengan mendirikan Excelcomindo Pratama, yang dioperasikan
sejak 1996 dan kemudian dijual ke Telekom Malaysia.
Toh, perjalanan bisnis Peter tak selalu berjalan mulus. Krisis
moneter 1997-1998 sempat menenggelamkan nama Peter Sondakh dalam kancah bisnis
di Indonesia. Seperti beberapa konglomerat yang lain, ia juga menanggung utang
yang luar biasa besar kepada BPPN sebesar Rp 2,1 triliun yang berasal dari 17
anak perusahaannya. Tetapi, tak jelas dari mana Peter kemudian bisa membayar
utangnya. Ramai diberitakan media, pada 2000 semua utang tersebut dinyatakan
lunas.
Peter terpaksa melepaskan kepemilikan sahamnya di Apotek
Guardian, RCTI, dan Lombok Tourism. Bahkan bank miliknya, Bank Pos, ikut
dibekukan karena kesulitan likuiditas akibat krisis. Namun, seperti burung
Rajawali, Peter Sondakh kelihatan pantang menyerah mengepakkan sayap usahanya.
Mata dan nalurinya setajam Rajawali, mampu mengendus peluang bisnis yang layak
ditubruk. Tak heran, gebrakannya lewat perusahaan holding yang didirikannya, PT
Rajawali Corporation, belakangan kerap mengejutkan publik.
Sekali lagi Peter membuktikan ketangguhannya dengan mampu
melewati krismon di kala beberapa konglomerat lainnya ada yang gulung tikar.
Setelah restrukturisasi grup usahanya, aksi menonjol yang pertama kali
dilakukan adalah mendirikan NetToCyber Indonesia bergerak di bidang jasa
Broadband Internet, Virtual Private Network, Internet Data Centre, dan Network
Integration pada 2001. Sayangnya, kiprah perusahaan ini tak begitu terdengar.
Setelah itu, kabar mengenai kiprah bisnis Peter mendadak sepi.
Apakah Peter meninggalkan arena bisnis tanah air? Ternyata tidak.
Selama menyepi, rupanya Sang Rajawali tengah mempersiapkan langkah
kebangkitannya. Memasuki tahun 2005, Peter membuat kejutan. Aksi korporat yang
atraktif adalah ketika ia menjual 27,3% sahamnya di Excelcomindo yang
sebenarnya termasuk salah satu bintang industri telekomunikasi nasional kepada
Telekom Malaysia Group pada 2005. Nilai saham tadi setara dengan US$ 314 juta.
Langkah divestasi ini berlanjut pada 2007 ketika Rajawali
melepaskan 15,97% sahamnya di Excelcomindo senilai US$ 438 juta kepada Etisalat
(perusahaan telekomunikasi Uni Emirat Arab). Dana dari penjualan saham ini
kemudian digunakan untuk membeli 24,9% saham PT Semen Gresik senilai US$ 337
juta dari Cemex (Cementos Mexicanos) pada 2006.
Kepakan sayap Rajawali terus berlanjut, dengan mengangkasa
menembus industri perkebunan dan pertambangan. Pada 2006, Rajawali terjun ke
bisnis perkebunan sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Sumatera yang
dalam sub-holding PT Jaya Mandiri Sukses Group. Sementara itu, industri
pertambangan di Kalimantan dirambah grup usaha ini tahun 2007 melalui PT
International Prima Coal.
Aksi korporatnya yang lebih menghebohkan lagi ketika pada
pertengahan 2009, Peter telah melepaskan 56,96% sahamnya di PT Bentoel senilai
Rp 3,35 triliun kepada British American Tobacco (BAT). Alasannya, Rajawali
sebagai investment company ingin memfokuskan perhatian pada bidang properti,
pertambangan, dan perkebunan. Dengan ketiga pilar bisnis inilah tampaknya
Rajawali ingin menjadi global player yang disegani.
Ambisi ini memang dibuktikan dengan agresifnya Grup Rajawali
memperluas jaringan hotelnya di kawasan Indonesia seperti jaringan hotel
bintang lima Sheraton di Bali, Lampung, Bandung dan Lombok, serta di Kuala
Lumpur dan Langkawi. Masih ditambah dengan pengembangan Hotel Saint Regis
(Bali) dan Novotel (Lombok). Bisnis pertambangan pun makin diseriusi Rajawali.
Pada 2009, Rajawali mengakuisisi 37% saham Archipelago Resources (yang
mengelola tambang emas) seharga US$ 60 juta. Kemudian, Rajawali membentuk
perusahaan patungan dengan PT Bukit Asam di Kal-Tim.
Walaupun mengaku ingin fokus pada tiga sektor, Grup Rajawali ini
sempat diberitakan mengincar saham PT Garuda Indonesia. Entah kenapa rencana
itu batal dan Rajawali memilih join dengan pemerintah Kamboja mendirikan
National Airlines sebagai flag carrier di negara itu. Ya, dengan segudang dana
tunai hasil penjualan sahamnya di perusahaan-perusahaan bonafide yang
dimilikinya, Peter akhirnya bisa lebih leluasa kembali mengepakkan sayap
bisnisnya. Terutama dalam memantapkan ambisinya menguasai tiga bidang andalan
baru itu.
Saat ini, Rajawali menjelma sebagai organisasi bisnis yang terus
belajar dan beradaptasi dengan situasi dan kondisi bisnis terkini. Memang pada
awalnya, Rajawali merupakan sebuah konglomerasi, semakin bertambahnya usia,
khususnya pada 3 – 5 tahun terakhir ini berubah menjadi investment company.
Sebagai perusahaan investasi, Rajawali hanya akan fokus pada 3 jenis bidang
usaha, yaitu: properti-hotel, coal-mining, dan agrikultur. Sebagai perusahaan
investasi tentu budaya usahanya adalah dinamis dan kreatif.
Begitulah cerita sepak terjang pengusaha sukses asal Manado yang
lahir di Malang ini. Berangkat dari bawah hingga sampai pada jejeran pebisnis
yang disegani di tanah air. Tak heran, tahun 2006, menurut Forbes, Peter
Sondakh merupakan orang terkaya nomor 12 di Indonesia. Lalu di tahun 2007
peringkatnya naik menjadi nomor 9 terkaya, dan tahun 2008 sebagai orang terkaya
nomor 6 di tanah air dengan nilai kekayaan mencapai US$ 1,45 miliar.
6. Michael Hartono

Ternyata,
banyak sekali orang Indonesia yang sukses dalam karir sehingga banyak orang
dari seluruh dunia berdecak kagum terhadapnya. Salah seorang yang masuk ke
dalam daftar orang terkaya didunia versi majalah Forbes adalah orang Indonesia.
Beliau dikenal dengan nama Michael Hartono. Saat ini beliau berumur 72 tahun.
Pria yang jago berbisnis ini berasal dari sebuh kota kecil di Jawa Tengah yang
bernama Kudus. Beliau sudah berkecimpung dalam bisnis rokok dan perbankan
selama puluhan tahun. Walaupun rokok masih menjadi hal yang diperdebatkan di
Indonesia, tapi ternyata hal ini dapat memberikan kekayaan yang berlimpah
kepada beliau. Michael Hartono adalah orang yang mampu membuat rokok
menjadi sumber kekuatan ekonominya selain perbankan. Pria dengan 4 orang anak
ini pemilik perusahaan rokok kretek yang terkenal di Indonesia. Nama rokok
kretek yang terkenal itu adalah Djarum.
Karir beliau sebagai seorang pebisnis memang tidak selalu mulus.
Kejadian buruk pun pernah dialaminya secara berturut-turur. Satu kejadian yang hampir
membuatnya gulung tikar. Pada sekitar tahung 1960an, pabrik rokoknya terbakar
habis. Lalu ayahnya yang telah mendirikan pabrik tersebut meninggal dunia.
Bersama dengan adiknya, Robert Budi Hartono, beliau berusaha mempromosikan
produk dari perusahaannya ke luar negeri. Sekarang, Djarum menjadi produk rokok
yang diminati di Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan dirinya menjadi orang
paling kaya di Indonesia dengan menghasilkan harta berlimpah yang berjumlah
kurang lebih 14 miliar Dollar AS. Selain berbisnis rokok, beliau adalah seorang
yang sangat berperan dalam bisnis perbankan. Beliau memiliki saham yang besar
di Bank Central Asia. Beliau memiliki 51 persen saham disana. Perkembangan
sektor perbankan tentu saja memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan
saham mereka. Ada banyak lagi bisnis penting yang dipegang oleh beliau.
Perkebunan sawit di daerah Kalimantan Barat adalah salah satu ladang
investasinya. Dengan luas kebun sekitar 65.000 hektar, beliau pasti mampu
meraup keuntungan yang sangat besar. Grand Indonesia pun adalah salah satu
properti milik beliau.
Nama lengkap beliau adalah Michael Bambang Hartono. Bersama
adiknya, Budi Hartono, beliau mampu
mengumpulkan kekayaan yang berlebih dari bisnis rokok, perbankan dan properti.
Pengelolaan yang baik oleh beliau menghasilkan keuntungan yang sangat besar
sekali. Walaupun rokok adalah barang yang masih menjadi kontroversi di
Indonesia, beliau masih bisa mencari celah lain untuk menghasilkan uang yang
berlimpah. Ditambah lagi, Djarum bukanlah satu-satunya pemain di industri rokok
Indonesia. Masih banyak sekali merek-merek ternama yang bersaing memperebutkan
konsumen.
Namun, hal ini tetap tidak menggoyahkan Djarum. Kekayaan yang
beliau kumpulkan memang bukan saja berasal dari rokok. Ada beberapa bisnis lagi
yang beliau lakukan agar beliau masih bisa menikmati kerja kerasnya sepanjang
hidupnya.
Kisah sukses dan profil biografi Michael Bambang Hartono yang
menjadi salah satu orang dari 1000 orang terkaya di dunia setiap tahunnya
berdasarkan majalah Forbes tidak membuat Michael menjadi sombong, tetapi beliau
tetap low profile, ia adalah orang yang ramah dan sosok yang sederhana. Oei
Hwie Siang adalah nama asli dari Michael, lahir pada tanggal 02 Oktober 1939 di
kota Semarang.
Beliau merupakan salah satu pemimpin dan pemilik dari
Djarum Group bersama dengan adiknya Robert. Beliau sangat sukses di beberapa
sektor yang menjadi cakupan Djarum Group. Tidak hanya sukses di
bisnisnya, Michael juga sangat respect dengan perannya sebagai ketua umum pada
ATNI (Asosiasi Taijiquan Nasional Indonesia), Michael menghadiri
pembukaan jambore dan turnamen nasional Taijiquan yang kedua di Gedung Langit
(Pagoda Kenpark). Turnamen ini merupakan ajang untuk seleksi atlet Indonesia
yang berbakat untuk ajang internasional.
Taijiquan adalah olahraga yang berasal dari
Tiongkok, namun Michael yakin atlet Indonesia bisa memenangkannya karena
menurutnya siapapun bisa berhasil karena setiap orang memiliki kesempatan yang
sama untuk mempelajari dengan baik. Michael mempelajari Taijiquan yang berawal
dari tahun 1247, sejak 25 tahun yang lalu. Suami dari Ikawati Budiarto ini,
mempelajarinya dari master yang berasal dari Singapura, Tan Ching Nge dan
master yang berasal dari New York, Amerika, William CC Chen. Michael mengaku
mempelajarinya hanya untuk kesehatan, membela diri dan juga untuk keseimbangan
diri. Ternyata dibalik kisah sukses dan profil biografi Michael Bambang Hartono tidak
lepas dari hobi dan kebiasaan hidup yang teratur.
Beberapa hal dibalik kisah sukses dan profil bografi
Michael Bambang Hartono
Di tengah kesibukannya yang padat mengurus Djarum
beserta beberapa perusahaan lainnya, ayah dan kakek dari empat anak dan empat
cucu ini selalu memberikan waktu untuk berlatih hobinya tersebut. Biasanya ia
menyediakan waktu satu jam dari pukul 7 sampai 8 untuk latihan. Hobinya tidak
hanya Taijiquan tetapi juga balap mobil, music, bridge sampai menembak. Ada
banyak hal yang membuatnya sangat menyukai Taijiquan, menurutnya ritme lembut,
butuh konsentrasi yang tinggi, napas harus teratur serta saat ini olahraga
Taijiquan sangat banyak diminati oleh seluruh kalangan di dunia.
Awal dari terbentuknya Asosiasi Taijiquan Nasional
Indonesia adalah ketika berlangsungnya musyawarah nasional Taijiquan di
Semarang pada tanggal 17 November 2007. Berkat kehobiannya itulah di umur yang
tidak muda saat ini ia masih fit dan tidak kalah dengan anak muda, buktinya ia
masih bisa memimpin Djarum Group dan beberapa anak perusahaan
lainnya. Kisah sukses dan profil biografi Michael Bambang
Hartono membuktikan bahwa selain bekerja keras dan berkomitmen tinggi,
kita tetap harus memperhatikan kesehatan. Karena tetap kesehatan adalah hal
yang paling utama.
Perusahaan Yang
Maju Dan Berkembang di Indonesia Tahun 2014
1.
PT Alam Sutera Realty Tbk,
PT Alam
Sutera Realty Tbk. adalah anak
perusahaan dari grup Argo Manunggal yang
bergerak di bidang property
developer, didirikan oleh Harjanto Tirtohadiguno beserta
keluarga pada 3 November 1993. Awalnya
perusahaan ini bernama PT Adhihutama Manunggal, kemudian berganti nama menjadi
PT Alam Sutera Realty Tbk pada 19 September 2007. Perusahaan ini
mengembangkan dan memanajemen properti-properti tempat tinggal, tempat usaha
komersil, tempat industri dan pusat-pusat perbelanjaan, kantor-kantor dan juga
tempat-tempat rekreasi. Perusahaan ini memiliki proyek-proyek real estate besar
di Serpong, Cibitung, Cianjur, Tanjung Pinang dan Sanur.
Pada
tahun 1994 PT Alam
Sutera Realty Tbk. mulai mengembangkan proyek pertama di sebuah kawasan terpadu
bernama Alam Sutera yang terletak di Serpong Utara, Tangerang Selatan dan Pinang, Kota Tangerang, provinsi Bantendan berlanjut hingga saat ini. Selain itu Alam Sutera
juga melakukan pengembangan ke daerah Bali. Perusahaan ini
menjadi perusahaan publik dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tanggal 18 Desember 2007.
Saat
ini perumahan Alam Sutera merupakan price
leader untuk kawasan Serpong
dimana harga tanah di Alam Sutera mencapai 13,7 jt/m2 untuk residensial dan
12,5 jt/m2 untuk komersial pada tahun 2014. Hal ini karena
dibukanya akses tol langsung (Via tol Jakarta-Merak) ke kawasan Alam Sutera
pada tahun 2009. Konsep bisnis ke depannya adalah untuk membangun properti yang
mendatangkan nilai sewa seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel, dan exhibition center.
Kawasan
yang telah berhasil dikembangkan adalah perumahan, apartemen, mall, dan superblock di kawasan Serpong,Kota
Tangerang Selatan, dengan posisi yang berdekatan dengan
beberapa pengembang besar, antara lain BSD,Summarecon
Serpong, Paramount Serpong, dan Lippo Village. Lokasi yang menjadi pusat pengembangan saat oleh Alam
Sutera adalah Alam Sutera Superblock (kawasan komersial dan juga perumahan
Sutera Victoria) dan perumahan Suvarna Padi Golf Estate di Pasar Kemis Tangerang. Perumahan ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum dan
sosial seperti rumah ibadah, taman bermain, rumah sakit, mal dan hotel.
Pada
tahun 2012, perusahaan ini mengambil alih Garuda Adhimatra Indonesia, pemilik
dan operator proyek Garuda Wisnu Kencana.
Garuda Wisnu Kencana
(GWK) Cultural Park merupakan sebuah kawasan wisata taman budaya seluas ± 60 ha
yang terletak di Ungasan, Kabupaten Badung, Bali,
sekitar 10-15 menit berkendara dari Bandara Internasional
Ngurah Rai. Dengan rancangan patung Garuda Wisnu setinggi 126
meter dan lebar sayap membentang sekitar 64 meter sebagai daya tarik
utama, GWK Cultural Park menawarkan
salah satu karya seni terbesar dan paling menakjubkan yang pernah dibuat
sepanjang sejarah seni rupa Indonesia, dan sebagai representasi salah satu
warisan budaya lokal Indonesia.
Yayasan
Garuda Wisnu Kencana yang salah satu pendirinya adalah juga penggagas
ide besar di balik konsep Garuda Wisnu Kencana, Bapak I
Nyoman Nuarta, memprakarsai ide proyek ini pada tahun 1992 dengan
visi menjadikannya sebagai landmark Bali yang dikenal dalam dunia pariwisata
Indonesia. Gagasannya diwujudkan dengan mengolah kawasan eksisting berupa batu
kapur dengan pendekatan olah seni lahan (land art) yang menyatu dengan konsep
Arsitektur Landscape modern yang senantiasa memperhatikan keselarasan antara
manusia, alam dan sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai alternatif
infrastruktur pariwisata buatan abad ke-21, GWK Cultural Park saat ini tengah
berkembang menjadi taman budaya yang menyuguhkan berbagai acara yang meliputi
pameran budaya, acara dan atraksi hiburan serta menjadi forum informasi dan
komunikasi untuk budaya lokal setempat, nasional, regional dan bahkan
internasional.
Menemukan lokasi yang
sempurna untuk sebuah proyek mega struktur bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan
waktu dua tahun sejak awal dikembangkannya konsep proyek ini, sebelum akhirnya
menemukan tempat yang sesuai. Sebuah area bekas tambang kapur di bukit tandus
di sebuah desa bernama Ungasan. Walaupun wilayah ini begitu terpencil dan
terisolasi, namun Yayasan GWK melihat potensi sangat baik, sehingga
menginspirasi Yayasan untuk merehabilitasinya.
Untuk merancang dan
mewujudkan patung raksasa ini, Yayasan GWK menunjuk I
Nyoman Nuarta, salah satu pematung modern terbaik Indonesia.
Setelah peletakan batu pertama pada Juni 1997, taman budaya mulai dipromosikan
secara terbuka pada tahun 2000 dengan
mengekspos dan memamerkan beberapa bagian dari patung Garuda Wisnu, dibarengi
dengan beberapa uji coba untuk sejumlah fasilitas pendukung.
Singkat cerita, sejak
tahun 2013 kepemilikan
dan pengelolaan GWK Cultural Park beralih ke PT Alam Sutera Realty, salah satu
perusahaan properti terkemuka di Indonesia, GWK Cultural Park kini juga
menawarkan sejumlah fasilitas ideal untuk berbagai macam acara, baik acara
tertutup maupun umum, kecil atau besar, lokal maupun internasional.
Infrastruktur pendukung seperti Plaza Wisnu, Street Theatre, Lotus Pond,
Amphitheater, ruang Pameran & Galeri Seni, Indraloka Garden, Tirta Agung,
beberapa restaurant andalan GWK seperti Jendela Bali dan The Beranda, serta
beberapa Butik & Toko Cinderamata – semuanya telah siap melayani
pengunjung.
Alam Sutera Meraih Penghargaan di Properti Indonesia
Award 2015 dan Golden Property Awards 2015
Jakarta, 27 Agustus
2015 - PT Alam Sutera Realty Tbk. meraih penghargaan The
Well Implemented Township Project dari Properti Indonesia Award 2015
(PIA-2015) yang diselenggarakan pada Rabu, 19 Agustus 2015 dan berbagai
penghargaan di Golden Property Awards 2015 yang diselenggarakan
oleh Indonesia Property Watch pada Rabu, 26 Agustus 2015.
Penghargaan tersebut antara lain: Best Township Development Project untuk Alam
Sutera, Best Urban Living Apartment Region Banten untuk Kota
Ayodhya, Most Influential Property Professional untuk Ibu
Lilia S. Sukotjo – Marketing Director PT Alam Sutera Realty Tbk.
Properti Indonesia
Award 2015 (PIA-2015) merupakan ajang apresiasi ketiga kalinya yang
diselenggarakan oleh Majalah Properti Indonesia untuk insan properti dan
industri penunjangnya. Penghargaan ini diberikan kepada karya kreatif dan para
pelaku industri properti, sektor pendukung serta pemerintah daerah atas
keberhasilannya melakukan percepatan pembangunan di wilayahnya masing-masing.
Golden Property Awards merupakan ajang
penghargaan yang diharapkan menjadi barometer apresiasi dan penghargaan
tertinggi dalam bisnis properti di Indonesia. Sebagai lembaga riset dan
konsultan properti yang berpengalaman, Indonesia Property Watch menitikberatkan
penghargaan yang ada berdasarkan penilaian dan riset sesuai dengan kriteria
yang terukur, teruji, dan independen.
2.
ACE Hardware Indonesia
PT ACE
Hardware Indonesia Tbk adalah sebuah perusahaan ritel yang bergerak dalam
bidang perlengkapan rumah dan produk-produk gaya hidup. Pada akhir 2014,
perusahaan ini mengelola jaringan dari 110 toko ritel di beberapa kota besar di
Indonesia. Dengan total area lantai toko yang lebih luas dari 255.000 meter
persegi, ACE Hardware adalah salah satu jaringan modern terbesar dari bisnis
ritel perlengkapan rumah dan gaya hidup di Indonesia.
ACE
Hardware Indonesia adalah pemegang waralaba (franchise) merek ACE Hardware (ditunjuk
oleh ACE Hardware Corporation yang berbasis di AS).
Ace
Hardware Corporation (AHC) merupakan perusahaan ritel global yang berdiri
pertama kali pada tahun 1924 di Chicago, Amerika Serikat, dengan pendirinya
bernama Richard Hesse. Dan sejak saat itu, AHC terus berkembang pesat. Pada
tahun 1968, Ace Hardware untuk pertama kalinya membuka toko diluar Amerika,
ketika itu di Kepulauan Guam. Dan pada tahun 1990, AHC mulai bekerja sama
dengan perusahaan-perusahaan lokal di tiap-tiap negara untuk membuka toko
(setelah sebelumnya hanya membuka toko miliknya sendiri), dengan konsepnya yang
kurang lebih sama dengan sistem franchise Alfamart atau Indomaret.
Kemudian
pada tahun 1995, AHC masuk ke Indonesia dengan bekerja sama dengan Grup
Kawan Lama, dimana kedua belah pihak sepakat untuk mendirikan PT Ace
Hardware Indonesia (ACES), namun 100% saham ACES sepenuhnya dipegang pihak
Kawan Lama (menjadi 60% setelah perusahaan go public pada tahun 2007, dimana
40%-nya dipegang investor publik). Dalam kontraknya, ACES diharuskan untuk
membayar royalti kepada AHC, namun nilai royaltinya nggak besar, cuma Rp17
milyar pada Semester I 2013 (bandingkan dengan pendapatan perusahaan yang
mencapai Rp1.8 trilyun). Dan sebagai gantinya ACES memperoleh hak eksklusif
untuk menggunakan merk ‘Ace Hardware’, dan juga hak eksklusif untuk membeli
produk - produk home improvement dari AHC, dimana kontak hak eksklusif tersebut
baru akan selesai pada tahun 2024.
Dalam
perkembangannya sejak membuka gerai pertama di Karawaci, Tangerang, pada tahun
1996, ACES terus berkembang pesat dan menjadi salah satu anak usaha Grup Kawan
Lama yang paling sukses sejauh ini. Hingga hari ini, atau 18 tahun sejak
didirikan, ACES sudah memiliki total 85 toko/gerai di seluruh Indonesia, dan
masih akan terus bertambah. Pihak manajemen sendiri, terutama sejak perusahaan
go public pada tahun 2007, mentargetkan akan membuka setidaknya 15 gerai anyar
setiap tahunnya, thanks to meningkatnya jumlah penduduk kalangan menengah di
Indonesia dalam lima tahun terakhir ini.
Dan
sejak tahun 2010 lalu, ACES membuka unit usaha baru, yaitu Toys Kingdom,
yaitu toko yang secara khusus menjual mainan, tidak hanya mainan anak-anak tapi
juga orang dewasa, hingga perlengkapan bayi. Seperti juga toko Ace
Hardware-nya, di Toys Kingdom ini anda akan menemukan mainan-mainan berkualitas
bagus yang tidak ada di toko lain. Sejauh ini ACES sudah memiliki 16 gerai Toys
Kingdom dengan lokasi yang masih terkonsentrasi di Jakarta, yang ditargetkan
akan tumbuh menjadi 21 gerai pada akhir tahun 2013. Sehingga secara
keseluruhan, ACES menawarkan prospek pertumbuhan yang menarik.
Kinerja
Perusahaan & Sahamnya
Penulis
sudah mengamati ACES ini sejak lama, sejak harga sahamnya masih di 4,000-an
(sebelum stocksplit, setara dengan 400 pada saat ini). Ketika itu penulis
sampai pada kesimpulan bahwa meski kinerja perusahaannya bagus, namun harga
sahamnya nggakaffordable alias kelewat mahal, dengan PER ketika itu
mencapai lebih dari 25 kali. Selain itu, kalau berdasarkan pengalaman penulis
sendiri, penulis sangat jarang membeli sesuatu di Ace Hardware, kecuali jam
dinding yang sudah diceritakan diatas, kurang lebih setahun yang lalu. Hal ini
berbeda dengan toko retail biasa seperti Carrefour, Hero, Ramayana, Hypermart,
hingga minimarket seperti Alfamart, dimana penulis lumayan sering belanja
disitu. Jadilah ketika itu penulis berkesimpulan bahwa ACES akan mengalami
kesulitan jika Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang pada
akhirnya berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Karena memang,
barang-barang yang dijual Ace Hardware rata-rata harganya kelewat mahal sih..
Namun
faktanya hingga laporan keuangan terakhir perusahaan per Kuartal II 2013,
kinerja ACES sejauh ini malah merupakan salah satu yang terbaik di sektor
ritel, dengan ROE yang mencapai 22.3%. Sementara catatan pertumbuhannya dalam
tiga tahun terakhir (sejak 2010) juga luar biasa, dengan laba bersih yang
hampir berlipat dua setiap tahunnya. Kalau yang penulis perhatikan, pertumbuhan
ACES yang cepat tersebut turut terdorong oleh booming properti di Indonesia
dalam 3 tahun terakhir ini, dimana banyak mall-mall baru yang didirikan di
Jakarta dan sekitarnya, belum termasuk mall-mall yang didirikan di daerah
lainnya di Pulau Jawa, sehingga ACES jadi punya banyak tambahan tempat untuk
membuka gerai baru. Intinya, jika sektor properti masih seperti sekarang ini
hingga dua tiga tahun kedepan, maka ACES juga masih berpeluang untuk mencatat
pertumbuhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Terakhir, ACES membuka gerai
ke-85-nya di Kota Solo, Jawa Tengah, sekaligus merupakan gerai keduanya di
kotanya Jokowi tersebut. Dan coba tebak? Gerai anyar tersebut bisa berdiri
karena adanya mall baru di Solo, yakni Hartono Mall, yang baru beroperasi pada
tahun ini. Sementara gerai milik ACES sebelumnya berlokasi di Solo Square Mall.
Tapi
jika nanti pembangunan mall-mall anyar berhenti, maka bagaimana pertumbuhan
ACES kedepannya? Ya tentunya masih akan tumbuh, hanya saja tidak akan sekencang
sebelumnya. Namun mengingat ACES juga punya Toys Kingdom, yang sejauh ini
jumlah gerainya masih sedikit, maka angka pertumbuhan yang tercatat dalam tiga
tahun terakhir kemarin berpeluang untuk dipertahankan, atau bahkan tumbuh lebih
tinggi lagi, jika Toys Kingdom tersebut sukses (sekarang masih dirintis). Dari
pendapatan ACES sebesar Rp1.8 trilyun di Semester I 2013, Toys Kingdom baru
berkontribusi sebesar Rp73 milyar saja, namun angka tersebut tumbuh signifikan
(55.7%) dibanding periode yang sama tahun 2012, yang hanya Rp47 milyar.
Kesimpulannya,
berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan justifikasi kenapa
ACES ini mahal (PER dan PBV masing-masing 34.3 dan 7.8 kali pada harga 740),
yakni:
Sektornya
unik, dan perusahaan berstatus sebagai market leader di sektornya tersebut.
Nama dan brand perusahaan juga cukup dikenal oleh publik.
Kinerjanya
sangat baik untuk ukuran perusahaan ritel.
Nama
besar Grup Kawan Lama sebagai pengelola perusahaan. Kawan Lama sejak dulu
memang sudah sangat terkenal sebagai perusahaan distributor barang-barang
perkakas terbesar di Indonesia.
Sementara
merk ‘Ace Hardware’ sendiri merupakan merk ritel global yang cukup terkenal,
hampir sama terkenalnya dibanding Walmart, The Home Depot, atau IKEA. Ace
Hardware Corporation secara total memiliki 4,077 gerai diseluruh dunia per
akhir tahun 2012, termasuk melalui ACES di Indonesia
Perusahaannya
punya peluang untuk me-maintain momentum pertumbuhannya, seiring dengan
masih berkembangnya sektor properti, masih meningkatnya jumlah penduduk
kalangan menengah, dan karena adanya venture baru di bidang ritel
produk mainan (Toys Kingdom), dan
ACES
merupakan satu-satunya perusahaan ritel khusus produk-produk home
improvement di BEI, sehingga anda tidak bisa invest di saham lain kalau
tertarik untuk masuk ke sektor ini.
Disisi
lain, berikut adalah beberapa hal yang patut pula anda pertimbangkan sebelum
memutuskan untuk invest di ACES ini:
Valuasi
ACES biar bagaimanapun memang mahal, bahkan meski dia sudah turun lumayan dalam
dari puncaknya (1,120) karena melemahnya IHSG. Dalam hal ini penulis jadi ingat
dengan saham Mitra Adiperkasa (MAPI), yang meski perusahaannya bagus,
namun sahamnya sejak awal juga memang sudah mahal (MAPI ini perusahaan ritel
juga). Dan entah karena faktor valuasi tersebut atau lainnya, faktanya MAPI
menjadi salah satu saham yang paling terpukul seiring terkoreksinya IHSG
akhir-akhir ini, dimana MAPI sudah turun hampir 40% dari posisi puncaknya.
Meski
kinerja ACES sejauh ini masih bagus, namun kinerja Ace Hardware Corporation
(AHC) justru terus turun sejak mengalami puncaknya pada tahun 2007 lalu. Meski
itu mungkin karena perekonomian Amerika dan Eropa sedang melambat, berbeda
dengan perekonomian Indonesia justru sedang bagus-bagusnya, namun tidak ada
salahnya jika hal ini kemudian anda jadikan catatan.
Besaran
royalti yang dibayarkan ACES ke AHC selama ini terbilang sangat kecil. Jika
nanti sewaktu-waktu royalti tersebut dinaikkan, maka bukan tidak mungkin saham
ACES akan mengalami nasib seperti saham Unilever Indonesia (UNVR), atau Holcim
Indonesia (SMCB), yang langsung jatuh begitu keluar pengumuman soal royalti
tersebut. Meski disisi lain itu justru merupakan peluang untuk buy di harga
murah meriah (karena faktanya UNVR dan SMCB langsung naik lagi), tapi hal itu
akan jadi risiko jika anda membeli ACES di harga saat ini.
Pertumbuhan
gerai-gerai baru ACES nyaris sepenuhnya bergantung pada pembangunan mall-mall
baru. Kalau kita perhatikan Jakarta dan sekitarnya sih, memang mall-mall baru
tersebut terus bermunculan seperti jamur di musim hujan. But honestly, penulis
tidak pernah tahu kapan ‘musim hujan’ tersebut akan berakhir, karena mall
bukanlah jenis properti yang bisa dibangun dalam jumlah massal, seperti
perumahan, apartemen, gedung perkantoran, atau kawasan industri. Adalah aneh
jika dalam satu lokasi, terdapat banyak mall sekaligus.
3.
PT. MEDIA NUSANTARA CITRA Tbk ( MNC )
PT
Media Nusantara Citra Tbk lebih
dikenal dengan nama MNC saja
merupakan sebuah perusahaan yang
bergerak dalam bidang media yang
berpusat di Jakarta, Indonesia, didirikan pada tahun 1997. Satu dekade
kemudian, 22 Juni 2007 perusahaan ini resmi melantai di bursa saham dengan kode
emiten atau ticker MNCN. Saat ini, mayoritas saham digenggam oleh Global
Mediacom dengan porsi saham sekitar 65,12% dan masyarakat sekitar 34,9% Saham MNC terhitung liquid dan
memiliki tren peningkatan signifikan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan
Anggaran Dasar Perseroan,yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, MNC bergerak
dibidang perdagangan umum, pembangunan, perindustrian, pertanian, pengangkutan,
percetakan, multimedia melalui perangkat satelit dan perangkat telekomunikasi
lainnya, jasa dan investasi.
Bisnis
utama perseroan saat ini adalah media. Sumber pendapatan terbesar MNCN berasal
dari tiga media televisi nasional yaitu RCTI, Global TV, dan MNCTV. Ketiga stasiun televisi nasional tersebut menawarkan
acara beragam seperti film-film box office, acara olahraga, pencarian bakat,
reality show, acara musik, berita, infotainment.
MNCTV (sebelumnya bernama TPI) adalah stasiun televisi swasta Indonesiayang mengudara secara terestrial dari Jakarta. Namanya yang
sekarang dipergunakan sejak 20 Oktober 2010.
MNCTV
merupakan stasiun televisi swasta ketiga di Indonesia setelah RCTIdan SCTV. MNCTV didirikan
oleh Mbak
Tutut dan dulu sebagian besar sahamnya dimiliki oleh PT Cipta
Lamtoro Gung Persada.
Pada
tahun 2009 sampai
dengan tahun 2010, MNCTV tidak
menyiarkan acara olahraga. Tetapi, mulai tahun 2010 hingga 2013, MNCTV kembali
menyiarkan acara olahraga yaitu Liga
Utama Inggris.
Pada
tahun 2011, MNCTV juga
memiliki hak siar dalam ajang sepak bola Liga
Prima Indonesia, bersama RCTI dan Global TV.
TPI
pertama kali mengudara pada 1 Januari 1991 selama
2 jam dari jam 19.00-21.00 WIB. TPI diresmikan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1991 di
Studio 12 TVRI Senayan, Jakarta Pusat. Pada awal pendiriannya tahun 1991TPI hanya ingin
menyiarkan siaran edukatif saja.
Saat itu TPI hanya mengudara 4 jam. Salah satunya dengan bekerjasama dengan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyiarkan materi pelajaran pendidikan
menengah. Sejak itu TPI mengudara 4 jam, lalu sejak 1 Juni 1991 menjadi
6,5 jam. Lalu menjelang akhir 1991 sudah 8
jam.
Pada
tahap awal pendiriannya, TPI berbagi
saluran dengan televisi milik pemerintah, TVRI. Perlahan-lahan
mereka mengurangi misi edukatif, dengan juga menyiarkan acara-acara lain,
termasuk kuis-kuis dan sinetron sebagai
selingan.
TPI
berpisah saluran dengan TVRI di pertengahan 90-an dikarenakan parabola analog
ke digital. Program edukasi pun tergusur, dan TPI fokus di program acara musik
dangdut, seolah acara lain yang disebut 'makin Indonesia' dalam motto barunya
seakan tenggelam oleh hingar bingar acaradangdut di
TPI. Bahkan TPI sebagai kependekan dari Televisi Pendidikan Indonesia sudah
tidak berlaku lagi.
Dalam
situs web resmi TPI, disebutkan TPI adalah Televisi
Paling Indonesia, sesuai dengan misi barunya, yakni menyiarkan acara-acara khas
Indonesia seperti tayangan sinetron lokal
dan musik dangdut. TPI pernah mendapat penghargaan karena telah
bertahun-tahun menayangkan acara kuis dangdut pertama di Indonesia yaitu Kuis Dangdut yang
dibawakan oleh Jaja Mihardja dan Dorce Gamalama. Pada Festival Sinetron Indonesia 1997, serial "Mat
Angin" (Deddy
Mizwar) yang ditayangkan TPI menyabet 11
penghargaan, ditambah dengan 5 penghargaan lagi tahun berikutnya dari serial
yang sama. Tak lupa juga acara terfavorit di Indonesia yaitu Santapan
Nusantara yang dibawakan oleh Enita Sriyana, sang
pakar kuliner.
Program Kontes Dangdut Indonesia yang
merupakan versi dangdut dari kontes American Idol dan Indonesian Idol merupakan
salah satu program unggulan TPI pada saat itu.
Sejak Oktober 2003, 75% saham TPI
dimiliki oleh Media
Nusantara Citra, kelompok perusahaan media yang juga
memiliki RCTI dan Global TV. Sejak 20 Oktober 2010, TPI resmi
berganti nama menjadi MNCTV. Perubahan ini terjadi dikarenakan TPI tidak sesuai
dengan konteks tertulis pada televisi tersebut yaitu menjadi salah satu
televisi yang berbau pendidikan di Indonesia, dan oleh karena itu nama TPI
berubah menjadi MNCTV untuk mengubah citra TPI di mata masyarakat.
Penghargaan :
·
CNN Television Journalism Awards 2012
(Seputar Indonesia juara 1 untuk kategori Education News dan juara 2 untuk
kategori Best Single News Story
·
Penghargaan Panasonic Gobel Award 2012 untuk
10 kategori program dan 4 kategori perorangan antara lain program Masterchef
Indonesia, Mega Konser, Seputar Indonesia, Masterclass, Si Doel Anak Pinggiran,
Sea Games Final Malaysia, The Most Favorite Media TV Station 2012;
·
The Best in Building and Managing Corporate
Image dari Frontier Consulting Group dan Indonesias Most Favorite Netizen Brand
2012.
·
MNCTV piala silver untuk Promosi Terbaik
Media Televisi Kategori Kids
·
Piala perunggu untuk Promosi Terbaik Media
Televisi Kategori Sports
·
Anugerah Citra Pariwara 2012
·
Best Corporate Transformation 2012 kategori
Good yang diselenggarakan oleh Majalah SWA
·
Panasonic Award untuk program Sidik Kasus,
Lintas Siang dan Diantara Kita
·
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)
4. PT.
HOLCIM INDONESIA Tbk.
PT
Holcim Indonesia Tbk adalah
sebuah perusahaan semen di Indonesia. Perusahaan ini awalnya bernama PT Semen Cibinong Tbk yang
didirikan pada tahun 1971. Holcim kemudian
membeli sebagian sahamnya pada 13 Desember 2001
Holcim Indonesia memiliki dua pabrik yaitu
pabrik Narogong dan pabrik Cilacap dengan kapasitas maksimum 7,9 juta ton per
tahun. Per Juli 2008, kepemilikan saham Holcim Indonesia adalah Holcim Ltd (Swiss) sebesar 77,33%
dan publik sebesar 22,7%.
Perusahaan
ini mulai dimiliki Holcim, salah satu perusahaan semen terbesar di dunia sejak 13 Desember 2001. Pergantian nama
perusahaan dilakukan pada1 Januari 2006.
Holcim
dikenal sebagai pelopor dan inovator di sektor industri semen yang tercatat
sebagai sektor yang tumbuh pesat seiring pertumbuhan pasar perumahan, bangunan umum
dan infrastruktur. PT Holcim Indonesia Tbk satu-satunya produsen yang
menyediakan produk dan layanan terintegrasi yang meliputi 10 jenis semen, beton
dan agregat.
Kini PT Holcim Indonesia Tbk tengah
mengembangkan usaha waralaba yang unik, yakni Solusi Rumah, yang menawarkan
solusi perbaikan dan pembangunan rumah dengan biaya terjangkau dengan dukungan
lebih dari 9.200 ahli bangunan binaan Holcim, waralaba yang hingga pertengahan
2011 telah mencapai 351 gerai, dan staf penjualan via telepon yang jumlahnya
terus bertambah.
Kebutuhan untuk pasar utama PT Holcim Indonesia Tbk, yaitu Pulau Jawa, dipasok dari dua unit produksi utama dan satu stasiun penggilingan, dan semua unit ini mampu berproduksi dengan kapasitas 8.265 juta ton pertahun. Saat ini sedang dibangun unit produksi yang ketiga di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas tahunan 1,7 juta ton dan direncanakan mulai berjalan pada tahun 2013. PT Holcim Indonesia Tbk mengoperasikan banyak batching plant beton, dua tambang dan jaringan logistik lengkap yang mencakup pula gudang dan silo.
Pada tahun 2008 Holcim Indonesia menerima penghargaan tertinggi kategori lingkungan hidup dalam ajang Penghargaan Laporan Pembangunan Berkelanjutan National Corporate Social Responsibility (NCSR). Selain itu perusahaan juga meraih Penghargaan dari Presiden RI untuk bidang keselamatan kerja tahun 2008 dan penghargaan dari DuPont/Warta Ekonomi sebagai “Perusahaan Paling Peduli tentang keselamatan kerja pada tahun 2008, serta menjadi satu-satunya perusahaan yang mendapat peringkat Emas bidang manajemen keamanan dari Kepolisian Republik Indonesia.
Kebutuhan untuk pasar utama PT Holcim Indonesia Tbk, yaitu Pulau Jawa, dipasok dari dua unit produksi utama dan satu stasiun penggilingan, dan semua unit ini mampu berproduksi dengan kapasitas 8.265 juta ton pertahun. Saat ini sedang dibangun unit produksi yang ketiga di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas tahunan 1,7 juta ton dan direncanakan mulai berjalan pada tahun 2013. PT Holcim Indonesia Tbk mengoperasikan banyak batching plant beton, dua tambang dan jaringan logistik lengkap yang mencakup pula gudang dan silo.
Pada tahun 2008 Holcim Indonesia menerima penghargaan tertinggi kategori lingkungan hidup dalam ajang Penghargaan Laporan Pembangunan Berkelanjutan National Corporate Social Responsibility (NCSR). Selain itu perusahaan juga meraih Penghargaan dari Presiden RI untuk bidang keselamatan kerja tahun 2008 dan penghargaan dari DuPont/Warta Ekonomi sebagai “Perusahaan Paling Peduli tentang keselamatan kerja pada tahun 2008, serta menjadi satu-satunya perusahaan yang mendapat peringkat Emas bidang manajemen keamanan dari Kepolisian Republik Indonesia.
Pada
tahun 2010 pabrik semen PT Holcim Indonesia Tbk di Cilacap menjadi salah satu
dari hanya dua badan usaha di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan PROPER
Emas dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup “ Penghargaan tertinggi di bidang
manajemen limbah dan lingkungan hidup di Indonesia.” Pabrik kami di Narogong
berhasil memperoleh peringkat PROPER Hijau. Pada tahun itu juga, untuk ketiga
kalinya, merek Holcim dianugerahi penghargaan tahunan Superbrand merek pilihan
konsumen. Semua unit kerja perusahaan pada tahun 2010 mampu membukukan 6 juta
jam kerja tanpa satu kali pun kecelakaan menimpa karyawan.
5.
PT. GUDANG GARAM Tbk.
PT Gudang Garam Tbk. merupakan sebuah
perusahaan produsen rokok terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada
26 Juni 1958 oleh Surya Wonowidjojo. Perusahaan ini merupakan pemimpin dalam
produksi rokok kretek. Untuk menunjang produksinya, perusahaan ini memiliki
perkebunan tembakau sebesar 514 hektare di Kediri, Jawa Timur.
Gudang Garam termasuk perusahaan rokok terbesar
di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 26 Juni 1958 oleh Tjoa Ing
Hwie yang kemudian menggati namanya menjadi Surya Wonowidjojo. Tjoa Ing Hwie
atau Surya Wonowidjojo lahir di Fuqing, provinsi Fujian, China. Orangtuanya
migrasi ke Sampang, Madura saat usianya 4 tahun. Ketika ayahnya meninggal,
beliau kemudian hijrah ke Kediri, Jawa Timur.
Pada umur 20 tahunan, Surya Wonowidjojo diberi
tawaran bekerja dirumah pamannya yang dikenal dengan kretek cap 93, merk rokok
kretek paling terkenal dijamannya. Pada tahun 1956, Wonowidjojo meninggalkan
Cap 93 dengan membawa 50 karyawan.
Beliau kemudian membeli lahan di Kediri untuk
dijadikan pabrik. Pertama kali pabriknya memproduksi rokok klobot dengan merk
Inghwie, dan 2 tahun kemudian tahun 1958 beliau mengubah nama perusahaannya
menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam.
Nama Gudang Garam sendiri diambil dari mimpi
Wonowidjojo. Di mimpi tersebut beliau melihat gudang garam diseberang pabrik
Cap 93 menonjol. Sarman salah seorang dari 50 karyawan, memberi ide untuk
menempelkan foto gudang garam disetiap bungkus rokok kretek. Wonowidjojo
menganggap ini adalah ide yang baik dan meminta Sarman untuk mendesain logo
gudang garam.
Tahun 1984 kepemimpinan Gudang Garam beralih kepada
anak kandungnya sendiri yaitu Rachman Halim dimana Rachman Halim pernah
tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia dan berakhir pada tahun 2008 di
karenakan Rachman Halim meninggal dunia.
Kiprah perusahaan rokok ini dalam dunia industri
rokok di Indonesia dimulai sejak 1958, tepatnya 26 Juni 1958. Surya Wonowidjojo
adalah pencetus mulainya usaha rokok kretek dengan merek dagang "Gudang
Garam". Awalnya, usaha ini dimulai dengan hanya menggunakan alat
tradisional yang sederhana dan jumlah tenaga kerja sekitar 50 orang.
Produk pertama yang diluncurkan oleh perusahaan ini,
yaitu Sigaret Kretek Klobot (SKL) dan Sigaret Kretek Tangan (SKT). Hasil
produksi perusahaan ini pada awal berdirinya (1958) hanya sekitar 50 juta
batang. Pada mulanya, distribusi produk perusahaan ini hanya sekitar Kediri.
Setelah berjalan selama 10 tahun, perusahaan ini
menjadi semakin terkenal sehingga pendiri perusahaan mempertimbangkan untuk
mengembangkan usahanya. Pada 1969, perusahaan Gudang Garam mengubah status
menjadi sebuah Firma. Hal ini dilakukan agar dapat mengikuti perkembangan dunia
usaha.
Setelah perubahan status tersebut, perusahaan ini
pun pun mendapat dukungan dari BNI '46 berupa sokongan dana untuk kebutuhan
modal kerja. Awalnya, modal yang diberikan hanya dalam hitungan jumlah jutaan
rupiah. Seiring berkembangnya usaha, modal yang disuntikan BNI pun menjadi
milyaran rupiah.
Kemudian, pada 1971, status perusahaan berubah
menjadi Perseroan Terbatas (PT) dan mendapatkan fasilitas PMDN. Dengan status
Perseroan Terbatas, perusahaan rokok Gudang Garam semakin berkembang, baik dari
segi kualitas produksi, manajemen maupun teknologi. Dengan berkembangnya usaha
Gudang Garam, pada 1979, mulai diproduksi Sigaret Kretek Mesin (SKM).
Produksi sigaret kretek mesin ini tidak mengubah
sifat perusahaan yang menganut sistem padat karya, bahkan semakin memperluas
kesempatan kerja. Untuk memperkuat struktur permodalan dan posisi keuangan
perusahaan, maka pada 1990 PT. Gudang Garam melakukan penawaran umum untuk
menjual sebagian saham perusahaan pada masyarakat melalui bursa efek. Pada
1991, perusahaan mengembangkan sektor usaha pada bidang kertas industri melalui
PT Surya Pamenang yang berkedudukan di Kediri. Mayoritas kepemilikan saham PT
Gudang Garam Tbk. berada pada tangan PT Surya Pamenang. Pengembangan sektor
usaha ini bertujuan untuk menjamin kesinambungan pasok bahan pengepakan bermutu
tinggi. Sebelumnya, kebutuhan bahan pengepakan berkualitas masih harus diimpor.
PT Gudang Garam merupakan salah satu produsen rokok
kretek terkemuka yang menguasai pangsa pasar terbesar di Indonesia dan dikenal
sebagai produsen rokok kretek yang bermutu tinggi. Dilihat dari aset yang
dimiliki, nilai penjualan, pembayaran pita cukai, dan pajak pada Pemerintah
Indonesia, serta jumlah karyawan, PT Gudang Garam merupakan perusahaan terbesar
dalam sektor industri rokok kretek di Indonesia. PT Gudang Garam pun telah
mencatatkan sebagian saham-sahamnya di lantai bursa.
Nama besar yang disandang PT Gudang Garam tidak
lepas dari usaha manajemen yang menerapkan filosaofi yang dicetuskan pendiri
perusahaan, Surya Wonowidjojo. Filosofi yang diterapkan di perusahaan ini
dinamakan Catur Dharma Perusahaan. Berikut ini isi dari Catur Dharma perusahaan
Gudang Garam.
·
Kehidupan yang
bermakna dan berfaedah bagi masyarakat luas merupakan suatu kebahagiaan.
·
Kerja keras, ulet,
jujur, sehat dan beriman adalah prasyarat kesuksesan.
·
Kesuksesan tidak
dapat terlepas dari peranan dan kerja sama dengan orang lain.
·
Karyawan adalah
mitra usaha yang utama.
6. PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk. (
TELKOM )
Pada tanggal 14 November 1995 di resmikan PT. Telekomunikasi Indonesia .
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
(“TELKOM”, “Perseroan”, atau “Perusahaan”) adalah penyedia layanan
telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia. TELKOM menyediakan layanan InfoComm,
telepon tidak bergerak kabel (fixed wireline) dan telepon tidak bergerak
nirkabel (fixed wireless), layanan telepon seluler, data dan internet, serta
jaringan dan interkoneksi, baik secara langsung maupun melalui anak perusahaan.
Pada awalnya di kenal sebagai sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap atau dengan nama “JAWATAN”. Pada tahun 1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel),PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Dan pada tahun 1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.
Pada awalnya di kenal sebagai sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap atau dengan nama “JAWATAN”. Pada tahun 1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel),PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Dan pada tahun 1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.
Perkembangan PT Telkom di Indonesia :
1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegrap dan Telepon (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).
1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.
1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).
1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).
1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.
1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel.
1989 Undang-undang nomor 3/1989 tentang Telekomunikasi, tentang peran serta swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.
1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no.25 tahun 1991.
1995 Penawaran Umum perdana saham TELKOM (Initial Public Offering/IPO) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing/POWL) di Tokyo Stock Exchange.
1999 Undang-undang nomor 36/1999, tentang penghapusan monopoli penyelenggaraan telekomunikasi.
2001 TELKOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia, yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan transaksi ini, TELKOM menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM membeli 90,32% saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan keuangan TELKOM.
2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yaitu 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisa 55% saham pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual 12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.
PT. Telkom Juga mempunyai anak perusahaan seperti, Telkomsel, Telkomvision/Indonusa, Infomedia, Graha Sarana Duta / GSD, Patrakom, Bangtelindo, PT FINNET Indonesia.
Berikut adalah beberapa layanan telekomunikasi TELKOM:
* Telepon
1. Telepon tetap (PSTN), layanan telepon tetap yang hingga kini masih menjadi monopoli TELKOM di Indonesia
2. Telkom Flexi, layanan telepon fixed wireless CDMA
Data/Internet
1. TELKOMNet Instan, layanan akses internet dial up
2. TELKOMNet Astinet, layanan akses internet berlangganan dengan fokus perusahaan
3. Speedy, layanan akses internet dengan kecepatan tinggi (broad band) menggunakan teknologi ADSL
4. e-Business (i-deal, i-manage, i-Settle, i-Xchange, TELKOMWeb Kiostron, TELKOMWeb Plazatron)
5. Solusi Enterprise- INFONET
6. TELKOMLink DINAccess
Sampai dengan 31 Desember 2009, jumlah pelanggan TELKOM telah tumbuh sebesar 21,2% atau menjadi 105,1 juta pelanggan. TELKOM melayani 8,4 juta pelanggan telepon tidak bergerak kabel, 15,1 juta pelanggan telepon tidak bergerak nirkabel, dan 81,6 juta pelanggan telepon seluler.
Sampai dengan 31 Desember 2009, sebagian besar dari saham biasa TELKOM dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia dan sisanya dimiliki oleh pemegang saham publik. Saham TELKOM diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (“BEI”), New York Stock Exchange (“NYSE”), London Stock Exchange (“LSE”) dan Tokyo Stock Exchange (tanpa tercatat). Harga saham TELKOM di BEI pada akhir Desember 2009 adalah Rp9.450 dengan nilai kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir tahun 2009 mencapai Rp190.512 miliar atau 9,43% dari kapitalisasi pasar BEI.
Untuk menghadapi tantangan dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan mobilitas dankonektivitas tanpa putus, TELKOM telah memperluas portofolio bisnisnya yang mencakup telekomunikasi, informasi, media dan edutainment (TIME). Dengan meningkatkan infrastruktur, memperluas teknologi Next Generation Network (NGN) dan memobilisasi sinergi di seluruh jajaran TELKOMGroup, TELKOM dapat mewujudkan dan memberdayakan pelanggan ritel dan korporasi dengan memberikan kualitas, kecepatan, kehandalan dan layanan pelanggan yang lebih baik.
Pada tahun 2009, laba bersih konsolidasian kami sebesar Rp11.332,1 miliar meningkat 6,7% dibanding tahun 2008 atau 100,8% terhadap target tahun 2009. Sementara itu margin laba bersih kami sebesar 17,5% di tahun 2009 yang merupakan pencapaian 105,4% terhadap target margin laba bersih.
Prestasi keuangan tersebut didukung oleh kinerja operasional kami yang juga solid. Saat ini kami melayani 105,2 juta pelanggan, dari bisnis seluler, telepon tidak bergerak dan telepon tidak bergerak nirkabel. jumlah tersebut merupakan pencapaian 106% terhadap target perusahaan. Penambahan pelanggan kami dipimpin oleh bisnis seluler yang bertambah 16,34 juta pelanggan atau pencapaian 162% terhadap target perusahaan tahun 2009.
8. PT.
BANK RAKYAT INDONESIA Tbk ( BANK BRI )
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk (BRI atau Bank BRI) adalah salah satu bank milik
pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah olehRaden Bei Aria Wirjaatmadja dengan
nama De Poerwokertosche Hulp
en Spaarbank der Inlandsche Hoofden[1] atau
"Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto", suatu lembaga
keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga
tersebut berdiri tanggal16 Desember 1895, yang kemudian
dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.
Pada
periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun
1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di
Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI
sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian
Renville pada tahun 1949 dengan
berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui
PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang
merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij
(NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN
diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi
Tani dan Nelayan.
Setelah
berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang
pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan
baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan
dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi
Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).
Berdasarkan
Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan
Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral, yang
intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank
Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing
menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia.
Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali
tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan
Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21
tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan
terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di
tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia
memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan
nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan
sampai dengan saat ini.
Sampai
sekarang Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang didirikan sejak tahun 1895 tetap
konsisten memfokuskan pada pelayanan kepada masyarakat kecil, diantaranya
dengan memberikan fasilitas kredit kepada golongan pengusaha kecil. Hal ini
antara lain tercermin pada perkembangan penyaluran KUK (Kredit Usaha Kecil)
pada tahun 1994 sebesar Rp. 6.419,8 miliar yang meningkat menjadi Rp. 8.231,1
miliar pada tahun 1995 dan pada tahun 1999 sampai dengan bulan September
sebesar Rp. 20.466 miliar.
Seiring
dengan perkembangan dunia perbankan yang semakin pesat maka sampai saat ini
Bank Rakyat Indonesia mempunyai unit kerja yang berjumlah 4.447 buah, yang
terdiri dari 1 Kantor Pusat BRI, 12 Kantor Wilayah, 12 Kantor Inspeksi /SPI,
170 Kantor Cabang (dalam negeri), 145 Kantor Cabang Pembantu, 1 Kantor Cabang
Khusus, 1 New York Agency, 1 Caymand Island Agency, 1 Kantor Perwakilan Hongkong,
40 Kantor Kas Bayar, 6 Kantor Mobil Bank, 193 P.POINT, 3.705 BRI UNIT dan 357
Pos Pelayanan Desa. Pada 19 Januari 2013, BRI juga meluncurkan sistem e-Tax,
yaitu layanan penerimaan pajak daerah secara online melalui layanan cash
management.
9.
PT. UNVR Tbk. ( UNILEVER INDONESIA )
PT Unilever
Indonesia Tbk (IDX: UNVR)
adalah perusahaan Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari Unilever. Perusahaan ini sebelumnya bernama Lever Zeepfabrieken
N.V. Pada 5 Desember 1933 sebagai
Zeepfabrieken NV Lever, anak perusahaan dari Lever Brothers yang
awalnya mengoperasikan pabrik sabun di Angke,Jakarta. Nama itu diubah menjadi Unilever Indonesia pada tanggal 22 Juli 1980. Unilever
Indonesia mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa
Efek Jakarta dan Bursa
Efek Surabaya pada
tahun 1981.dan mempunyai lebih dari 1000 supplier.
Unilever Indonesia memiliki dua anak
perusahaan, PT Anugrah Lever (dalam likuidasi), dan PT Technopia Lever. Sebuah perusahaan patungan dengan
Technopia Singapore Pte. Ltd PT Knorr Indonesia, yang lain Unileverperusahaan, itu diserap ke Unilever Indonesia dengan
merger pada tanggal 4 Juli 2004.
Unilever Indonesia memenangkan 2005 Energi Globe Award untuk
skema pengelolaan sampah mereka di desa-desa di dekat sungai Brantas di Surabaya. Skema ini melibatkan kompos. Sampah organik dan daur ulang, dan telah menghasilkan peningkatan kualitas air
setempat di sungai.
Mei 2011 PT Unilever Indonesia Tbk akan
menginvestasikan setidaknya Euro300 juta ($ 427.400.000) dalam 2 tahun untuk
memperluas pabrik di Cikarang, Jawa Barat dan
pada Rungkut, Jawa Timur .
Saat ini perusahaan telah mengoperasikan 8 pabrik milik perusahaan dan 3 pusat
distribusicenters.
PT Unilever Indonesia Tbk berfungsi sebagai
bagian dari Unilever Group NV/plc untuk menghasilkan pembuatan dan mengawasi
semua merek yang paling Unilever (seperti Surf, Close-up, Clear dll antara
lain) & kemudian berfungsi untuk masyarakat Indonesia.
Di Indonesia, Unilever bergerak dalam bidang
produksi sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari
susu, es krim, makanan dan minuman dari teh, produk-produk kosmetik, dan produk
rumah tangga.
Produk-produk unggulan PT Unilever Indonesia Tbk terbagi menjadi 3 segmentasi pasar yang besar, antara lain yaitu Food and Beverages, Home Care serta Personal Care. Beberapa produk PT Unilever Indonesia Tbk yang cukup terkenal antara lain yaitu Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Rinso dan lain sebagainya. PT Unilever Indonesia Tbk hingga saat ini menjadi salah satu perusahaan swasta dengan kepemilikan aset serta keuntungan yang mampu meraup untung hingga miliaran dollar setiap tahunnya, perusahaan yang memiliki jumlah karyawan lebih dari 171.000 ini juga mengembangkan beberapa perusahaan yang masih berada di bawah manajemennya.
Beberapa perusahaan antara lain adalah:
1. PT Anugrah Lever
PT Anugrah Lever bergerak di bidang produksi, pengembangan hingga pemasaran saus kecap, saus cabe dan saus-saus lainnya yang menggunakan merk Bango, Sakura, Parkiet serta merek-merek lain sebagai merk dagangnya. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2000 lalu.
2. PT Technopia Lever
PT Technopia Lever merupakan perusahaan anak dari PT Unilever yang bergerak di bidang pendistribusian serta ekspor dan impor produk Domestos Nomos sebagai merk dagangnya. Merk ini cukup terkenal didalam negeri yang salah satunya produknya adalah berupa obat nyamuk.
3. PT Knorr Indonesia
PT Knorr Indonesia diakuisisi oleh PT Unilever Indonesia pada 21 Januari 2004. PT Knorr merupakan salah satu perusahaan pemasok makanan siap saji dengan merk dagang Knorr seperti Rostip, Pronto Tomato, Carbonara Saus Mix, Chicken Powder dan lain sebagainya.
4. PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (Ultra)
PT Ultrajaya Milk Industry atau Ultra memiliki perjanjian bersyarat kepada PT Unilever Indonesia dengan pengalihan beberapa produknya ke Unilever. Beberapa diantara merk yang dialihkan adalah Buavita serta Gogo.
10.
BANK CENTRAL ASIA ( BCA )
BCA
secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central
Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali
yang paling signifikan adalahkrisis moneter yang
terjadi di tahun 1997.
Krisis
ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di
Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini memengaruhi aliran dana tunai di
BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik
lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta
bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional(BPPN) lalu mengambil alih BCA di tahun 1998.
Krisis ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu mengambil alih BCA di tahun 1998.
Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif, BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998, dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun. Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia di tahun 2000.
PT Bank
Central Asia berawal dari sebuah usaha dagang bernama NV Knitting Factory di
Semarang yang didirikan pada tanggal 10 Agustus 1955, dengan akte notaris no
38, kongsi dagang ini kemudian berkembang menjadi N.V Bank Central Asia, yang
pertama kali beroperasi di pusat perniagaan di jalan Asemka pada tanggal 21
Februari 1957. Pada tanggal 18 maret 1960 dikukuhkan menjadi PT. Bank Central
Asia, dimana berbentuk perseroan terbatas dengan modal awal sebesar Rp
600.000,- dan bertujuan untuk melayani kebutuhan pendanaan bagi masyarakat
pedagang kecil yang saat itu sedang tumbuh di Jakarta. Sejak pertengahan
tahun 1970-an, Bank Central Asia mulai berkembang pesat, pada tahun inilah
dapat dikatakan merupakan era cepat landas PT Bank Central Asia. Pada tahun
1974 misalnya, Bank Centrak Asia bersama-sama lembaga keuangan terkemuka dari
Jepang, Inggris, dan Hongkong mulai menjalin mendirikan lembaga keuangan bukan
Bank (LKBB) yang dinamakan PT Multi National Finance Coorporation (Multicor).
PT Bank Centra Asia menjadi pemegang saham terbesar di Multicor sebesar 51%
dari total saham.
Dengan
kerja sama yang dilakukan oleh Bank Central Asia dan disertai dengan
pengelolaan yang professional, sumber dana dan jangkauan PT Bank Central Asia
menjadi luas dengann asset yang cukup besar yaitu Rp 12,8 Milyar pada tahun
1977. PT Bank Central Asia mulai menunjukkan diri sebagai bank yang menguasai
pasar perbankan. Bank Central Asia terus berkembang ke berbagai propinsi atau
daerah-daerah yang belum banyak dijangkau bank lain. Tahun 1977 status
bank devisa diperoleh Bank Central Asia, sejak saat itu berbagai macam
transaksi valuta asing dan ekspor-impor dapat dilayani oleh PT Bank Central
Asia. Kondisi itu membuat PT Bank Central Asia masuk dalam bank swasta papan
atas dan terkemuka berstatus bank devisa.
Pada
tahun 1981 PT Bank Central Asia bersama-sama dengan Japan leasing corporation
dan the long term of Japan, Ltd mendirikan PT Central Sari Metropolitan
Leasing, yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan, dalam patungan
ini PT Bank Central Asia menguasai 30%-35% sahamnya.
Pada
tahun 1986 PT Bank Central Asia mulai membuka cabang di luar negeri, yang
pertama adalah di Nassau Bahamas kemudian yang kedua di China Town New York
Amerika Serikat. Menanggapi semakin banyaknya kebutuhan maka PT Bank Central
Asia membuka cabang ketiga di London Sebago Kantor perwakilan.
Perkembangan
selanjutnya pada tahun 1988 PT Bank Central Asia mendapatkan ijin untuk
mengeluarkan Bank Central Asia Visa Travellers Cheques. Selain itu melalui
kerja sama dengan The Long Term Credit Bank of Japan,Ltd, mendirikan LTCB
Central Asia, dengan komposisi kepemilikan saham 15% dimiliki Bank Central Asia
dan 85% sisanya milik mitra kerja sama dari Jepang. Bank ini didirikan untuk
memberikan pinjaman jangka panjang pada sektor industri yang berorientasi pada
ekspor non migas. Memasuki tahun 1992 merupakan era konsolidasi bagi Bank
Central Asia, Peningkatan kualitas pelayanan semakin diupayakan untuk lebih
memenuhi kebutuhan nasabah, terbukti dengan asset Bank Central Asia pada akhir
desember 1992 telah mencapai Rp 41,1 Triliun dengan jumlah jaringan kantor
cabang sebanyak 439 kantor cabang dalam negeri dan 7 kantor cabang luar
negeri. Berkaitan dengan kebijakan perbankan pada tanggal 27 Oktober 1988
yang memberikan keleluasaan bagi bank-bank swasta nasional, Bank Perkreditan
Rakyat (BPR), Bank Asing untuk memberikan atau membuka kantor-kantor baru atau
kantor cabang baru.
KEUNGGULAN
KAMI
Sebagai
bank transaksional, BCA menawarkan rangkaian jasa yang luas untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan spesifik para nasabah kami. Sebagai lembaga intermediari
keuangan, BCA telah bekerja keras untuk memperkuat sisi kredit dengan
mempersiapkan berbagai paket yang menarik bagi nasabah yang potensial. BCA
memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi kunci keberhasilan kami dalam
menyediakan jasa-jasa yang berguna, efisien dan mudah. Keunggulan-keunggulan
ini adalah:
·
Tim manajemen yang sangat profesional yang
selalu mengikuti kebijakan dan regulasi perbankan nasional dan internasional;
·
Sumber daya manusia (SDM) yang terlatih baik
dan berorientasi pada pelayanan bagi nasabah;
·
Rangkaian produk dan jasa yang inovatif dan
memenuhi kebutuhan yang aktual;
·
Pemanfaatan teknologi paling mutakhir secara
tepat;
·
Jaringan yang luas dari kantor cabang dan
kantor cabang pembantu di seluruh Indonesia;
·
Pilihan saluran penghantaran (delivery
channel) yang luas untuk mencapai tingkat kenyamanan pelanggan yang maksimum,
dan
·
Per 31 Maret 2011 telah
memiliki sekitar 7.555 ATM tunai maupun non-tunai serta ATM Setoran
Tunai yang disediakan di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia.
·
Dalam mengembangkan produk dan jasa yang kami
tawarkan, kami selalu mempertimbangkan kebutuhan nasabah yang selalu berubah.
Lebih jauh lagi, kami terus menyempurnakan setiap produk atau jasa kami dengan
menambahkan berbagai fitur baru untuk meningkatkan kenyamanan nasabah dalam
menggunakannya.
·
Bagi komunitas bisnis, terutama para pelaku
UKM, kami menyediakan jajaran produk dan jasa yang dirancang khusus untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Produk dan jasa ini, antara lain, adalah KlikBCA
Bisnis dan BCA Bizz (di lokasi-lokasi tertentu).
11.
PT. UNITED TRACTORS Tbk.
PT
United Tractors Tbk (UT) berdiri pada 13 Oktober 1972 dengan nama PT Astra
Motor Works dan PT Astra International Tbk sebagai pemegang saham mayoritas.
Selanjutnya nama tersebut diubah menjadi United Tractors (UT). Segera setelah
beroperasi, UT memperoleh kepercayaan sebagai agen tunggal berbagai macam alat
berat yang memiliki reputasi internasional, antara lain merek KOMATSU dari
Komatsu Ltd, Japan yang sudah sejak awal menjadi perintis kerja sama dengan UT.
Sepanjang
dasawarsa tahun 1970-an, UT yang telah mengembangkan industri pada areal seluas
20 ha di Jl. Raya Bekasi km. 22, Cakung, Jakarta Timur, terus membangun
reputasi pemasar yang paling berorientasi ke service atau product support.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar, sejak 1981 UT mulai melangkah ke bidang
produksi. Selanjutnya UT mulai mendirikan beberapa Affiliated Company (Affco)
yang semakin memperkokoh usaha yang digelutinya.
Tonggak-tonggak
sejarah UT :
1972 -
Secara resmi berdiri di Indonesia pada 13 Oktober
1973 -
Ditunjuk sebagai distributor tunggal produk KOMATSU, Sumitomo Link Belt dan Tadano
Crane
1974 -
Ditunjuk sebagai distributor tunggal mesin giling getar Bomag dan forklift
Komatsu
1982 -
PT Komatsu Indonesia (KI) didirikan untuk memproduksi mesin konstruksi
Indonesia dengan lokasi di PPI UT-Cakung. Dengan teknologi dari Komatsu Ltd.
Japan, KI memproduksi antara lain Buldozer, Hydraulic Excavator, Motor Grader,
Wheel Loader serta berbagai komponen alat berat yang diekspor ke Jepang. KI
memiliki 2 divisi yaitu Construction Equipment Division (Compo Production Shop)
dan Foundry Division & Frame Fabrication Plant dan Assembling Plat yang
semuanya kini berlokasi di Jl. Raya Cakung, Cilincing.
1983 -
PT United Tractors Pandu Engineering (UTE) didirikan untuk memproduksi
peralatan dan komponen dari lisensi maupun hasil rancang bangun sendiri, antara
lain Patria Komatsu Forklift, John Deere Farm Tractors, Niigata Asphalt Mixing
Plant dan berbagai attachment. Berlokasi di Pusat Pengembangan Industri (PPI)
UT- Cakung, UTE juga melakukan perluasan pabrik dengan mengembangkan beberapa
plant di beberapa lokasi.
1984 -
PT Pandu Dayatama Patria (PDP) didirikan untuk memproduksi mesin disel
berdasarkan lisensi dengan lokasi di PPI UT-Cakung. Mesin yang diproduksi
antara lain Komatsu dan Nissan Engine Diesel. Dalam rangka program pendalaman
struktur dan diversifikasi vertikal, PDP kemudian masuk dalam bisnis produksi
Patria Generating Set, perakitan mesin mobil Peugeot dan BMW serta Hydraulic
Manufacture.
Setelah
go public pada tahun 1989, dalam perjalanan karirnya UT kini semakin siap untuk
memasuki era globalisasi dunia. Pemegang saham UT saat ini (2008) :
-
Publik 39%
- PT
Astra International Tbk 61%
1989 -
UT mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 17
September.
- PT
Pamapersada Nusantara (Pama) didirikan sebagai anak perusahaan UT di bidang
kontraktor penambangan
1990 -
UT mengakuisisi 60% saham PT Berau Coal (Berau), perusahaan pertambangan
batubara dengan konsesi di Berau, Kalimantan Timur yaitu Lati dan Binungan.
1991 -
Melalui penawaran terbatas 11.500.000 saham baru dengan harga Rp.10.000,-
perlembar, perusahaan berhasil menghimpun dana Rp. 115 miliar dan meningkatkan
jumlah saham dari 23.000.000 menjadi 34.500.000
1992 -
PT United Tractors Semen Gresik (UTSG) didirikan. Berlokasi di Gresik – Jawa
Timur, merupakan kerja sama UT dengan PT Semen Gresik dan bergerak di bidang
penambangan batu kapur dan tanah liat sebagai bahan baku bagi pabrik semen.
1994 -
Penerbitan saham bonus tiga untuk saham biasa, meningkatkan jumlah saham
menjadi 138.000.000
1995 -
KI tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.
- UT
Heavy Industry Pte.Ltd. didirikan di Singapura sebagai anak perusahaan UT yang
menangani distribusi.
-
Forklift Patria, hasil rancang bangun sendiri mendapat sertifikasi ISO 9001
1996 -
Patria menerima sertifikat CE (Certificate of Confirmity) di Eropa dan
sertifikat GS (Certificate of Safety) di Jerman.
-
United Ostermeyer Engineering Pty.Ltd. didirkan di Darwin, Australia sebagai
Patent Company
1997 -
Berdiri Komatsu Remanufacturing Asia (KRA) di Balikpapan, UT memiliki 51%
saham, sisanya dimiliki Komatsu Asia Pacific Pte.Ltd., Singapura. Bergerak di
bidang industri perbaikan / rekondisi mesin dan komponen alat-alat berat.
-
Berdiri Pama Indo Mining yang bergerak di bidang pertambangan bahan baku semen,
berlokasi di Batu Licin (Kalimantan Selatan), merupakan kerja sama Pama dengan
PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk.
2000 -
Pembagian 9 saham bonus untuk setiap pemegang 5 saham lama UT, stock split dan
ESOP (Program Pemilikan Saham oleh Karyawan)
-
Selesainya restrukturisasi hutang anak-anak perusahaan UT : Berau Coal, UTE,
Pama dan PDP.
-
Selesainya restrukturisasi hutang UT sebesar 278,5 juta dolar AS dan Rp.147
miliar
- UT
menguasai 100% kepemilikan PT Bina Pertiwi, distributor alat pertanian Kubota
dan John Deere
2001 -
Berau Coal buka tambang baru di Sambarata, Kalimantan Timur dengan total
cadangan 90 juta ton batubara
- UTE
sebagai preferred supplier General Electric, USA
United
Tractors (UT/Perusahaan) adalah distributor peralatan berat terbesar dan
terkemuka di Indonesia yang menyediakan produk-produk dari merek ternama dunia
seperti Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, Tadano, dan Komatsu Forest. Didirikan
pada 13 Oktober 1972, UT melaksanakan penawaran umum saham perdana di Bursa
Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 19 September 1989 menggunakan nama PT
United Tractors Tbk (UNTR), dengan PT Astra International Tbk sebagai pemegang
saham mayoritas. Penawaran umum saham perdana ini menandai komitmen United
Tractors untuk menjadi perusahaan kelas dunia berbasis solusi di bidang alat
berat, pertambangan dan energi guna memberi manfaat bagi para pemangku
kepentingan.
Saat
ini jaringan distribusi mencakup 19 kantor cabang, 22 kantor pendukung, dan 11
kantor perwakilan di seluruh penjuru negeri. Tidak puas hanya menjadi
distributor peralatan berat terbesar di Indonesia, Perusahaan juga memainkan
peran aktif di bidang kontraktor penambangan dan baru-baru ini telah memulai
usaha pertambangan batu bara. UT menjalankan berbagai bisnisnya melalui tiga
unit usaha yaitu Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan dan Pertambangan.
1. Mesin Usaha
Unit
usaha Mesin Konstruksi yang mengusung nama United Tractors menjalankan peran
sebagai distributor alat berat terkemuka dan terbesar di Indonesia. Sebagai
distributor tunggal produk Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, Tadano dan
Komatsu Forest, unit usaha Mesin Konstruksi menyediakan produk alat berat untuk
digunakan di sektor pertambangan, perkebunan, konstruksi dan kehutanan serta
untuk material handling dan transportasi.
Pada
tahun 1983, melalui anak perusahaan PT United Tractors Pandu Engineering (“UTPE”),
United Tractors masuk ke bisnis rekayasa dan pembuatan komponen alat berat.
Kemudian, melalui Komatsu Remanufacturing Asia (“KRA”) yang didirikan pada
tahun 1997, dan PT Tekno Universal Reksajaya (“UTR”) yang berdiri pada tahun
2011, United Tractors juga masuk ke bidang jasa rekondisi mesin. Perseroan
kemudian mendirikan PT Andalan Multi Kencana (“AMK”) pada tahun 2010 yang
menjalankan usaha distribusi commodity
parts. United Tractors juga membentuk beberapa anak perusahaan lain untuk
menyediakan berbagai jenis produk dan jasa, termasuk PT Bina Pertiwi (“BP”),
yang menyalurkan dan menyediakan jasa sewa traktor pertanian Kubota, Komatsu
dan Kubota generator,
mini excavator Komatsu, serta Komatsuforklift.
Sebagai
perusahaan yang berbasis solusi, selain menyediakan produk alat berat dan suku
cadang, United Tractors secara komprehensif juga menyediakan layanan berikut:
•
Konsultasi Lapangan
•
Rekomendasi Alat Berat yang Optimal
•
Program Pemeriksaan Mesin
•
Program Pemantauan Alat Berat
•
Remanufaktur dan Rekondisi
•
Pelatihan untuk Operator dan Mekanik
• UT
Call di nomor 500 072 (24/7 pusat layanan pelanggan)
•
Guaranteed Product Support
2. Kontraktor Penambangan
United
Tractors mendukung perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia dengan
menyediakan jasa penambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (“PAMA”), yang
didirikan pada tahun 1989. Memiliki kompetensi tinggi di bidang rancang
tambang, eksplorasi, penggalian, pengangkutan melalui jalan darat, pengangkutan
melalui sungai dan pengapalan, PAMA membantu pemilik tambang untuk memanfaatkan
potensi sumber daya alam sejak dari proses awal studi kelayakan, pembangunan
infrastruktur, eksploitasi hingga perluasan tambang.
Layanan
yang ditawarkan PAMA termasuk antara lain:
•
Desain pertambangan dan implementasi
•
Penilaian dan studi kelayakan awal
•
Pembangunan infrastruktur dan fasilitas tambang
•
Pengupasan tanah dan penanganan limbah
•
Produksi komersial bahan tambang
•
Perluasan tambang/ fasilitas
•
Reklamasi dan revegetasi
•
Pengapalan dan pemasaran
3. Pertambangan
Beroperasi
di proyek-proyek pertambangan batu bara utama di seluruh wilayah negeri, PAMA
dikenal luas sebagai kontraktor penambangan batu bara terbesar dan terkemuka di
Indonesia, termasuk anak-anak perusahaan di bawahnya: PT Kalimantan Prima
Persada (“KPP”), PT Pama Indo Mining (“PIM”) dan PT Multi Prima Universal
(“MPU”). Dalam memperkuat keberadaan Perseroan dan secara strategis bagi
kelangsungan bisnis masa depan, PAMA menyediakan layanan yang komprehensif dan
mempertahankan produktivitas dan efisiensi yang tinggi dengan menetapkan target zero accident di semua wilayah operasi
tambang.
United
Tractors menjalankan usaha pertambangan batu bara melalui anak usahanya, PT
Tuah Turangga Agung (“TTA”). Sebagai induk dari unit usaha pertambangan, TTA
memegang kepemilikan atas sejumlah konsesi tambang batu bara dengan perkiraan
total cadangan sebesar 400 juta ton (combined reserve) yang terdiri
dari batu bara kualitas menengah dan kualitas tinggi.
Konsesi
tambang tersebut diantaranya adalah PT Prima Multi Mineral ("PMM"),
PT Agung Bara Prima ("ABP"), PT Asmin Bara Bronang ("ABB"),
PT Asmin Bara Jaan ("ABJ"), PT Duta Sejahtera ("DS"), PT
Duta Nurcahya ("DN") dan PT Piranti Jaya Utama ("PJU").
TUGAS ETIKA PROFESI
PROFIL ORANG TERKAYA DI INDONESIA
&
DAFTAR PERUSAHAAN YANG BERKEMBANG DAN MAJU DI INDONESIA TAHUN 2014
DISUSUN OLEH :
CANDRA C .G MUHAEMIN
...................... ....................
Profil Orang Terkaya Yang ada Di Indonesia
1. R. Budi Hartono

Menjadi orang terkaya nomor satu di
Indonesia selama beberapa tahun berturut-turut itulah R. Budi Hartono yang merupakan pemilik Grup Djarum,
dilahirkan dengan nama lengkap Robert Budi Hartono pada
tanggal 28 April 1941 di Kota Semarang, Ayahnya bernama Oei Wie Gwan pemilik
usaha kecil Djarum Gramophon namanya diubah menjadi Djarum yang kelak menjadi
sebuah perusahaan rokok terbesar di dunia. Robert Budi Hartono yang memiliki
nama Tionghoa Oei Hwie Tjhong oleh Majalah Forbes dicaatat memiliki kekayaan
sebesar 8,5 Milyar Dollar atau 82.50 Trilyun Rupiah dan merupakan Orang terkaya nomor satu selama beberapa tahun di Indonesia
dan urutan 131 terkaya didunia. Semua berawal dari Mr. Oei Wie Gwan yang
membeli usaha kecil dalam bidang kretek bernama Djarum Gramophon pada tahun
1951 dann kemudian mengubah namanya menjadi Djarum. Oei mulai memasarkan kretek
dengan merek “Djarum” yang ternyata sukses di pasaran.
Setelah kebakaran hampir memusnahkan perusahaan pada tahun 1963, Djarum kembali bangkit dan memodernisasikan peralatan di pabriknya. Robert dan kakaknya yaitu Michael Budi Hartono menerima warisan ini setelah ayahnya meninggal. Pada saat itu pabrik perusahaan Djarum baru saja terbakar dan mengalami kondisi yang tidak stabil. Namun kemudian di tangan dua bersaudara Hartono, Perusahaan Djarum bisa bertumbuh menjadi perusahaan raksasa. Pada tahun 1972 Djarum mulai mengeskpor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981. Saat ini, Di Amerika Serikat pun perusahaan rokok ini memilki pangsa pasar yang besar. Dan di negeri asalnya sendiri, Indonesia, produksi Djarum mencapai 48 milyar batang pertahun atau 20% dari total produksi nasional. Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan rokok ini menjelma dari perusahaan rokok menjadi Group Bisnis yang berinvestasi di berbagai sektor. Djarum mereka, dilarang di Amerika Serikat sejak 2009 bersama dengan rokok kretek lainnya, karena telah diluncurkannya Dos Hermanos, sebuah cerutu premium pencampuran tembakau Brasil dan Indonesia.
Robert Budi Hartono dengan Group Djarum yang dipimpinnya pun melebarkan sayap ke banyak sektor antara lain perbankan, properti, agrobisnis, elektronik dan multimedia. Diversifikasi bisnis dan investasi yang dilakukan Group Djarum ini memperkokoh Imperium Bisnisnya yang berawal di tahun 1951. Di bidang Agribisnis, Robert bersama Michael memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektar yang terletak di provinsi Kalimantan Barat dari tahun 2008. Mereka bergerak di bawah payung Hartono Plantations Indonesia, salah satu bagian dari Group Djarum. Di bidang properti, banyak proyek yang dijalankan di bawah kendali CEO Djarum ini, R. Budi Hartono, dan yang paling besar adalah mega proyek Grand Indonesia yang ditantangani pada tahun 2004 dan selesai pada tahun 2008. Proyek ini mencakup hotel (renovasi dari Hotel Indonesia), pusat belanja, gedung perkantoran 57 lantai dan apartemen. Total nilai investasinya 1,3 Triliun rupiah.
Majalah Globe Asia menyatakan Robert sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 4,2 miliar dolar AS atau sekitar 37,8 triliun rupiah. Pada tahun yang sama, R. Budi Hartono bersama kakaknya, Michael Hartono di bawah bendera Group Djarum melebarkan investasi ke sektor perbankan. Dan mereka menjadi pemegang saham utama, menguasai 51% saham, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia saat ini. Berdasarkan data dari Bank Indonesia akhir tahun 2011 nilai aset BCA sebesar Rp 380,927 Triliun (tiga ratus delapan puluh koma sembilan ratus dua puluh tujuh rupiah). BCA yang secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi di tahun 1997. Dan bukti eksistensi grup Djarum adalah gedung pencakar langit di kompleks mega proyek Grand Indonesia diberi nama Menara BCA. Karena bank BCA menjadi penyewa utamanya dari tahun 2007 hingga 2035. Dengan demikian tergabunglah lingkungan operasional dua raksasa bisnis Indonesia di tengah-tengah pusat ibukota yang menjadi bukti keberkuasaan Djarum di kancah bisnis Indonesia.
Robert Budi Hartono menikah seorang wanita bernama Widowati Hartono atau lebih akrab dengan nama Giok Hartono. Bersamanya Widowati Hartono, Pemilik PT Djarum ini memiliki tiga orang putra yang kesemuanya telah menyelesaikan pendidikan. Mereka adalah Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono. Disisi lain, Robert Budi Hartono Sangat menyukai olahraga bulutangkis yang bermula dari sekedar hobi lalu mendirikan Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum pada tahun 1969. Dari lapangan bulutangkis di tempat melinting kretek, Robert Budi Hartono menemukan talenta anak muda berbakat asli Kudus. Anak muda itu dimatanya, memiliki semangat juang yang tinggi, mental yang hebat dan fisik yang prima. Tak salah intuisinya, karena dalam kurun waktu yang tidak lama, anak itu mengharumkan nama bangsa di pentas dunia. Anak muda itu adalah Liem Swie King, yang terkenal dengan julukan “King Smash”.
Disamping itu bersama kakaknya yaitu Michael Budi Hartono,mereka menjadi pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik. Salah satu bisnis Group Djarum di sektor ini bergerak di bawah bendera Polytron yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Perusahaan Polytron ini kini juga memproduksi ponsel yang sebelumnya hanya meproduksi AC, kulkas, produk video dan audio, dan dispenser. Melalui perusahaan yang baru dibuat yakni Ventures Global Prima Digital, mereka juga membeli Kaskus, yang merupakan salah satu situs terbesar di Indonesia.
Chairul Tanjung dilahirkan di Jakarta. Ia
anak A.G. Tanjung, seorang wartawan di zaman orde lama yang pernah menerbitkan
lima surat kabar beroplah kecil. Chairul dan keenam saudaranya hidup
berkecukupan. Namun, pada zaman Orde Baru, sang ayah dipaksa menutup usaha
persnya karena berseberangan secara politik dengan penguasa.
Setamat SMA, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada tahun 1981. Chairul menghadapi masalah pada biaya kuliahnya. Ia pun mulai berbisnis dari dasar sekali, berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Selanjutnya, ia membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat tapi bangkrut.
Setelah menutup tokonya, Chairul membuka usaha kontraktor. Kurang berhasil, Chairul bekerja di industri baja dan kemudian pindah ke industri rotan. Waktu itulah, ia bersama tiga rekannya ia membangun PT Pariarti Shindutama. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaannya langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Dari sini usahanya merambah ke industri genting, sandal dan properti. Sayang, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha dengan ketiga rekannya, Chairul memilih menjalankan usahanya sendiri.
Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti : keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega yang kini telah naik peringkatnya dari bank urutan bawah ke bank kelas atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia juga merambah ke bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran Jakarta ini mempunyai perusahaan real estate dan pada tahun 1999 telah mendirikan Bandung Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mendirikan Trans TV, di samping menangani stasion radio dan media on line atau satelit. Ia juga bersiap untuk masuk ke media cetak.
Di tengah persaingan yang ketat di sektor media televisi, Chairul merasa yakin Trans TV akan mampu bersaing. Ini karena ia melihat pada belanja iklan nasional yang sudah mencapai Rp 6 triliun setahun, 70% di antaranya akan diambil oleh televisi. Jumlah perusahaan Chairul, yaitu Para Group mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahi beberapa sub holding seperti : Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti) dan jumlah karyawan yang dipekerjakan kurang lebih mencapai 5.000 orang.
Dikutip dari detik.com bahwa Chairul Tanjung (CT) yang telah mengakusisi 40% saham PT Carrefour Indonesia direspon positif oleh sesama pengusaha di dalam negeri.
Setamat SMA, Chairul masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada tahun 1981. Chairul menghadapi masalah pada biaya kuliahnya. Ia pun mulai berbisnis dari dasar sekali, berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Selanjutnya, ia membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat tapi bangkrut.
Setelah menutup tokonya, Chairul membuka usaha kontraktor. Kurang berhasil, Chairul bekerja di industri baja dan kemudian pindah ke industri rotan. Waktu itulah, ia bersama tiga rekannya ia membangun PT Pariarti Shindutama. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaannya langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Dari sini usahanya merambah ke industri genting, sandal dan properti. Sayang, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha dengan ketiga rekannya, Chairul memilih menjalankan usahanya sendiri.
Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti : keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega yang kini telah naik peringkatnya dari bank urutan bawah ke bank kelas atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia juga merambah ke bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran Jakarta ini mempunyai perusahaan real estate dan pada tahun 1999 telah mendirikan Bandung Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mendirikan Trans TV, di samping menangani stasion radio dan media on line atau satelit. Ia juga bersiap untuk masuk ke media cetak.
Di tengah persaingan yang ketat di sektor media televisi, Chairul merasa yakin Trans TV akan mampu bersaing. Ini karena ia melihat pada belanja iklan nasional yang sudah mencapai Rp 6 triliun setahun, 70% di antaranya akan diambil oleh televisi. Jumlah perusahaan Chairul, yaitu Para Group mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahi beberapa sub holding seperti : Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti) dan jumlah karyawan yang dipekerjakan kurang lebih mencapai 5.000 orang.
Dikutip dari detik.com bahwa Chairul Tanjung (CT) yang telah mengakusisi 40% saham PT Carrefour Indonesia direspon positif oleh sesama pengusaha di dalam negeri.
Diharapkan Carrefour dibawah Chairul
Tanjung bisa mengendepankan kepentingan nasional yaitu dapat menyumbangkan
pembinaan terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.
"Jadi harus betul-betul membela kepentingan kita, jangan justru sebaliknya," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat dihubungi detikFinance, Minggu (18/4/2010).
Sofjan mengakui langkah Para Group tersebut merupakan aksi yang positif bagi dunia usaha di Indonesia. Selain itu, kata dia, kehadiran pengusaha lokal disebuah perusahaan asing akan memberikan keyakinan bahwa kiprah Carrefour di Indonesia tidak semata-mata hanya untuk kepentingan pemodal asing.
"Saya harapkan Chairul Tanjung bisa mebantu para pelaku UKM, dengan dia masuk tidak lagi menimbulkan konfrontasi, jadi kuncinya ada di Chairul Tanjung," katanya.
Seperti diketahui, Chairul Tanjung melalui kelompok usahanya yaitu Para Group mengakuisisi 40% saham PT Carrefour Indonesia senilai lebih dari Rp 3 triliun. Akuisisi itu dilakukan Trans Corp melalui PT Trans Ritel, sebuah anak perusahaan Trans Corp.
Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.
Setelah membeli 40% saham Carrefour, Chairul kini menjadi komisaris utama PT Carrefour Indonesia didampingi oleh AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN) dan S.Bimantoro (mantan petinggi Polri) sebagai komisaris.
Gurita bisnis Chairul Tanjung memang sudah meluas. Setelah menguasai bisnis stasiun televisi, bank hingga waralaba, Chairul Tanjung meluaskan bisnisnya ke ritel dengan membeli 40% saham PT Carrefour Indonesia.
Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.
Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada urutan ke 937 dari 1.000 orang terkaya didunia versi majalah forbes dengan total kekayaan senilai US$ 1 Miliar. sedangkan daftar 40 orang terkaya Indonesia tahun 2009 versi Forbes yang dirilis, Kamis (3/12/2009) lalu. Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada posisi ke 13 .
"Jadi harus betul-betul membela kepentingan kita, jangan justru sebaliknya," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat dihubungi detikFinance, Minggu (18/4/2010).
Sofjan mengakui langkah Para Group tersebut merupakan aksi yang positif bagi dunia usaha di Indonesia. Selain itu, kata dia, kehadiran pengusaha lokal disebuah perusahaan asing akan memberikan keyakinan bahwa kiprah Carrefour di Indonesia tidak semata-mata hanya untuk kepentingan pemodal asing.
"Saya harapkan Chairul Tanjung bisa mebantu para pelaku UKM, dengan dia masuk tidak lagi menimbulkan konfrontasi, jadi kuncinya ada di Chairul Tanjung," katanya.
Seperti diketahui, Chairul Tanjung melalui kelompok usahanya yaitu Para Group mengakuisisi 40% saham PT Carrefour Indonesia senilai lebih dari Rp 3 triliun. Akuisisi itu dilakukan Trans Corp melalui PT Trans Ritel, sebuah anak perusahaan Trans Corp.
Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.
Setelah membeli 40% saham Carrefour, Chairul kini menjadi komisaris utama PT Carrefour Indonesia didampingi oleh AM Hendropriyono (mantan Kepala BIN) dan S.Bimantoro (mantan petinggi Polri) sebagai komisaris.
Gurita bisnis Chairul Tanjung memang sudah meluas. Setelah menguasai bisnis stasiun televisi, bank hingga waralaba, Chairul Tanjung meluaskan bisnisnya ke ritel dengan membeli 40% saham PT Carrefour Indonesia.
Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%.
Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada urutan ke 937 dari 1.000 orang terkaya didunia versi majalah forbes dengan total kekayaan senilai US$ 1 Miliar. sedangkan daftar 40 orang terkaya Indonesia tahun 2009 versi Forbes yang dirilis, Kamis (3/12/2009) lalu. Chairul Tanjung menempatkan dirinya pada posisi ke 13 .
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN :
SD Van Lith, Jakarta (1975)
SMP Van Lith, Jakarta (1978)
SMA Negeri 1 Budi Utomo, Jakarta (1981)
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (1987)
KEGIATAN LAIN :
Anggota Komite Penasihat Prakarsa Jakarta
(Restrukturisasi Perusahaan)
Delegasi Indonesia untuk Asia-Europe
Business Forum
Anggota Pacific Basin Economic Council
Pengurus Yayasan Kesenian Jakarta
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan
Bulutangkis Seluruh Indonesia
Anggota Majelis Wali Amanat Universitas
Indonesia
Ketua Yayasan Indonesia Forum
.
3. Eka Tjipta Widjaja
Eka Tjipta Widjaja merupakan seorang pengusaha dan konglomerat
Indonesia, Berkat keuletannya dalam menjalankan bisnis perusahaannya, ia
merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia menurut Majalah Globe Asia
edisi bulan desember 2012 dengan kekayaan mencapai 8,7 milyar Dolar Amerika
Serikat. Pada tahun 2011, menurut Forbes, ia menduduki peringkat ke-3 orang
terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan US$ 8 miliar, beliau merupakan
pendiri sekaligus pemilik dari Sinar Mas Group, Bisnis
utamanya adalah pulp dan kertas, agribisnis, properti dan jasa keuangan. Nama
asli Eka Tjipta Widjaja adalah Oei Ek Tjhong, beliau dilahirkan pada tanggal 3
Oktober 1923 di China, Ia terlahir dari keluarga yang amat miskin. Ia pindah ke
Indonesia saat umurnya masih sangat muda yaitu umur 9 tahun. Tepatnya pada
tahun 1932, Eka Tjipta Widjaya yang saat itu masih dipanggil Oei Ek Tjhong
akhirnya pindah ke kota Makassar
"Bersama ibu, saya ke Makassar
tahun 1932 pada usia sembilan tahun. Kami berlayar tujuh hari tujuh malam.
Lantaran miskin, kami hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di
bawah kelas dek. Hendak makan masakan enak, tak mampu. Ada uang lima dollar,
tetapi tak bisa dibelanjakan, karena untuk ke Indonesia saja kami masih
berutang pada rentenir, 150 dollar"
Tiba di Makassar, Eka kecil segera
membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Tujuannya
jelas, segera mendapatkan 150 dollar, guna dibayarkan kepada rentenir. Dua
tahun kemudian, utang terbayar, toko ayahnya maju. Eka pun minta Sekolah. Tapi
Eka menolak duduk di kelas satu. Eka Tjipta Widjaja bukanlah seorang sarjana,
doktor, maupun gelar-gelar yang lain yang disandang para mahasiswa ketika
mereka berhasil menamatkan studi. Namun beliau hanya lulus dari sebuah sekolah
dasar di Makassar. Hal ini dikarenakan kehidupannya yang serba kekurangan. Ia
harus merelakan pendidikannya demi untuk membantu orang tua dalam menyelesaikan
hutangnya ke rentenir. Tamat SD, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya karena
masalah ekonomi. Ia pun mulai jualan.
Ia keliling kota Makassar, Dengan mengendarai sepeda, ia keliling kota Makasar menjajakan door to door permen, biskuit, serta aneka barang dagangan toko ayahnya. Dengan ketekunannya, usahanya mulai menunjukkan hasil. Saat usianya 15 tahun, Eka mencari pemasok kembang gula dan biskuit dengan mengendarai sepedanya. Ia harus melewati hutan-hutan lebat, dengan kondisi jalanan yang belum seperti sekarang ini. Kebanyakan pemasok tidak mempercayainya. Umumnya mereka meminta pembayaran di muka, sebelum barang dapat dibawa pulang oleh Eka. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat 1 usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya.
Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu.
Ia keliling kota Makassar, Dengan mengendarai sepeda, ia keliling kota Makasar menjajakan door to door permen, biskuit, serta aneka barang dagangan toko ayahnya. Dengan ketekunannya, usahanya mulai menunjukkan hasil. Saat usianya 15 tahun, Eka mencari pemasok kembang gula dan biskuit dengan mengendarai sepedanya. Ia harus melewati hutan-hutan lebat, dengan kondisi jalanan yang belum seperti sekarang ini. Kebanyakan pemasok tidak mempercayainya. Umumnya mereka meminta pembayaran di muka, sebelum barang dapat dibawa pulang oleh Eka. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat 1 usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya.
Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu.
Keesokan harinya, masih pukul empat
subuh, Eka sudah di Paotere. Ia membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak
tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air 2 panas,
cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu ia pinjam dari ibunya. Enam
ekor ayam ayahnya ikut ia pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih
gosok garam. Dia juga pinjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol
anggur dari teman-temannya. Jam tujuh pagi ia sudah siap jualan. Benar saja,
pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi
sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos
pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda. Setelah mencicipi
seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk
whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan
tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja ia minta izin
mengangkat semua barang yang sudah dibuang.
Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat 3 sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung. Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.
Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut dia ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan. Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar. Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kimpoi untuk menutup utang dagang.
Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal dia habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi. Pada tahun 1980, ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya yaitu menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu. Ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau. Tak tanggung-tanggung, beliau juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit. Bisnis yang dia bangun berkembang sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada tahun 1981 beliau membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh.
Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat 3 sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung. Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.
Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut dia ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan. Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar. Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kimpoi untuk menutup utang dagang.
Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal dia habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi. Pada tahun 1980, ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya yaitu menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu. Ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau. Tak tanggung-tanggung, beliau juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit. Bisnis yang dia bangun berkembang sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada tahun 1981 beliau membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh.
Selain berbisnis di bidang kelapa sawit
dan teh, Eka Tjipta Widjaja juga mulai merintis bisnis bank. Ia membeli Bank
Internasional Indonesia dengan asset mencapai 13 milyar rupiah. Namun setelah
beliau kelola, bank tersebut menjadi besar dan memiliki 40 cabang dan cabang
pembantu yang dulunya hanya 2 cabang dan asetnya kini mencapai 9,2 trilliun
rupiah. Bisnis yang semakin banyak membuat Eka Tjipta Widjaja menjadi semakin
sibuk dan kaya. Ia juga mulai merambah ke bisnis kertas. Hal ini dibuktikan
dengan dibelinya PT Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per
tahun dan bisa memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun. Pemilik Sinarmas
Group ini juga membangun ITC Mangga Dua dan Green View apartemen yang berada di
Roxy, dan tak ketinggalan pula ia bangun Ambassador di Kuningan.
Eka Tjipta Widjaja mempunyai keluarga yang selalu mendukungnya dalam hal bisnis dan kehidupannya. Beliau menikah dengan seorang wanita bernama Melfie Pirieh Widjaja dan mempunyai 7 orang anak. Anak-anaknya adalah Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, dan Meilay Widjaja.
Eka Tjipta Widjaja mempunyai keluarga yang selalu mendukungnya dalam hal bisnis dan kehidupannya. Beliau menikah dengan seorang wanita bernama Melfie Pirieh Widjaja dan mempunyai 7 orang anak. Anak-anaknya adalah Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, dan Meilay Widjaja.
4. Anthony Salim

Anthony Salim alias Liem Hong Sien, CEO Group Salim (generasi
kedua) terpilih sebagai salah seorang 10 Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005
versi Warta Ekonomi. Dia dinilai berhasil membangun kembali kerajaan bisnis
Salim Group, setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi 1998.
Sebelum krisis moneter dan ekonomi 1998, Group Salim terbilang
konglomerasi terbesar di Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 milyar (sekitar
Rp 100 trilyun). Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Liem Sioe Liong,
pendiri Grup Salim, sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Bank Central Asia (BCA), miliknya di-rush pada saat krisis multidimensional 1998
itu. Untuk mengatasinya, terpaksa menggunakan BLBI dan akibatnya berutang Rp 52
trilyun. Anthony yang sudah dipercayakan memegang kendali perusahaan
menggantikan ayahandanya Sudono Salim (Liem Sioe Liong) ini pun bertanggung
jawab.
Dia melunasi seluruh utangnya, walaupun harus terpaksa melepas
beberapa perusahaan. Di antara perusahaan yang dilepas adalah PT Indocement
Tunggal Perkasa, PT BCA (kemudian dikuasai Farallon Capital dan Grup Djarum)
dan PT Indomobil Sukses Internasional.
Namun, dia tetap mempertahankan beberapa perusahaan, di
antaranya PT Indofood Sukses Makmur Tbk, dan PT Bogasari Flour Mills, yang
merupakan produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia. Selain itu juga
berkibar beberapa perusahaan di luar negeri, di antaranya di Hong Kong,
Thailand, Filipina, Cina dan India.
Majalah Globe Asia menobatkan Anthony Salim, bos Grup Indofood
sebagai taipan terkaya ketiga Indonesia. Dia berada di bawah posisi Budi
Hartono (Grup Djarum) dan Eka Tjipta Widjaja (Grup Sinar Mas). Menurut
perhitungan majalah itu - yang didasarkan pada nilai kepemilikan saham baik
yang listed atau non listed - Anthoni memiliki harta US$ 3 miliar atau sekitar
Rp 27 triliun.
Kini Indofood terus tumbuh dan berkembang sebagai raja industri
makanan di Indonesia. Bahkan, bisnis Indofood kian terintegrasi dan bergerak
dari hulu hingga hilir. Perusahaan ini bergerak di sektor agribisnis, industri
tepung terigu, produk makanan hingga menguasai jalur distribusi.
Sejumlah produk konsumen bermerek made in Indofood sudah dikenal
luas di kalangan masyarakat Indonesia, seperti mie instan (Indomie, Supermi dan
Sarimi), susu Indomilk, tepung terigu Bogasari (Segitiga Biru, Kunci Biru dan
Cakra Kembar), minyak goreng (Bimoli) hingga mentega (Simas Palmia).
Di bawah komando Anthony, pada tahun lalu, Indofood membukukan
laba bersih Rp 2 triliun. "Kami senang, meskipun harga komoditas terus
bergejolak, namun kami berhasil mencapai rekor laba bersih tertinggi,"
ujar Anthony dalam laporan keuangan Indofood 2009 yang dipublikasikan baru-baru
ini.
Menurut dia, Indofood berhasil melewati berbagai tantangan dalam
kurun waktu lima tahun yang sulit ini. Bisnis model yang terdiri dari agribinis
dan non-agribisnis, telah membuktikan ketangguhannya dalam dua tahun terakhir
ini saat harga komoditas bergejolak.
Dia mengakui krisis ekonomi global 2008 memang mengakibatkan
penurunan harga berbagai komoditas secara tajam dan menurunkan tingkat inflasi.
Pendapatan divisi agribisnis Indofood juga terpengaruh. Nilai penjualan
Bogasari juga menurun karena harga tepung turun. Namun, dia menekankan
turunnya harga komoditas justru berdampak positif bagi Produk Konsumen
Bermerek. Permintaan atas produk konsumen bermerek meningkat seiring naiknya
daya beli konsumen.
Untuk mengambil peluang yang ada dan mempertahankan kepemimpinan
pasar, Indofood memilih memperkuat brand equity melalui investasi secara terus
menerus di berbagai merek yang kami miliki. "Kami fokuskan program
komunikasi menyeluruh untuk meningkatkan awareness konsumen guna menjaga
loyalitas."
Di samping itu, dia mengaku meluncurkan berbagai produk baru
yang inovatif dan sesuai kebutuhan pasar. Dua varian baru cup noodles yang
diluncurkan pada 2009, kata dia, sangat sukses di pasaran. Untuk menembus pasar
di daerah pedesaan, Anthony menyebutkan Indofood mengembangkan program “Raja
Desa”. Tujuannya, untuk memperdalam penetrasi distribusi dan meningkatkan
ketersediaan produk-produk di pedesaan.
Putra Liem Sioe Liong ini tak mau kerajaan bisnisnya, PT
Indofood Sukses Makmur Tbk., berhenti berekspansi dan berinovasi. “Setiap
perusahaan harus berbenah diri, apalagi dalam iklim kompetisi,” kata Anthony.
Untuk mendukung rencananya itu, Anthony pun menggandeng Nestle S.A. Keduanya
sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle. Deal bisnis antara
dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung pada pendirian PT Nestle Indofood
Citarasa Indonesia. Perusahaan berstatus PMA ini menyedot dana Rp50 miliar,
dengan masing-masing pihak menyetor 50%.
“Pendirian usaha patungan baru ini akan menciptakan peluang
untuk memanfaatkan dan mengembangkan kekuatan yang dimiliki kedua perusahaan,”
kata Anthony. Ia percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya
bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham. Perusahaan
tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan, pemasaran, dan
distribusi produk kuliner. Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi
penggunaan merek produk kuliner kepada Nestle-Indofood. Indofood sendiri
memiliki kekuatan pada profil produksi rendah biaya, jangkauan distribusi yang
luas, dan kecepatan menjangkau konsumen melalui anak perusahaannya, PT
Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di bidang industri bumbu penyedap
makanan.
Anthony melihat bahwa perusahaan yang dipimpinnya adalah kapal
yang besar dengan 50.000 karyawan. Harus ada komunikasi yang baik agar kinerja
perusahaan dapat terfokus tajam dalam melihat pasar. Kata Anthony, sebenarnya
aktivitas bisnis yang dilakukan selama ini banyak, hanya saja tidak terlihat.
“Indonesia masih menjanjikan imbal hasil yang tinggi dalam bisnis,” ungkapnya.
KARIR
CEO Salim Group (0)
Presiden Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (2004)
Non-Executive Chairman and Chairman of Nomination Committee
First Pacific Company Ltd (2003)
Former Non-executive Director Elders Limited
Member of International Advisory Board Allianz SE
President Commissioner Fastfood Indonesia PT
Former President Commissioner PT Indomobil Sukses Internasional
Tbk
President Director and Member of the Board of the Directors PT
Indofood CBP Sukses Makmur
PENGHARGAAN
Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005
5. Peter Sondakh


Hari itu tentu menjadi momen menyedihkan bagi Peter Sondakh,
ayahnya B.J Sondakh wafat secara mendadak pada tahun 1975. Sang ayah
meninggalkan keluarga dan bisnis yang telah dirintisnya sejak awal di tahun
1954 berupa produksi minyak kelapa dan ekspor kayu. Setelah ayahnya wafat,
Peter Sondakh yang baru berumur dua puluh dua, mengganti posisi ayahnya menjadi
tulang punggung untuk menafkahi keluarganya dari seorang ibu dan empat saudara
perempuan. Dia juga mengambil alih bisnis ayahnya, padahal kala itu sebagian
besar karyawan telah seusia ayahnya.
Naluri bisnis ayahnya mengalir deras dalam tubuh Peter, namanya
tercatat sebagai pemegang saham PT Bumi Modern sejak 1976. Saat itu, Peter baru
berusia 24 tahun. Lalu pada tahun 1984 dia kemudian sukses membesarkan
perusahaannya di bawah bendera PT Rajawali Wira Bhakti Utama. Perusahaan inilah
cikal bakal dari Grup Rajawali, perusahaan holding yang kemudian di kenal
dengan nama PT Rajawali Corporation (RC). Kabarnya, salah satu proyek
yang berkontribusi pada awal kemajuan bisnisnya saat Peter mendapat kesempatan
menjual lahan kedutaan Indonesia di Singapura pada tahun 80an.
Satu hal yang selalu diingat oleh Peter Sondakh adalah keinginan
ayahnya untuk membuka sebuah hotel. Seiring waktu berjalan, peluang untuk
mewujudkan impian ayahnya itu terbuka lebar ketika melalui PT Bumi Modern Peter
berhasil menggandeng Asuransi Bumi Putera untuk membangun Hotel Hyatt di
Surabaya. Setelah itu, bersama Bambang Trihatmodjo, putra presiden Indonesia,
Soeharto, mereka kemudian membangun Grand Hyatt di Jakarta. Bambang adalah
mitra bisnis pertamanya.
Kerjasama Peter Sondakh dengan keluarga Cendana terus berlanjut.
Setelah sukses membangun Grand Hyatt, mereka kemudian memperluas jangkauan
bisnis dengan mendirikan jaringan televisi swasta pertama di Indonesia Rajawali
Citra Televisi Indonesia (RCTI). Hebatnya, mulai periode 1976-1996 Grup
Rajawali telah memiliki lima sektor usaha, yaitu: pariwisata, transportasi,
keuangan, perdagangan, dan jasa telekomunikasi.
Pada saat Peter Sondakh menjalankan bisnis hotel dan
televisinya, tahun 1991 pemerintah Indonesia menawarinya bisnis baru, yaitu
menangani perusahaan yang hampir bangkrut, PT Bentoel Group. Peter Sondakh pun
menerima tawaran tersebut dan perlahan namun pasti mampu menaikkan citra PT
Bentoel kembali. Akhirnya Pada tahun 1999, PT Bentoel Group sudah mulai
menunjukkan adanya keuntungan.
Peter Sondakh dikenal sebagai pebisnis ulung dan piawai dalam
menggunakan koneksi tingkat tinggi. Bersama Bambang Trihatmodjo, Grup Rajawali
ikut membangun Plaza Indonesia bersama PT Bimantara. Rajawali juga merambah
sektor telekomunikasi dengan mendirikan Excelcomindo Pratama, yang dioperasikan
sejak 1996 dan kemudian dijual ke Telekom Malaysia.
Toh, perjalanan bisnis Peter tak selalu berjalan mulus. Krisis
moneter 1997-1998 sempat menenggelamkan nama Peter Sondakh dalam kancah bisnis
di Indonesia. Seperti beberapa konglomerat yang lain, ia juga menanggung utang
yang luar biasa besar kepada BPPN sebesar Rp 2,1 triliun yang berasal dari 17
anak perusahaannya. Tetapi, tak jelas dari mana Peter kemudian bisa membayar
utangnya. Ramai diberitakan media, pada 2000 semua utang tersebut dinyatakan
lunas.
Peter terpaksa melepaskan kepemilikan sahamnya di Apotek
Guardian, RCTI, dan Lombok Tourism. Bahkan bank miliknya, Bank Pos, ikut
dibekukan karena kesulitan likuiditas akibat krisis. Namun, seperti burung
Rajawali, Peter Sondakh kelihatan pantang menyerah mengepakkan sayap usahanya.
Mata dan nalurinya setajam Rajawali, mampu mengendus peluang bisnis yang layak
ditubruk. Tak heran, gebrakannya lewat perusahaan holding yang didirikannya, PT
Rajawali Corporation, belakangan kerap mengejutkan publik.
Sekali lagi Peter membuktikan ketangguhannya dengan mampu
melewati krismon di kala beberapa konglomerat lainnya ada yang gulung tikar.
Setelah restrukturisasi grup usahanya, aksi menonjol yang pertama kali
dilakukan adalah mendirikan NetToCyber Indonesia bergerak di bidang jasa
Broadband Internet, Virtual Private Network, Internet Data Centre, dan Network
Integration pada 2001. Sayangnya, kiprah perusahaan ini tak begitu terdengar.
Setelah itu, kabar mengenai kiprah bisnis Peter mendadak sepi.
Apakah Peter meninggalkan arena bisnis tanah air? Ternyata tidak.
Selama menyepi, rupanya Sang Rajawali tengah mempersiapkan langkah
kebangkitannya. Memasuki tahun 2005, Peter membuat kejutan. Aksi korporat yang
atraktif adalah ketika ia menjual 27,3% sahamnya di Excelcomindo yang
sebenarnya termasuk salah satu bintang industri telekomunikasi nasional kepada
Telekom Malaysia Group pada 2005. Nilai saham tadi setara dengan US$ 314 juta.
Langkah divestasi ini berlanjut pada 2007 ketika Rajawali
melepaskan 15,97% sahamnya di Excelcomindo senilai US$ 438 juta kepada Etisalat
(perusahaan telekomunikasi Uni Emirat Arab). Dana dari penjualan saham ini
kemudian digunakan untuk membeli 24,9% saham PT Semen Gresik senilai US$ 337
juta dari Cemex (Cementos Mexicanos) pada 2006.
Kepakan sayap Rajawali terus berlanjut, dengan mengangkasa
menembus industri perkebunan dan pertambangan. Pada 2006, Rajawali terjun ke
bisnis perkebunan sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Sumatera yang
dalam sub-holding PT Jaya Mandiri Sukses Group. Sementara itu, industri
pertambangan di Kalimantan dirambah grup usaha ini tahun 2007 melalui PT
International Prima Coal.
Aksi korporatnya yang lebih menghebohkan lagi ketika pada
pertengahan 2009, Peter telah melepaskan 56,96% sahamnya di PT Bentoel senilai
Rp 3,35 triliun kepada British American Tobacco (BAT). Alasannya, Rajawali
sebagai investment company ingin memfokuskan perhatian pada bidang properti,
pertambangan, dan perkebunan. Dengan ketiga pilar bisnis inilah tampaknya
Rajawali ingin menjadi global player yang disegani.
Ambisi ini memang dibuktikan dengan agresifnya Grup Rajawali
memperluas jaringan hotelnya di kawasan Indonesia seperti jaringan hotel
bintang lima Sheraton di Bali, Lampung, Bandung dan Lombok, serta di Kuala
Lumpur dan Langkawi. Masih ditambah dengan pengembangan Hotel Saint Regis
(Bali) dan Novotel (Lombok). Bisnis pertambangan pun makin diseriusi Rajawali.
Pada 2009, Rajawali mengakuisisi 37% saham Archipelago Resources (yang
mengelola tambang emas) seharga US$ 60 juta. Kemudian, Rajawali membentuk
perusahaan patungan dengan PT Bukit Asam di Kal-Tim.
Walaupun mengaku ingin fokus pada tiga sektor, Grup Rajawali ini
sempat diberitakan mengincar saham PT Garuda Indonesia. Entah kenapa rencana
itu batal dan Rajawali memilih join dengan pemerintah Kamboja mendirikan
National Airlines sebagai flag carrier di negara itu. Ya, dengan segudang dana
tunai hasil penjualan sahamnya di perusahaan-perusahaan bonafide yang
dimilikinya, Peter akhirnya bisa lebih leluasa kembali mengepakkan sayap
bisnisnya. Terutama dalam memantapkan ambisinya menguasai tiga bidang andalan
baru itu.
Saat ini, Rajawali menjelma sebagai organisasi bisnis yang terus
belajar dan beradaptasi dengan situasi dan kondisi bisnis terkini. Memang pada
awalnya, Rajawali merupakan sebuah konglomerasi, semakin bertambahnya usia,
khususnya pada 3 – 5 tahun terakhir ini berubah menjadi investment company.
Sebagai perusahaan investasi, Rajawali hanya akan fokus pada 3 jenis bidang
usaha, yaitu: properti-hotel, coal-mining, dan agrikultur. Sebagai perusahaan
investasi tentu budaya usahanya adalah dinamis dan kreatif.
Begitulah cerita sepak terjang pengusaha sukses asal Manado yang
lahir di Malang ini. Berangkat dari bawah hingga sampai pada jejeran pebisnis
yang disegani di tanah air. Tak heran, tahun 2006, menurut Forbes, Peter
Sondakh merupakan orang terkaya nomor 12 di Indonesia. Lalu di tahun 2007
peringkatnya naik menjadi nomor 9 terkaya, dan tahun 2008 sebagai orang terkaya
nomor 6 di tanah air dengan nilai kekayaan mencapai US$ 1,45 miliar.
6. Michael Hartono

Ternyata,
banyak sekali orang Indonesia yang sukses dalam karir sehingga banyak orang
dari seluruh dunia berdecak kagum terhadapnya. Salah seorang yang masuk ke
dalam daftar orang terkaya didunia versi majalah Forbes adalah orang Indonesia.
Beliau dikenal dengan nama Michael Hartono. Saat ini beliau berumur 72 tahun.
Pria yang jago berbisnis ini berasal dari sebuh kota kecil di Jawa Tengah yang
bernama Kudus. Beliau sudah berkecimpung dalam bisnis rokok dan perbankan
selama puluhan tahun. Walaupun rokok masih menjadi hal yang diperdebatkan di
Indonesia, tapi ternyata hal ini dapat memberikan kekayaan yang berlimpah
kepada beliau. Michael Hartono adalah orang yang mampu membuat rokok
menjadi sumber kekuatan ekonominya selain perbankan. Pria dengan 4 orang anak
ini pemilik perusahaan rokok kretek yang terkenal di Indonesia. Nama rokok
kretek yang terkenal itu adalah Djarum.
Karir beliau sebagai seorang pebisnis memang tidak selalu mulus.
Kejadian buruk pun pernah dialaminya secara berturut-turur. Satu kejadian yang hampir
membuatnya gulung tikar. Pada sekitar tahung 1960an, pabrik rokoknya terbakar
habis. Lalu ayahnya yang telah mendirikan pabrik tersebut meninggal dunia.
Bersama dengan adiknya, Robert Budi Hartono, beliau berusaha mempromosikan
produk dari perusahaannya ke luar negeri. Sekarang, Djarum menjadi produk rokok
yang diminati di Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan dirinya menjadi orang
paling kaya di Indonesia dengan menghasilkan harta berlimpah yang berjumlah
kurang lebih 14 miliar Dollar AS. Selain berbisnis rokok, beliau adalah seorang
yang sangat berperan dalam bisnis perbankan. Beliau memiliki saham yang besar
di Bank Central Asia. Beliau memiliki 51 persen saham disana. Perkembangan
sektor perbankan tentu saja memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan
saham mereka. Ada banyak lagi bisnis penting yang dipegang oleh beliau.
Perkebunan sawit di daerah Kalimantan Barat adalah salah satu ladang
investasinya. Dengan luas kebun sekitar 65.000 hektar, beliau pasti mampu
meraup keuntungan yang sangat besar. Grand Indonesia pun adalah salah satu
properti milik beliau.
Nama lengkap beliau adalah Michael Bambang Hartono. Bersama
adiknya, Budi Hartono, beliau mampu
mengumpulkan kekayaan yang berlebih dari bisnis rokok, perbankan dan properti.
Pengelolaan yang baik oleh beliau menghasilkan keuntungan yang sangat besar
sekali. Walaupun rokok adalah barang yang masih menjadi kontroversi di
Indonesia, beliau masih bisa mencari celah lain untuk menghasilkan uang yang
berlimpah. Ditambah lagi, Djarum bukanlah satu-satunya pemain di industri rokok
Indonesia. Masih banyak sekali merek-merek ternama yang bersaing memperebutkan
konsumen.
Namun, hal ini tetap tidak menggoyahkan Djarum. Kekayaan yang
beliau kumpulkan memang bukan saja berasal dari rokok. Ada beberapa bisnis lagi
yang beliau lakukan agar beliau masih bisa menikmati kerja kerasnya sepanjang
hidupnya.
Kisah sukses dan profil biografi Michael Bambang Hartono yang
menjadi salah satu orang dari 1000 orang terkaya di dunia setiap tahunnya
berdasarkan majalah Forbes tidak membuat Michael menjadi sombong, tetapi beliau
tetap low profile, ia adalah orang yang ramah dan sosok yang sederhana. Oei
Hwie Siang adalah nama asli dari Michael, lahir pada tanggal 02 Oktober 1939 di
kota Semarang.
Beliau merupakan salah satu pemimpin dan pemilik dari
Djarum Group bersama dengan adiknya Robert. Beliau sangat sukses di beberapa
sektor yang menjadi cakupan Djarum Group. Tidak hanya sukses di
bisnisnya, Michael juga sangat respect dengan perannya sebagai ketua umum pada
ATNI (Asosiasi Taijiquan Nasional Indonesia), Michael menghadiri
pembukaan jambore dan turnamen nasional Taijiquan yang kedua di Gedung Langit
(Pagoda Kenpark). Turnamen ini merupakan ajang untuk seleksi atlet Indonesia
yang berbakat untuk ajang internasional.
Taijiquan adalah olahraga yang berasal dari
Tiongkok, namun Michael yakin atlet Indonesia bisa memenangkannya karena
menurutnya siapapun bisa berhasil karena setiap orang memiliki kesempatan yang
sama untuk mempelajari dengan baik. Michael mempelajari Taijiquan yang berawal
dari tahun 1247, sejak 25 tahun yang lalu. Suami dari Ikawati Budiarto ini,
mempelajarinya dari master yang berasal dari Singapura, Tan Ching Nge dan
master yang berasal dari New York, Amerika, William CC Chen. Michael mengaku
mempelajarinya hanya untuk kesehatan, membela diri dan juga untuk keseimbangan
diri. Ternyata dibalik kisah sukses dan profil biografi Michael Bambang Hartono tidak
lepas dari hobi dan kebiasaan hidup yang teratur.
Beberapa hal dibalik kisah sukses dan profil bografi
Michael Bambang Hartono
Di tengah kesibukannya yang padat mengurus Djarum
beserta beberapa perusahaan lainnya, ayah dan kakek dari empat anak dan empat
cucu ini selalu memberikan waktu untuk berlatih hobinya tersebut. Biasanya ia
menyediakan waktu satu jam dari pukul 7 sampai 8 untuk latihan. Hobinya tidak
hanya Taijiquan tetapi juga balap mobil, music, bridge sampai menembak. Ada
banyak hal yang membuatnya sangat menyukai Taijiquan, menurutnya ritme lembut,
butuh konsentrasi yang tinggi, napas harus teratur serta saat ini olahraga
Taijiquan sangat banyak diminati oleh seluruh kalangan di dunia.
Awal dari terbentuknya Asosiasi Taijiquan Nasional
Indonesia adalah ketika berlangsungnya musyawarah nasional Taijiquan di
Semarang pada tanggal 17 November 2007. Berkat kehobiannya itulah di umur yang
tidak muda saat ini ia masih fit dan tidak kalah dengan anak muda, buktinya ia
masih bisa memimpin Djarum Group dan beberapa anak perusahaan
lainnya. Kisah sukses dan profil biografi Michael Bambang
Hartono membuktikan bahwa selain bekerja keras dan berkomitmen tinggi,
kita tetap harus memperhatikan kesehatan. Karena tetap kesehatan adalah hal
yang paling utama.
Perusahaan Yang
Maju Dan Berkembang di Indonesia Tahun 2014
1.
PT Alam Sutera Realty Tbk,
PT Alam
Sutera Realty Tbk. adalah anak
perusahaan dari grup Argo Manunggal yang
bergerak di bidang property
developer, didirikan oleh Harjanto Tirtohadiguno beserta
keluarga pada 3 November 1993. Awalnya
perusahaan ini bernama PT Adhihutama Manunggal, kemudian berganti nama menjadi
PT Alam Sutera Realty Tbk pada 19 September 2007. Perusahaan ini
mengembangkan dan memanajemen properti-properti tempat tinggal, tempat usaha
komersil, tempat industri dan pusat-pusat perbelanjaan, kantor-kantor dan juga
tempat-tempat rekreasi. Perusahaan ini memiliki proyek-proyek real estate besar
di Serpong, Cibitung, Cianjur, Tanjung Pinang dan Sanur.
Pada
tahun 1994 PT Alam
Sutera Realty Tbk. mulai mengembangkan proyek pertama di sebuah kawasan terpadu
bernama Alam Sutera yang terletak di Serpong Utara, Tangerang Selatan dan Pinang, Kota Tangerang, provinsi Bantendan berlanjut hingga saat ini. Selain itu Alam Sutera
juga melakukan pengembangan ke daerah Bali. Perusahaan ini
menjadi perusahaan publik dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tanggal 18 Desember 2007.
Saat
ini perumahan Alam Sutera merupakan price
leader untuk kawasan Serpong
dimana harga tanah di Alam Sutera mencapai 13,7 jt/m2 untuk residensial dan
12,5 jt/m2 untuk komersial pada tahun 2014. Hal ini karena
dibukanya akses tol langsung (Via tol Jakarta-Merak) ke kawasan Alam Sutera
pada tahun 2009. Konsep bisnis ke depannya adalah untuk membangun properti yang
mendatangkan nilai sewa seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel, dan exhibition center.
Kawasan
yang telah berhasil dikembangkan adalah perumahan, apartemen, mall, dan superblock di kawasan Serpong,Kota
Tangerang Selatan, dengan posisi yang berdekatan dengan
beberapa pengembang besar, antara lain BSD,Summarecon
Serpong, Paramount Serpong, dan Lippo Village. Lokasi yang menjadi pusat pengembangan saat oleh Alam
Sutera adalah Alam Sutera Superblock (kawasan komersial dan juga perumahan
Sutera Victoria) dan perumahan Suvarna Padi Golf Estate di Pasar Kemis Tangerang. Perumahan ini juga dilengkapi dengan fasilitas umum dan
sosial seperti rumah ibadah, taman bermain, rumah sakit, mal dan hotel.
Pada
tahun 2012, perusahaan ini mengambil alih Garuda Adhimatra Indonesia, pemilik
dan operator proyek Garuda Wisnu Kencana.
Garuda Wisnu Kencana
(GWK) Cultural Park merupakan sebuah kawasan wisata taman budaya seluas ± 60 ha
yang terletak di Ungasan, Kabupaten Badung, Bali,
sekitar 10-15 menit berkendara dari Bandara Internasional
Ngurah Rai. Dengan rancangan patung Garuda Wisnu setinggi 126
meter dan lebar sayap membentang sekitar 64 meter sebagai daya tarik
utama, GWK Cultural Park menawarkan
salah satu karya seni terbesar dan paling menakjubkan yang pernah dibuat
sepanjang sejarah seni rupa Indonesia, dan sebagai representasi salah satu
warisan budaya lokal Indonesia.
Yayasan
Garuda Wisnu Kencana yang salah satu pendirinya adalah juga penggagas
ide besar di balik konsep Garuda Wisnu Kencana, Bapak I
Nyoman Nuarta, memprakarsai ide proyek ini pada tahun 1992 dengan
visi menjadikannya sebagai landmark Bali yang dikenal dalam dunia pariwisata
Indonesia. Gagasannya diwujudkan dengan mengolah kawasan eksisting berupa batu
kapur dengan pendekatan olah seni lahan (land art) yang menyatu dengan konsep
Arsitektur Landscape modern yang senantiasa memperhatikan keselarasan antara
manusia, alam dan sang pencipta Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai alternatif
infrastruktur pariwisata buatan abad ke-21, GWK Cultural Park saat ini tengah
berkembang menjadi taman budaya yang menyuguhkan berbagai acara yang meliputi
pameran budaya, acara dan atraksi hiburan serta menjadi forum informasi dan
komunikasi untuk budaya lokal setempat, nasional, regional dan bahkan
internasional.
Menemukan lokasi yang
sempurna untuk sebuah proyek mega struktur bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan
waktu dua tahun sejak awal dikembangkannya konsep proyek ini, sebelum akhirnya
menemukan tempat yang sesuai. Sebuah area bekas tambang kapur di bukit tandus
di sebuah desa bernama Ungasan. Walaupun wilayah ini begitu terpencil dan
terisolasi, namun Yayasan GWK melihat potensi sangat baik, sehingga
menginspirasi Yayasan untuk merehabilitasinya.
Untuk merancang dan
mewujudkan patung raksasa ini, Yayasan GWK menunjuk I
Nyoman Nuarta, salah satu pematung modern terbaik Indonesia.
Setelah peletakan batu pertama pada Juni 1997, taman budaya mulai dipromosikan
secara terbuka pada tahun 2000 dengan
mengekspos dan memamerkan beberapa bagian dari patung Garuda Wisnu, dibarengi
dengan beberapa uji coba untuk sejumlah fasilitas pendukung.
Singkat cerita, sejak
tahun 2013 kepemilikan
dan pengelolaan GWK Cultural Park beralih ke PT Alam Sutera Realty, salah satu
perusahaan properti terkemuka di Indonesia, GWK Cultural Park kini juga
menawarkan sejumlah fasilitas ideal untuk berbagai macam acara, baik acara
tertutup maupun umum, kecil atau besar, lokal maupun internasional.
Infrastruktur pendukung seperti Plaza Wisnu, Street Theatre, Lotus Pond,
Amphitheater, ruang Pameran & Galeri Seni, Indraloka Garden, Tirta Agung,
beberapa restaurant andalan GWK seperti Jendela Bali dan The Beranda, serta
beberapa Butik & Toko Cinderamata – semuanya telah siap melayani
pengunjung.
Alam Sutera Meraih Penghargaan di Properti Indonesia
Award 2015 dan Golden Property Awards 2015
Jakarta, 27 Agustus
2015 - PT Alam Sutera Realty Tbk. meraih penghargaan The
Well Implemented Township Project dari Properti Indonesia Award 2015
(PIA-2015) yang diselenggarakan pada Rabu, 19 Agustus 2015 dan berbagai
penghargaan di Golden Property Awards 2015 yang diselenggarakan
oleh Indonesia Property Watch pada Rabu, 26 Agustus 2015.
Penghargaan tersebut antara lain: Best Township Development Project untuk Alam
Sutera, Best Urban Living Apartment Region Banten untuk Kota
Ayodhya, Most Influential Property Professional untuk Ibu
Lilia S. Sukotjo – Marketing Director PT Alam Sutera Realty Tbk.
Properti Indonesia
Award 2015 (PIA-2015) merupakan ajang apresiasi ketiga kalinya yang
diselenggarakan oleh Majalah Properti Indonesia untuk insan properti dan
industri penunjangnya. Penghargaan ini diberikan kepada karya kreatif dan para
pelaku industri properti, sektor pendukung serta pemerintah daerah atas
keberhasilannya melakukan percepatan pembangunan di wilayahnya masing-masing.
Golden Property Awards merupakan ajang
penghargaan yang diharapkan menjadi barometer apresiasi dan penghargaan
tertinggi dalam bisnis properti di Indonesia. Sebagai lembaga riset dan
konsultan properti yang berpengalaman, Indonesia Property Watch menitikberatkan
penghargaan yang ada berdasarkan penilaian dan riset sesuai dengan kriteria
yang terukur, teruji, dan independen.
2.
ACE Hardware Indonesia
PT ACE
Hardware Indonesia Tbk adalah sebuah perusahaan ritel yang bergerak dalam
bidang perlengkapan rumah dan produk-produk gaya hidup. Pada akhir 2014,
perusahaan ini mengelola jaringan dari 110 toko ritel di beberapa kota besar di
Indonesia. Dengan total area lantai toko yang lebih luas dari 255.000 meter
persegi, ACE Hardware adalah salah satu jaringan modern terbesar dari bisnis
ritel perlengkapan rumah dan gaya hidup di Indonesia.
ACE
Hardware Indonesia adalah pemegang waralaba (franchise) merek ACE Hardware (ditunjuk
oleh ACE Hardware Corporation yang berbasis di AS).
Ace
Hardware Corporation (AHC) merupakan perusahaan ritel global yang berdiri
pertama kali pada tahun 1924 di Chicago, Amerika Serikat, dengan pendirinya
bernama Richard Hesse. Dan sejak saat itu, AHC terus berkembang pesat. Pada
tahun 1968, Ace Hardware untuk pertama kalinya membuka toko diluar Amerika,
ketika itu di Kepulauan Guam. Dan pada tahun 1990, AHC mulai bekerja sama
dengan perusahaan-perusahaan lokal di tiap-tiap negara untuk membuka toko
(setelah sebelumnya hanya membuka toko miliknya sendiri), dengan konsepnya yang
kurang lebih sama dengan sistem franchise Alfamart atau Indomaret.
Kemudian
pada tahun 1995, AHC masuk ke Indonesia dengan bekerja sama dengan Grup
Kawan Lama, dimana kedua belah pihak sepakat untuk mendirikan PT Ace
Hardware Indonesia (ACES), namun 100% saham ACES sepenuhnya dipegang pihak
Kawan Lama (menjadi 60% setelah perusahaan go public pada tahun 2007, dimana
40%-nya dipegang investor publik). Dalam kontraknya, ACES diharuskan untuk
membayar royalti kepada AHC, namun nilai royaltinya nggak besar, cuma Rp17
milyar pada Semester I 2013 (bandingkan dengan pendapatan perusahaan yang
mencapai Rp1.8 trilyun). Dan sebagai gantinya ACES memperoleh hak eksklusif
untuk menggunakan merk ‘Ace Hardware’, dan juga hak eksklusif untuk membeli
produk - produk home improvement dari AHC, dimana kontak hak eksklusif tersebut
baru akan selesai pada tahun 2024.
Dalam
perkembangannya sejak membuka gerai pertama di Karawaci, Tangerang, pada tahun
1996, ACES terus berkembang pesat dan menjadi salah satu anak usaha Grup Kawan
Lama yang paling sukses sejauh ini. Hingga hari ini, atau 18 tahun sejak
didirikan, ACES sudah memiliki total 85 toko/gerai di seluruh Indonesia, dan
masih akan terus bertambah. Pihak manajemen sendiri, terutama sejak perusahaan
go public pada tahun 2007, mentargetkan akan membuka setidaknya 15 gerai anyar
setiap tahunnya, thanks to meningkatnya jumlah penduduk kalangan menengah di
Indonesia dalam lima tahun terakhir ini.
Dan
sejak tahun 2010 lalu, ACES membuka unit usaha baru, yaitu Toys Kingdom,
yaitu toko yang secara khusus menjual mainan, tidak hanya mainan anak-anak tapi
juga orang dewasa, hingga perlengkapan bayi. Seperti juga toko Ace
Hardware-nya, di Toys Kingdom ini anda akan menemukan mainan-mainan berkualitas
bagus yang tidak ada di toko lain. Sejauh ini ACES sudah memiliki 16 gerai Toys
Kingdom dengan lokasi yang masih terkonsentrasi di Jakarta, yang ditargetkan
akan tumbuh menjadi 21 gerai pada akhir tahun 2013. Sehingga secara
keseluruhan, ACES menawarkan prospek pertumbuhan yang menarik.
Kinerja
Perusahaan & Sahamnya
Penulis
sudah mengamati ACES ini sejak lama, sejak harga sahamnya masih di 4,000-an
(sebelum stocksplit, setara dengan 400 pada saat ini). Ketika itu penulis
sampai pada kesimpulan bahwa meski kinerja perusahaannya bagus, namun harga
sahamnya nggakaffordable alias kelewat mahal, dengan PER ketika itu
mencapai lebih dari 25 kali. Selain itu, kalau berdasarkan pengalaman penulis
sendiri, penulis sangat jarang membeli sesuatu di Ace Hardware, kecuali jam
dinding yang sudah diceritakan diatas, kurang lebih setahun yang lalu. Hal ini
berbeda dengan toko retail biasa seperti Carrefour, Hero, Ramayana, Hypermart,
hingga minimarket seperti Alfamart, dimana penulis lumayan sering belanja
disitu. Jadilah ketika itu penulis berkesimpulan bahwa ACES akan mengalami
kesulitan jika Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang pada
akhirnya berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Karena memang,
barang-barang yang dijual Ace Hardware rata-rata harganya kelewat mahal sih..
Namun
faktanya hingga laporan keuangan terakhir perusahaan per Kuartal II 2013,
kinerja ACES sejauh ini malah merupakan salah satu yang terbaik di sektor
ritel, dengan ROE yang mencapai 22.3%. Sementara catatan pertumbuhannya dalam
tiga tahun terakhir (sejak 2010) juga luar biasa, dengan laba bersih yang
hampir berlipat dua setiap tahunnya. Kalau yang penulis perhatikan, pertumbuhan
ACES yang cepat tersebut turut terdorong oleh booming properti di Indonesia
dalam 3 tahun terakhir ini, dimana banyak mall-mall baru yang didirikan di
Jakarta dan sekitarnya, belum termasuk mall-mall yang didirikan di daerah
lainnya di Pulau Jawa, sehingga ACES jadi punya banyak tambahan tempat untuk
membuka gerai baru. Intinya, jika sektor properti masih seperti sekarang ini
hingga dua tiga tahun kedepan, maka ACES juga masih berpeluang untuk mencatat
pertumbuhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Terakhir, ACES membuka gerai
ke-85-nya di Kota Solo, Jawa Tengah, sekaligus merupakan gerai keduanya di
kotanya Jokowi tersebut. Dan coba tebak? Gerai anyar tersebut bisa berdiri
karena adanya mall baru di Solo, yakni Hartono Mall, yang baru beroperasi pada
tahun ini. Sementara gerai milik ACES sebelumnya berlokasi di Solo Square Mall.
Tapi
jika nanti pembangunan mall-mall anyar berhenti, maka bagaimana pertumbuhan
ACES kedepannya? Ya tentunya masih akan tumbuh, hanya saja tidak akan sekencang
sebelumnya. Namun mengingat ACES juga punya Toys Kingdom, yang sejauh ini
jumlah gerainya masih sedikit, maka angka pertumbuhan yang tercatat dalam tiga
tahun terakhir kemarin berpeluang untuk dipertahankan, atau bahkan tumbuh lebih
tinggi lagi, jika Toys Kingdom tersebut sukses (sekarang masih dirintis). Dari
pendapatan ACES sebesar Rp1.8 trilyun di Semester I 2013, Toys Kingdom baru
berkontribusi sebesar Rp73 milyar saja, namun angka tersebut tumbuh signifikan
(55.7%) dibanding periode yang sama tahun 2012, yang hanya Rp47 milyar.
Kesimpulannya,
berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan justifikasi kenapa
ACES ini mahal (PER dan PBV masing-masing 34.3 dan 7.8 kali pada harga 740),
yakni:
Sektornya
unik, dan perusahaan berstatus sebagai market leader di sektornya tersebut.
Nama dan brand perusahaan juga cukup dikenal oleh publik.
Kinerjanya
sangat baik untuk ukuran perusahaan ritel.
Nama
besar Grup Kawan Lama sebagai pengelola perusahaan. Kawan Lama sejak dulu
memang sudah sangat terkenal sebagai perusahaan distributor barang-barang
perkakas terbesar di Indonesia.
Sementara
merk ‘Ace Hardware’ sendiri merupakan merk ritel global yang cukup terkenal,
hampir sama terkenalnya dibanding Walmart, The Home Depot, atau IKEA. Ace
Hardware Corporation secara total memiliki 4,077 gerai diseluruh dunia per
akhir tahun 2012, termasuk melalui ACES di Indonesia
Perusahaannya
punya peluang untuk me-maintain momentum pertumbuhannya, seiring dengan
masih berkembangnya sektor properti, masih meningkatnya jumlah penduduk
kalangan menengah, dan karena adanya venture baru di bidang ritel
produk mainan (Toys Kingdom), dan
ACES
merupakan satu-satunya perusahaan ritel khusus produk-produk home
improvement di BEI, sehingga anda tidak bisa invest di saham lain kalau
tertarik untuk masuk ke sektor ini.
Disisi
lain, berikut adalah beberapa hal yang patut pula anda pertimbangkan sebelum
memutuskan untuk invest di ACES ini:
Valuasi
ACES biar bagaimanapun memang mahal, bahkan meski dia sudah turun lumayan dalam
dari puncaknya (1,120) karena melemahnya IHSG. Dalam hal ini penulis jadi ingat
dengan saham Mitra Adiperkasa (MAPI), yang meski perusahaannya bagus,
namun sahamnya sejak awal juga memang sudah mahal (MAPI ini perusahaan ritel
juga). Dan entah karena faktor valuasi tersebut atau lainnya, faktanya MAPI
menjadi salah satu saham yang paling terpukul seiring terkoreksinya IHSG
akhir-akhir ini, dimana MAPI sudah turun hampir 40% dari posisi puncaknya.
Meski
kinerja ACES sejauh ini masih bagus, namun kinerja Ace Hardware Corporation
(AHC) justru terus turun sejak mengalami puncaknya pada tahun 2007 lalu. Meski
itu mungkin karena perekonomian Amerika dan Eropa sedang melambat, berbeda
dengan perekonomian Indonesia justru sedang bagus-bagusnya, namun tidak ada
salahnya jika hal ini kemudian anda jadikan catatan.
Besaran
royalti yang dibayarkan ACES ke AHC selama ini terbilang sangat kecil. Jika
nanti sewaktu-waktu royalti tersebut dinaikkan, maka bukan tidak mungkin saham
ACES akan mengalami nasib seperti saham Unilever Indonesia (UNVR), atau Holcim
Indonesia (SMCB), yang langsung jatuh begitu keluar pengumuman soal royalti
tersebut. Meski disisi lain itu justru merupakan peluang untuk buy di harga
murah meriah (karena faktanya UNVR dan SMCB langsung naik lagi), tapi hal itu
akan jadi risiko jika anda membeli ACES di harga saat ini.
Pertumbuhan
gerai-gerai baru ACES nyaris sepenuhnya bergantung pada pembangunan mall-mall
baru. Kalau kita perhatikan Jakarta dan sekitarnya sih, memang mall-mall baru
tersebut terus bermunculan seperti jamur di musim hujan. But honestly, penulis
tidak pernah tahu kapan ‘musim hujan’ tersebut akan berakhir, karena mall
bukanlah jenis properti yang bisa dibangun dalam jumlah massal, seperti
perumahan, apartemen, gedung perkantoran, atau kawasan industri. Adalah aneh
jika dalam satu lokasi, terdapat banyak mall sekaligus.
3.
PT. MEDIA NUSANTARA CITRA Tbk ( MNC )
PT
Media Nusantara Citra Tbk lebih
dikenal dengan nama MNC saja
merupakan sebuah perusahaan yang
bergerak dalam bidang media yang
berpusat di Jakarta, Indonesia, didirikan pada tahun 1997. Satu dekade
kemudian, 22 Juni 2007 perusahaan ini resmi melantai di bursa saham dengan kode
emiten atau ticker MNCN. Saat ini, mayoritas saham digenggam oleh Global
Mediacom dengan porsi saham sekitar 65,12% dan masyarakat sekitar 34,9% Saham MNC terhitung liquid dan
memiliki tren peningkatan signifikan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan
Anggaran Dasar Perseroan,yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, MNC bergerak
dibidang perdagangan umum, pembangunan, perindustrian, pertanian, pengangkutan,
percetakan, multimedia melalui perangkat satelit dan perangkat telekomunikasi
lainnya, jasa dan investasi.
Bisnis
utama perseroan saat ini adalah media. Sumber pendapatan terbesar MNCN berasal
dari tiga media televisi nasional yaitu RCTI, Global TV, dan MNCTV. Ketiga stasiun televisi nasional tersebut menawarkan
acara beragam seperti film-film box office, acara olahraga, pencarian bakat,
reality show, acara musik, berita, infotainment.
MNCTV (sebelumnya bernama TPI) adalah stasiun televisi swasta Indonesiayang mengudara secara terestrial dari Jakarta. Namanya yang
sekarang dipergunakan sejak 20 Oktober 2010.
MNCTV
merupakan stasiun televisi swasta ketiga di Indonesia setelah RCTIdan SCTV. MNCTV didirikan
oleh Mbak
Tutut dan dulu sebagian besar sahamnya dimiliki oleh PT Cipta
Lamtoro Gung Persada.
Pada
tahun 2009 sampai
dengan tahun 2010, MNCTV tidak
menyiarkan acara olahraga. Tetapi, mulai tahun 2010 hingga 2013, MNCTV kembali
menyiarkan acara olahraga yaitu Liga
Utama Inggris.
Pada
tahun 2011, MNCTV juga
memiliki hak siar dalam ajang sepak bola Liga
Prima Indonesia, bersama RCTI dan Global TV.
TPI
pertama kali mengudara pada 1 Januari 1991 selama
2 jam dari jam 19.00-21.00 WIB. TPI diresmikan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1991 di
Studio 12 TVRI Senayan, Jakarta Pusat. Pada awal pendiriannya tahun 1991TPI hanya ingin
menyiarkan siaran edukatif saja.
Saat itu TPI hanya mengudara 4 jam. Salah satunya dengan bekerjasama dengan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyiarkan materi pelajaran pendidikan
menengah. Sejak itu TPI mengudara 4 jam, lalu sejak 1 Juni 1991 menjadi
6,5 jam. Lalu menjelang akhir 1991 sudah 8
jam.
Pada
tahap awal pendiriannya, TPI berbagi
saluran dengan televisi milik pemerintah, TVRI. Perlahan-lahan
mereka mengurangi misi edukatif, dengan juga menyiarkan acara-acara lain,
termasuk kuis-kuis dan sinetron sebagai
selingan.
TPI
berpisah saluran dengan TVRI di pertengahan 90-an dikarenakan parabola analog
ke digital. Program edukasi pun tergusur, dan TPI fokus di program acara musik
dangdut, seolah acara lain yang disebut 'makin Indonesia' dalam motto barunya
seakan tenggelam oleh hingar bingar acaradangdut di
TPI. Bahkan TPI sebagai kependekan dari Televisi Pendidikan Indonesia sudah
tidak berlaku lagi.
Dalam
situs web resmi TPI, disebutkan TPI adalah Televisi
Paling Indonesia, sesuai dengan misi barunya, yakni menyiarkan acara-acara khas
Indonesia seperti tayangan sinetron lokal
dan musik dangdut. TPI pernah mendapat penghargaan karena telah
bertahun-tahun menayangkan acara kuis dangdut pertama di Indonesia yaitu Kuis Dangdut yang
dibawakan oleh Jaja Mihardja dan Dorce Gamalama. Pada Festival Sinetron Indonesia 1997, serial "Mat
Angin" (Deddy
Mizwar) yang ditayangkan TPI menyabet 11
penghargaan, ditambah dengan 5 penghargaan lagi tahun berikutnya dari serial
yang sama. Tak lupa juga acara terfavorit di Indonesia yaitu Santapan
Nusantara yang dibawakan oleh Enita Sriyana, sang
pakar kuliner.
Program Kontes Dangdut Indonesia yang
merupakan versi dangdut dari kontes American Idol dan Indonesian Idol merupakan
salah satu program unggulan TPI pada saat itu.
Sejak Oktober 2003, 75% saham TPI
dimiliki oleh Media
Nusantara Citra, kelompok perusahaan media yang juga
memiliki RCTI dan Global TV. Sejak 20 Oktober 2010, TPI resmi
berganti nama menjadi MNCTV. Perubahan ini terjadi dikarenakan TPI tidak sesuai
dengan konteks tertulis pada televisi tersebut yaitu menjadi salah satu
televisi yang berbau pendidikan di Indonesia, dan oleh karena itu nama TPI
berubah menjadi MNCTV untuk mengubah citra TPI di mata masyarakat.
Penghargaan :
·
CNN Television Journalism Awards 2012
(Seputar Indonesia juara 1 untuk kategori Education News dan juara 2 untuk
kategori Best Single News Story
·
Penghargaan Panasonic Gobel Award 2012 untuk
10 kategori program dan 4 kategori perorangan antara lain program Masterchef
Indonesia, Mega Konser, Seputar Indonesia, Masterclass, Si Doel Anak Pinggiran,
Sea Games Final Malaysia, The Most Favorite Media TV Station 2012;
·
The Best in Building and Managing Corporate
Image dari Frontier Consulting Group dan Indonesias Most Favorite Netizen Brand
2012.
·
MNCTV piala silver untuk Promosi Terbaik
Media Televisi Kategori Kids
·
Piala perunggu untuk Promosi Terbaik Media
Televisi Kategori Sports
·
Anugerah Citra Pariwara 2012
·
Best Corporate Transformation 2012 kategori
Good yang diselenggarakan oleh Majalah SWA
·
Panasonic Award untuk program Sidik Kasus,
Lintas Siang dan Diantara Kita
·
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)
4. PT.
HOLCIM INDONESIA Tbk.
PT
Holcim Indonesia Tbk adalah
sebuah perusahaan semen di Indonesia. Perusahaan ini awalnya bernama PT Semen Cibinong Tbk yang
didirikan pada tahun 1971. Holcim kemudian
membeli sebagian sahamnya pada 13 Desember 2001
Holcim Indonesia memiliki dua pabrik yaitu
pabrik Narogong dan pabrik Cilacap dengan kapasitas maksimum 7,9 juta ton per
tahun. Per Juli 2008, kepemilikan saham Holcim Indonesia adalah Holcim Ltd (Swiss) sebesar 77,33%
dan publik sebesar 22,7%.
Perusahaan
ini mulai dimiliki Holcim, salah satu perusahaan semen terbesar di dunia sejak 13 Desember 2001. Pergantian nama
perusahaan dilakukan pada1 Januari 2006.
Holcim
dikenal sebagai pelopor dan inovator di sektor industri semen yang tercatat
sebagai sektor yang tumbuh pesat seiring pertumbuhan pasar perumahan, bangunan umum
dan infrastruktur. PT Holcim Indonesia Tbk satu-satunya produsen yang
menyediakan produk dan layanan terintegrasi yang meliputi 10 jenis semen, beton
dan agregat.
Kini PT Holcim Indonesia Tbk tengah
mengembangkan usaha waralaba yang unik, yakni Solusi Rumah, yang menawarkan
solusi perbaikan dan pembangunan rumah dengan biaya terjangkau dengan dukungan
lebih dari 9.200 ahli bangunan binaan Holcim, waralaba yang hingga pertengahan
2011 telah mencapai 351 gerai, dan staf penjualan via telepon yang jumlahnya
terus bertambah.
Kebutuhan untuk pasar utama PT Holcim Indonesia Tbk, yaitu Pulau Jawa, dipasok dari dua unit produksi utama dan satu stasiun penggilingan, dan semua unit ini mampu berproduksi dengan kapasitas 8.265 juta ton pertahun. Saat ini sedang dibangun unit produksi yang ketiga di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas tahunan 1,7 juta ton dan direncanakan mulai berjalan pada tahun 2013. PT Holcim Indonesia Tbk mengoperasikan banyak batching plant beton, dua tambang dan jaringan logistik lengkap yang mencakup pula gudang dan silo.
Pada tahun 2008 Holcim Indonesia menerima penghargaan tertinggi kategori lingkungan hidup dalam ajang Penghargaan Laporan Pembangunan Berkelanjutan National Corporate Social Responsibility (NCSR). Selain itu perusahaan juga meraih Penghargaan dari Presiden RI untuk bidang keselamatan kerja tahun 2008 dan penghargaan dari DuPont/Warta Ekonomi sebagai “Perusahaan Paling Peduli tentang keselamatan kerja pada tahun 2008, serta menjadi satu-satunya perusahaan yang mendapat peringkat Emas bidang manajemen keamanan dari Kepolisian Republik Indonesia.
Kebutuhan untuk pasar utama PT Holcim Indonesia Tbk, yaitu Pulau Jawa, dipasok dari dua unit produksi utama dan satu stasiun penggilingan, dan semua unit ini mampu berproduksi dengan kapasitas 8.265 juta ton pertahun. Saat ini sedang dibangun unit produksi yang ketiga di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas tahunan 1,7 juta ton dan direncanakan mulai berjalan pada tahun 2013. PT Holcim Indonesia Tbk mengoperasikan banyak batching plant beton, dua tambang dan jaringan logistik lengkap yang mencakup pula gudang dan silo.
Pada tahun 2008 Holcim Indonesia menerima penghargaan tertinggi kategori lingkungan hidup dalam ajang Penghargaan Laporan Pembangunan Berkelanjutan National Corporate Social Responsibility (NCSR). Selain itu perusahaan juga meraih Penghargaan dari Presiden RI untuk bidang keselamatan kerja tahun 2008 dan penghargaan dari DuPont/Warta Ekonomi sebagai “Perusahaan Paling Peduli tentang keselamatan kerja pada tahun 2008, serta menjadi satu-satunya perusahaan yang mendapat peringkat Emas bidang manajemen keamanan dari Kepolisian Republik Indonesia.
Pada
tahun 2010 pabrik semen PT Holcim Indonesia Tbk di Cilacap menjadi salah satu
dari hanya dua badan usaha di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan PROPER
Emas dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup “ Penghargaan tertinggi di bidang
manajemen limbah dan lingkungan hidup di Indonesia.” Pabrik kami di Narogong
berhasil memperoleh peringkat PROPER Hijau. Pada tahun itu juga, untuk ketiga
kalinya, merek Holcim dianugerahi penghargaan tahunan Superbrand merek pilihan
konsumen. Semua unit kerja perusahaan pada tahun 2010 mampu membukukan 6 juta
jam kerja tanpa satu kali pun kecelakaan menimpa karyawan.
5.
PT. GUDANG GARAM Tbk.
PT Gudang Garam Tbk. merupakan sebuah
perusahaan produsen rokok terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada
26 Juni 1958 oleh Surya Wonowidjojo. Perusahaan ini merupakan pemimpin dalam
produksi rokok kretek. Untuk menunjang produksinya, perusahaan ini memiliki
perkebunan tembakau sebesar 514 hektare di Kediri, Jawa Timur.
Gudang Garam termasuk perusahaan rokok terbesar
di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 26 Juni 1958 oleh Tjoa Ing
Hwie yang kemudian menggati namanya menjadi Surya Wonowidjojo. Tjoa Ing Hwie
atau Surya Wonowidjojo lahir di Fuqing, provinsi Fujian, China. Orangtuanya
migrasi ke Sampang, Madura saat usianya 4 tahun. Ketika ayahnya meninggal,
beliau kemudian hijrah ke Kediri, Jawa Timur.
Pada umur 20 tahunan, Surya Wonowidjojo diberi
tawaran bekerja dirumah pamannya yang dikenal dengan kretek cap 93, merk rokok
kretek paling terkenal dijamannya. Pada tahun 1956, Wonowidjojo meninggalkan
Cap 93 dengan membawa 50 karyawan.
Beliau kemudian membeli lahan di Kediri untuk
dijadikan pabrik. Pertama kali pabriknya memproduksi rokok klobot dengan merk
Inghwie, dan 2 tahun kemudian tahun 1958 beliau mengubah nama perusahaannya
menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam.
Nama Gudang Garam sendiri diambil dari mimpi
Wonowidjojo. Di mimpi tersebut beliau melihat gudang garam diseberang pabrik
Cap 93 menonjol. Sarman salah seorang dari 50 karyawan, memberi ide untuk
menempelkan foto gudang garam disetiap bungkus rokok kretek. Wonowidjojo
menganggap ini adalah ide yang baik dan meminta Sarman untuk mendesain logo
gudang garam.
Tahun 1984 kepemimpinan Gudang Garam beralih kepada
anak kandungnya sendiri yaitu Rachman Halim dimana Rachman Halim pernah
tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia dan berakhir pada tahun 2008 di
karenakan Rachman Halim meninggal dunia.
Kiprah perusahaan rokok ini dalam dunia industri
rokok di Indonesia dimulai sejak 1958, tepatnya 26 Juni 1958. Surya Wonowidjojo
adalah pencetus mulainya usaha rokok kretek dengan merek dagang "Gudang
Garam". Awalnya, usaha ini dimulai dengan hanya menggunakan alat
tradisional yang sederhana dan jumlah tenaga kerja sekitar 50 orang.
Produk pertama yang diluncurkan oleh perusahaan ini,
yaitu Sigaret Kretek Klobot (SKL) dan Sigaret Kretek Tangan (SKT). Hasil
produksi perusahaan ini pada awal berdirinya (1958) hanya sekitar 50 juta
batang. Pada mulanya, distribusi produk perusahaan ini hanya sekitar Kediri.
Setelah berjalan selama 10 tahun, perusahaan ini
menjadi semakin terkenal sehingga pendiri perusahaan mempertimbangkan untuk
mengembangkan usahanya. Pada 1969, perusahaan Gudang Garam mengubah status
menjadi sebuah Firma. Hal ini dilakukan agar dapat mengikuti perkembangan dunia
usaha.
Setelah perubahan status tersebut, perusahaan ini
pun pun mendapat dukungan dari BNI '46 berupa sokongan dana untuk kebutuhan
modal kerja. Awalnya, modal yang diberikan hanya dalam hitungan jumlah jutaan
rupiah. Seiring berkembangnya usaha, modal yang disuntikan BNI pun menjadi
milyaran rupiah.
Kemudian, pada 1971, status perusahaan berubah
menjadi Perseroan Terbatas (PT) dan mendapatkan fasilitas PMDN. Dengan status
Perseroan Terbatas, perusahaan rokok Gudang Garam semakin berkembang, baik dari
segi kualitas produksi, manajemen maupun teknologi. Dengan berkembangnya usaha
Gudang Garam, pada 1979, mulai diproduksi Sigaret Kretek Mesin (SKM).
Produksi sigaret kretek mesin ini tidak mengubah
sifat perusahaan yang menganut sistem padat karya, bahkan semakin memperluas
kesempatan kerja. Untuk memperkuat struktur permodalan dan posisi keuangan
perusahaan, maka pada 1990 PT. Gudang Garam melakukan penawaran umum untuk
menjual sebagian saham perusahaan pada masyarakat melalui bursa efek. Pada
1991, perusahaan mengembangkan sektor usaha pada bidang kertas industri melalui
PT Surya Pamenang yang berkedudukan di Kediri. Mayoritas kepemilikan saham PT
Gudang Garam Tbk. berada pada tangan PT Surya Pamenang. Pengembangan sektor
usaha ini bertujuan untuk menjamin kesinambungan pasok bahan pengepakan bermutu
tinggi. Sebelumnya, kebutuhan bahan pengepakan berkualitas masih harus diimpor.
PT Gudang Garam merupakan salah satu produsen rokok
kretek terkemuka yang menguasai pangsa pasar terbesar di Indonesia dan dikenal
sebagai produsen rokok kretek yang bermutu tinggi. Dilihat dari aset yang
dimiliki, nilai penjualan, pembayaran pita cukai, dan pajak pada Pemerintah
Indonesia, serta jumlah karyawan, PT Gudang Garam merupakan perusahaan terbesar
dalam sektor industri rokok kretek di Indonesia. PT Gudang Garam pun telah
mencatatkan sebagian saham-sahamnya di lantai bursa.
Nama besar yang disandang PT Gudang Garam tidak
lepas dari usaha manajemen yang menerapkan filosaofi yang dicetuskan pendiri
perusahaan, Surya Wonowidjojo. Filosofi yang diterapkan di perusahaan ini
dinamakan Catur Dharma Perusahaan. Berikut ini isi dari Catur Dharma perusahaan
Gudang Garam.
·
Kehidupan yang
bermakna dan berfaedah bagi masyarakat luas merupakan suatu kebahagiaan.
·
Kerja keras, ulet,
jujur, sehat dan beriman adalah prasyarat kesuksesan.
·
Kesuksesan tidak
dapat terlepas dari peranan dan kerja sama dengan orang lain.
·
Karyawan adalah
mitra usaha yang utama.
6. PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk. (
TELKOM )
Pada tanggal 14 November 1995 di resmikan PT. Telekomunikasi Indonesia .
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
(“TELKOM”, “Perseroan”, atau “Perusahaan”) adalah penyedia layanan
telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia. TELKOM menyediakan layanan InfoComm,
telepon tidak bergerak kabel (fixed wireline) dan telepon tidak bergerak
nirkabel (fixed wireless), layanan telepon seluler, data dan internet, serta
jaringan dan interkoneksi, baik secara langsung maupun melalui anak perusahaan.
Pada awalnya di kenal sebagai sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap atau dengan nama “JAWATAN”. Pada tahun 1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel),PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Dan pada tahun 1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.
Pada awalnya di kenal sebagai sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap atau dengan nama “JAWATAN”. Pada tahun 1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel),PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Dan pada tahun 1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.
Perkembangan PT Telkom di Indonesia :
1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegrap dan Telepon (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).
1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.
1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).
1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).
1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.
1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel.
1989 Undang-undang nomor 3/1989 tentang Telekomunikasi, tentang peran serta swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.
1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no.25 tahun 1991.
1995 Penawaran Umum perdana saham TELKOM (Initial Public Offering/IPO) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing/POWL) di Tokyo Stock Exchange.
1999 Undang-undang nomor 36/1999, tentang penghapusan monopoli penyelenggaraan telekomunikasi.
2001 TELKOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia, yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan transaksi ini, TELKOM menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM membeli 90,32% saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan keuangan TELKOM.
2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yaitu 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisa 55% saham pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual 12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.
PT. Telkom Juga mempunyai anak perusahaan seperti, Telkomsel, Telkomvision/Indonusa, Infomedia, Graha Sarana Duta / GSD, Patrakom, Bangtelindo, PT FINNET Indonesia.
Berikut adalah beberapa layanan telekomunikasi TELKOM:
* Telepon
1. Telepon tetap (PSTN), layanan telepon tetap yang hingga kini masih menjadi monopoli TELKOM di Indonesia
2. Telkom Flexi, layanan telepon fixed wireless CDMA
Data/Internet
1. TELKOMNet Instan, layanan akses internet dial up
2. TELKOMNet Astinet, layanan akses internet berlangganan dengan fokus perusahaan
3. Speedy, layanan akses internet dengan kecepatan tinggi (broad band) menggunakan teknologi ADSL
4. e-Business (i-deal, i-manage, i-Settle, i-Xchange, TELKOMWeb Kiostron, TELKOMWeb Plazatron)
5. Solusi Enterprise- INFONET
6. TELKOMLink DINAccess
Sampai dengan 31 Desember 2009, jumlah pelanggan TELKOM telah tumbuh sebesar 21,2% atau menjadi 105,1 juta pelanggan. TELKOM melayani 8,4 juta pelanggan telepon tidak bergerak kabel, 15,1 juta pelanggan telepon tidak bergerak nirkabel, dan 81,6 juta pelanggan telepon seluler.
Sampai dengan 31 Desember 2009, sebagian besar dari saham biasa TELKOM dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia dan sisanya dimiliki oleh pemegang saham publik. Saham TELKOM diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (“BEI”), New York Stock Exchange (“NYSE”), London Stock Exchange (“LSE”) dan Tokyo Stock Exchange (tanpa tercatat). Harga saham TELKOM di BEI pada akhir Desember 2009 adalah Rp9.450 dengan nilai kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir tahun 2009 mencapai Rp190.512 miliar atau 9,43% dari kapitalisasi pasar BEI.
Untuk menghadapi tantangan dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan mobilitas dankonektivitas tanpa putus, TELKOM telah memperluas portofolio bisnisnya yang mencakup telekomunikasi, informasi, media dan edutainment (TIME). Dengan meningkatkan infrastruktur, memperluas teknologi Next Generation Network (NGN) dan memobilisasi sinergi di seluruh jajaran TELKOMGroup, TELKOM dapat mewujudkan dan memberdayakan pelanggan ritel dan korporasi dengan memberikan kualitas, kecepatan, kehandalan dan layanan pelanggan yang lebih baik.
Pada tahun 2009, laba bersih konsolidasian kami sebesar Rp11.332,1 miliar meningkat 6,7% dibanding tahun 2008 atau 100,8% terhadap target tahun 2009. Sementara itu margin laba bersih kami sebesar 17,5% di tahun 2009 yang merupakan pencapaian 105,4% terhadap target margin laba bersih.
Prestasi keuangan tersebut didukung oleh kinerja operasional kami yang juga solid. Saat ini kami melayani 105,2 juta pelanggan, dari bisnis seluler, telepon tidak bergerak dan telepon tidak bergerak nirkabel. jumlah tersebut merupakan pencapaian 106% terhadap target perusahaan. Penambahan pelanggan kami dipimpin oleh bisnis seluler yang bertambah 16,34 juta pelanggan atau pencapaian 162% terhadap target perusahaan tahun 2009.
8. PT.
BANK RAKYAT INDONESIA Tbk ( BANK BRI )
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk (BRI atau Bank BRI) adalah salah satu bank milik
pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah olehRaden Bei Aria Wirjaatmadja dengan
nama De Poerwokertosche Hulp
en Spaarbank der Inlandsche Hoofden[1] atau
"Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto", suatu lembaga
keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga
tersebut berdiri tanggal16 Desember 1895, yang kemudian
dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.
Pada
periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun
1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di
Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI
sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian
Renville pada tahun 1949 dengan
berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui
PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang
merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij
(NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN
diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi
Tani dan Nelayan.
Setelah
berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang
pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan
baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan
dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi
Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).
Berdasarkan
Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan
Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral, yang
intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank
Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing
menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia.
Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali
tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan
Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21
tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan
terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di
tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia
memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan
nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan
sampai dengan saat ini.
Sampai
sekarang Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang didirikan sejak tahun 1895 tetap
konsisten memfokuskan pada pelayanan kepada masyarakat kecil, diantaranya
dengan memberikan fasilitas kredit kepada golongan pengusaha kecil. Hal ini
antara lain tercermin pada perkembangan penyaluran KUK (Kredit Usaha Kecil)
pada tahun 1994 sebesar Rp. 6.419,8 miliar yang meningkat menjadi Rp. 8.231,1
miliar pada tahun 1995 dan pada tahun 1999 sampai dengan bulan September
sebesar Rp. 20.466 miliar.
Seiring
dengan perkembangan dunia perbankan yang semakin pesat maka sampai saat ini
Bank Rakyat Indonesia mempunyai unit kerja yang berjumlah 4.447 buah, yang
terdiri dari 1 Kantor Pusat BRI, 12 Kantor Wilayah, 12 Kantor Inspeksi /SPI,
170 Kantor Cabang (dalam negeri), 145 Kantor Cabang Pembantu, 1 Kantor Cabang
Khusus, 1 New York Agency, 1 Caymand Island Agency, 1 Kantor Perwakilan Hongkong,
40 Kantor Kas Bayar, 6 Kantor Mobil Bank, 193 P.POINT, 3.705 BRI UNIT dan 357
Pos Pelayanan Desa. Pada 19 Januari 2013, BRI juga meluncurkan sistem e-Tax,
yaitu layanan penerimaan pajak daerah secara online melalui layanan cash
management.
9.
PT. UNVR Tbk. ( UNILEVER INDONESIA )
PT Unilever
Indonesia Tbk (IDX: UNVR)
adalah perusahaan Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari Unilever. Perusahaan ini sebelumnya bernama Lever Zeepfabrieken
N.V. Pada 5 Desember 1933 sebagai
Zeepfabrieken NV Lever, anak perusahaan dari Lever Brothers yang
awalnya mengoperasikan pabrik sabun di Angke,Jakarta. Nama itu diubah menjadi Unilever Indonesia pada tanggal 22 Juli 1980. Unilever
Indonesia mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa
Efek Jakarta dan Bursa
Efek Surabaya pada
tahun 1981.dan mempunyai lebih dari 1000 supplier.
Unilever Indonesia memiliki dua anak
perusahaan, PT Anugrah Lever (dalam likuidasi), dan PT Technopia Lever. Sebuah perusahaan patungan dengan
Technopia Singapore Pte. Ltd PT Knorr Indonesia, yang lain Unileverperusahaan, itu diserap ke Unilever Indonesia dengan
merger pada tanggal 4 Juli 2004.
Unilever Indonesia memenangkan 2005 Energi Globe Award untuk
skema pengelolaan sampah mereka di desa-desa di dekat sungai Brantas di Surabaya. Skema ini melibatkan kompos. Sampah organik dan daur ulang, dan telah menghasilkan peningkatan kualitas air
setempat di sungai.
Mei 2011 PT Unilever Indonesia Tbk akan
menginvestasikan setidaknya Euro300 juta ($ 427.400.000) dalam 2 tahun untuk
memperluas pabrik di Cikarang, Jawa Barat dan
pada Rungkut, Jawa Timur .
Saat ini perusahaan telah mengoperasikan 8 pabrik milik perusahaan dan 3 pusat
distribusicenters.
PT Unilever Indonesia Tbk berfungsi sebagai
bagian dari Unilever Group NV/plc untuk menghasilkan pembuatan dan mengawasi
semua merek yang paling Unilever (seperti Surf, Close-up, Clear dll antara
lain) & kemudian berfungsi untuk masyarakat Indonesia.
Di Indonesia, Unilever bergerak dalam bidang
produksi sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari
susu, es krim, makanan dan minuman dari teh, produk-produk kosmetik, dan produk
rumah tangga.
Produk-produk unggulan PT Unilever Indonesia Tbk terbagi menjadi 3 segmentasi pasar yang besar, antara lain yaitu Food and Beverages, Home Care serta Personal Care. Beberapa produk PT Unilever Indonesia Tbk yang cukup terkenal antara lain yaitu Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Rinso dan lain sebagainya. PT Unilever Indonesia Tbk hingga saat ini menjadi salah satu perusahaan swasta dengan kepemilikan aset serta keuntungan yang mampu meraup untung hingga miliaran dollar setiap tahunnya, perusahaan yang memiliki jumlah karyawan lebih dari 171.000 ini juga mengembangkan beberapa perusahaan yang masih berada di bawah manajemennya.
Beberapa perusahaan antara lain adalah:
1. PT Anugrah Lever
PT Anugrah Lever bergerak di bidang produksi, pengembangan hingga pemasaran saus kecap, saus cabe dan saus-saus lainnya yang menggunakan merk Bango, Sakura, Parkiet serta merek-merek lain sebagai merk dagangnya. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2000 lalu.
2. PT Technopia Lever
PT Technopia Lever merupakan perusahaan anak dari PT Unilever yang bergerak di bidang pendistribusian serta ekspor dan impor produk Domestos Nomos sebagai merk dagangnya. Merk ini cukup terkenal didalam negeri yang salah satunya produknya adalah berupa obat nyamuk.
3. PT Knorr Indonesia
PT Knorr Indonesia diakuisisi oleh PT Unilever Indonesia pada 21 Januari 2004. PT Knorr merupakan salah satu perusahaan pemasok makanan siap saji dengan merk dagang Knorr seperti Rostip, Pronto Tomato, Carbonara Saus Mix, Chicken Powder dan lain sebagainya.
4. PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (Ultra)
PT Ultrajaya Milk Industry atau Ultra memiliki perjanjian bersyarat kepada PT Unilever Indonesia dengan pengalihan beberapa produknya ke Unilever. Beberapa diantara merk yang dialihkan adalah Buavita serta Gogo.
10.
BANK CENTRAL ASIA ( BCA )
BCA
secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central
Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali
yang paling signifikan adalahkrisis moneter yang
terjadi di tahun 1997.
Krisis
ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di
Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini memengaruhi aliran dana tunai di
BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik
lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta
bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional(BPPN) lalu mengambil alih BCA di tahun 1998.
Krisis ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu mengambil alih BCA di tahun 1998.
Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif, BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998, dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun. Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia di tahun 2000.
PT Bank
Central Asia berawal dari sebuah usaha dagang bernama NV Knitting Factory di
Semarang yang didirikan pada tanggal 10 Agustus 1955, dengan akte notaris no
38, kongsi dagang ini kemudian berkembang menjadi N.V Bank Central Asia, yang
pertama kali beroperasi di pusat perniagaan di jalan Asemka pada tanggal 21
Februari 1957. Pada tanggal 18 maret 1960 dikukuhkan menjadi PT. Bank Central
Asia, dimana berbentuk perseroan terbatas dengan modal awal sebesar Rp
600.000,- dan bertujuan untuk melayani kebutuhan pendanaan bagi masyarakat
pedagang kecil yang saat itu sedang tumbuh di Jakarta. Sejak pertengahan
tahun 1970-an, Bank Central Asia mulai berkembang pesat, pada tahun inilah
dapat dikatakan merupakan era cepat landas PT Bank Central Asia. Pada tahun
1974 misalnya, Bank Centrak Asia bersama-sama lembaga keuangan terkemuka dari
Jepang, Inggris, dan Hongkong mulai menjalin mendirikan lembaga keuangan bukan
Bank (LKBB) yang dinamakan PT Multi National Finance Coorporation (Multicor).
PT Bank Centra Asia menjadi pemegang saham terbesar di Multicor sebesar 51%
dari total saham.
Dengan
kerja sama yang dilakukan oleh Bank Central Asia dan disertai dengan
pengelolaan yang professional, sumber dana dan jangkauan PT Bank Central Asia
menjadi luas dengann asset yang cukup besar yaitu Rp 12,8 Milyar pada tahun
1977. PT Bank Central Asia mulai menunjukkan diri sebagai bank yang menguasai
pasar perbankan. Bank Central Asia terus berkembang ke berbagai propinsi atau
daerah-daerah yang belum banyak dijangkau bank lain. Tahun 1977 status
bank devisa diperoleh Bank Central Asia, sejak saat itu berbagai macam
transaksi valuta asing dan ekspor-impor dapat dilayani oleh PT Bank Central
Asia. Kondisi itu membuat PT Bank Central Asia masuk dalam bank swasta papan
atas dan terkemuka berstatus bank devisa.
Pada
tahun 1981 PT Bank Central Asia bersama-sama dengan Japan leasing corporation
dan the long term of Japan, Ltd mendirikan PT Central Sari Metropolitan
Leasing, yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan, dalam patungan
ini PT Bank Central Asia menguasai 30%-35% sahamnya.
Pada
tahun 1986 PT Bank Central Asia mulai membuka cabang di luar negeri, yang
pertama adalah di Nassau Bahamas kemudian yang kedua di China Town New York
Amerika Serikat. Menanggapi semakin banyaknya kebutuhan maka PT Bank Central
Asia membuka cabang ketiga di London Sebago Kantor perwakilan.
Perkembangan
selanjutnya pada tahun 1988 PT Bank Central Asia mendapatkan ijin untuk
mengeluarkan Bank Central Asia Visa Travellers Cheques. Selain itu melalui
kerja sama dengan The Long Term Credit Bank of Japan,Ltd, mendirikan LTCB
Central Asia, dengan komposisi kepemilikan saham 15% dimiliki Bank Central Asia
dan 85% sisanya milik mitra kerja sama dari Jepang. Bank ini didirikan untuk
memberikan pinjaman jangka panjang pada sektor industri yang berorientasi pada
ekspor non migas. Memasuki tahun 1992 merupakan era konsolidasi bagi Bank
Central Asia, Peningkatan kualitas pelayanan semakin diupayakan untuk lebih
memenuhi kebutuhan nasabah, terbukti dengan asset Bank Central Asia pada akhir
desember 1992 telah mencapai Rp 41,1 Triliun dengan jumlah jaringan kantor
cabang sebanyak 439 kantor cabang dalam negeri dan 7 kantor cabang luar
negeri. Berkaitan dengan kebijakan perbankan pada tanggal 27 Oktober 1988
yang memberikan keleluasaan bagi bank-bank swasta nasional, Bank Perkreditan
Rakyat (BPR), Bank Asing untuk memberikan atau membuka kantor-kantor baru atau
kantor cabang baru.
KEUNGGULAN
KAMI
Sebagai
bank transaksional, BCA menawarkan rangkaian jasa yang luas untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan spesifik para nasabah kami. Sebagai lembaga intermediari
keuangan, BCA telah bekerja keras untuk memperkuat sisi kredit dengan
mempersiapkan berbagai paket yang menarik bagi nasabah yang potensial. BCA
memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi kunci keberhasilan kami dalam
menyediakan jasa-jasa yang berguna, efisien dan mudah. Keunggulan-keunggulan
ini adalah:
·
Tim manajemen yang sangat profesional yang
selalu mengikuti kebijakan dan regulasi perbankan nasional dan internasional;
·
Sumber daya manusia (SDM) yang terlatih baik
dan berorientasi pada pelayanan bagi nasabah;
·
Rangkaian produk dan jasa yang inovatif dan
memenuhi kebutuhan yang aktual;
·
Pemanfaatan teknologi paling mutakhir secara
tepat;
·
Jaringan yang luas dari kantor cabang dan
kantor cabang pembantu di seluruh Indonesia;
·
Pilihan saluran penghantaran (delivery
channel) yang luas untuk mencapai tingkat kenyamanan pelanggan yang maksimum,
dan
·
Per 31 Maret 2011 telah
memiliki sekitar 7.555 ATM tunai maupun non-tunai serta ATM Setoran
Tunai yang disediakan di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia.
·
Dalam mengembangkan produk dan jasa yang kami
tawarkan, kami selalu mempertimbangkan kebutuhan nasabah yang selalu berubah.
Lebih jauh lagi, kami terus menyempurnakan setiap produk atau jasa kami dengan
menambahkan berbagai fitur baru untuk meningkatkan kenyamanan nasabah dalam
menggunakannya.
·
Bagi komunitas bisnis, terutama para pelaku
UKM, kami menyediakan jajaran produk dan jasa yang dirancang khusus untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Produk dan jasa ini, antara lain, adalah KlikBCA
Bisnis dan BCA Bizz (di lokasi-lokasi tertentu).
11.
PT. UNITED TRACTORS Tbk.
PT
United Tractors Tbk (UT) berdiri pada 13 Oktober 1972 dengan nama PT Astra
Motor Works dan PT Astra International Tbk sebagai pemegang saham mayoritas.
Selanjutnya nama tersebut diubah menjadi United Tractors (UT). Segera setelah
beroperasi, UT memperoleh kepercayaan sebagai agen tunggal berbagai macam alat
berat yang memiliki reputasi internasional, antara lain merek KOMATSU dari
Komatsu Ltd, Japan yang sudah sejak awal menjadi perintis kerja sama dengan UT.
Sepanjang
dasawarsa tahun 1970-an, UT yang telah mengembangkan industri pada areal seluas
20 ha di Jl. Raya Bekasi km. 22, Cakung, Jakarta Timur, terus membangun
reputasi pemasar yang paling berorientasi ke service atau product support.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar, sejak 1981 UT mulai melangkah ke bidang
produksi. Selanjutnya UT mulai mendirikan beberapa Affiliated Company (Affco)
yang semakin memperkokoh usaha yang digelutinya.
Tonggak-tonggak
sejarah UT :
1972 -
Secara resmi berdiri di Indonesia pada 13 Oktober
1973 -
Ditunjuk sebagai distributor tunggal produk KOMATSU, Sumitomo Link Belt dan Tadano
Crane
1974 -
Ditunjuk sebagai distributor tunggal mesin giling getar Bomag dan forklift
Komatsu
1982 -
PT Komatsu Indonesia (KI) didirikan untuk memproduksi mesin konstruksi
Indonesia dengan lokasi di PPI UT-Cakung. Dengan teknologi dari Komatsu Ltd.
Japan, KI memproduksi antara lain Buldozer, Hydraulic Excavator, Motor Grader,
Wheel Loader serta berbagai komponen alat berat yang diekspor ke Jepang. KI
memiliki 2 divisi yaitu Construction Equipment Division (Compo Production Shop)
dan Foundry Division & Frame Fabrication Plant dan Assembling Plat yang
semuanya kini berlokasi di Jl. Raya Cakung, Cilincing.
1983 -
PT United Tractors Pandu Engineering (UTE) didirikan untuk memproduksi
peralatan dan komponen dari lisensi maupun hasil rancang bangun sendiri, antara
lain Patria Komatsu Forklift, John Deere Farm Tractors, Niigata Asphalt Mixing
Plant dan berbagai attachment. Berlokasi di Pusat Pengembangan Industri (PPI)
UT- Cakung, UTE juga melakukan perluasan pabrik dengan mengembangkan beberapa
plant di beberapa lokasi.
1984 -
PT Pandu Dayatama Patria (PDP) didirikan untuk memproduksi mesin disel
berdasarkan lisensi dengan lokasi di PPI UT-Cakung. Mesin yang diproduksi
antara lain Komatsu dan Nissan Engine Diesel. Dalam rangka program pendalaman
struktur dan diversifikasi vertikal, PDP kemudian masuk dalam bisnis produksi
Patria Generating Set, perakitan mesin mobil Peugeot dan BMW serta Hydraulic
Manufacture.
Setelah
go public pada tahun 1989, dalam perjalanan karirnya UT kini semakin siap untuk
memasuki era globalisasi dunia. Pemegang saham UT saat ini (2008) :
-
Publik 39%
- PT
Astra International Tbk 61%
1989 -
UT mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 17
September.
- PT
Pamapersada Nusantara (Pama) didirikan sebagai anak perusahaan UT di bidang
kontraktor penambangan
1990 -
UT mengakuisisi 60% saham PT Berau Coal (Berau), perusahaan pertambangan
batubara dengan konsesi di Berau, Kalimantan Timur yaitu Lati dan Binungan.
1991 -
Melalui penawaran terbatas 11.500.000 saham baru dengan harga Rp.10.000,-
perlembar, perusahaan berhasil menghimpun dana Rp. 115 miliar dan meningkatkan
jumlah saham dari 23.000.000 menjadi 34.500.000
1992 -
PT United Tractors Semen Gresik (UTSG) didirikan. Berlokasi di Gresik – Jawa
Timur, merupakan kerja sama UT dengan PT Semen Gresik dan bergerak di bidang
penambangan batu kapur dan tanah liat sebagai bahan baku bagi pabrik semen.
1994 -
Penerbitan saham bonus tiga untuk saham biasa, meningkatkan jumlah saham
menjadi 138.000.000
1995 -
KI tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya.
- UT
Heavy Industry Pte.Ltd. didirikan di Singapura sebagai anak perusahaan UT yang
menangani distribusi.
-
Forklift Patria, hasil rancang bangun sendiri mendapat sertifikasi ISO 9001
1996 -
Patria menerima sertifikat CE (Certificate of Confirmity) di Eropa dan
sertifikat GS (Certificate of Safety) di Jerman.
-
United Ostermeyer Engineering Pty.Ltd. didirkan di Darwin, Australia sebagai
Patent Company
1997 -
Berdiri Komatsu Remanufacturing Asia (KRA) di Balikpapan, UT memiliki 51%
saham, sisanya dimiliki Komatsu Asia Pacific Pte.Ltd., Singapura. Bergerak di
bidang industri perbaikan / rekondisi mesin dan komponen alat-alat berat.
-
Berdiri Pama Indo Mining yang bergerak di bidang pertambangan bahan baku semen,
berlokasi di Batu Licin (Kalimantan Selatan), merupakan kerja sama Pama dengan
PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk.
2000 -
Pembagian 9 saham bonus untuk setiap pemegang 5 saham lama UT, stock split dan
ESOP (Program Pemilikan Saham oleh Karyawan)
-
Selesainya restrukturisasi hutang anak-anak perusahaan UT : Berau Coal, UTE,
Pama dan PDP.
-
Selesainya restrukturisasi hutang UT sebesar 278,5 juta dolar AS dan Rp.147
miliar
- UT
menguasai 100% kepemilikan PT Bina Pertiwi, distributor alat pertanian Kubota
dan John Deere
2001 -
Berau Coal buka tambang baru di Sambarata, Kalimantan Timur dengan total
cadangan 90 juta ton batubara
- UTE
sebagai preferred supplier General Electric, USA
United
Tractors (UT/Perusahaan) adalah distributor peralatan berat terbesar dan
terkemuka di Indonesia yang menyediakan produk-produk dari merek ternama dunia
seperti Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, Tadano, dan Komatsu Forest. Didirikan
pada 13 Oktober 1972, UT melaksanakan penawaran umum saham perdana di Bursa
Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 19 September 1989 menggunakan nama PT
United Tractors Tbk (UNTR), dengan PT Astra International Tbk sebagai pemegang
saham mayoritas. Penawaran umum saham perdana ini menandai komitmen United
Tractors untuk menjadi perusahaan kelas dunia berbasis solusi di bidang alat
berat, pertambangan dan energi guna memberi manfaat bagi para pemangku
kepentingan.
Saat
ini jaringan distribusi mencakup 19 kantor cabang, 22 kantor pendukung, dan 11
kantor perwakilan di seluruh penjuru negeri. Tidak puas hanya menjadi
distributor peralatan berat terbesar di Indonesia, Perusahaan juga memainkan
peran aktif di bidang kontraktor penambangan dan baru-baru ini telah memulai
usaha pertambangan batu bara. UT menjalankan berbagai bisnisnya melalui tiga
unit usaha yaitu Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan dan Pertambangan.
1. Mesin Usaha
Unit
usaha Mesin Konstruksi yang mengusung nama United Tractors menjalankan peran
sebagai distributor alat berat terkemuka dan terbesar di Indonesia. Sebagai
distributor tunggal produk Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, Tadano dan
Komatsu Forest, unit usaha Mesin Konstruksi menyediakan produk alat berat untuk
digunakan di sektor pertambangan, perkebunan, konstruksi dan kehutanan serta
untuk material handling dan transportasi.
Pada
tahun 1983, melalui anak perusahaan PT United Tractors Pandu Engineering (“UTPE”),
United Tractors masuk ke bisnis rekayasa dan pembuatan komponen alat berat.
Kemudian, melalui Komatsu Remanufacturing Asia (“KRA”) yang didirikan pada
tahun 1997, dan PT Tekno Universal Reksajaya (“UTR”) yang berdiri pada tahun
2011, United Tractors juga masuk ke bidang jasa rekondisi mesin. Perseroan
kemudian mendirikan PT Andalan Multi Kencana (“AMK”) pada tahun 2010 yang
menjalankan usaha distribusi commodity
parts. United Tractors juga membentuk beberapa anak perusahaan lain untuk
menyediakan berbagai jenis produk dan jasa, termasuk PT Bina Pertiwi (“BP”),
yang menyalurkan dan menyediakan jasa sewa traktor pertanian Kubota, Komatsu
dan Kubota generator,
mini excavator Komatsu, serta Komatsuforklift.
Sebagai
perusahaan yang berbasis solusi, selain menyediakan produk alat berat dan suku
cadang, United Tractors secara komprehensif juga menyediakan layanan berikut:
•
Konsultasi Lapangan
•
Rekomendasi Alat Berat yang Optimal
•
Program Pemeriksaan Mesin
•
Program Pemantauan Alat Berat
•
Remanufaktur dan Rekondisi
•
Pelatihan untuk Operator dan Mekanik
• UT
Call di nomor 500 072 (24/7 pusat layanan pelanggan)
•
Guaranteed Product Support
2. Kontraktor Penambangan
United
Tractors mendukung perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia dengan
menyediakan jasa penambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (“PAMA”), yang
didirikan pada tahun 1989. Memiliki kompetensi tinggi di bidang rancang
tambang, eksplorasi, penggalian, pengangkutan melalui jalan darat, pengangkutan
melalui sungai dan pengapalan, PAMA membantu pemilik tambang untuk memanfaatkan
potensi sumber daya alam sejak dari proses awal studi kelayakan, pembangunan
infrastruktur, eksploitasi hingga perluasan tambang.
Layanan
yang ditawarkan PAMA termasuk antara lain:
•
Desain pertambangan dan implementasi
•
Penilaian dan studi kelayakan awal
•
Pembangunan infrastruktur dan fasilitas tambang
•
Pengupasan tanah dan penanganan limbah
•
Produksi komersial bahan tambang
•
Perluasan tambang/ fasilitas
•
Reklamasi dan revegetasi
•
Pengapalan dan pemasaran
3. Pertambangan
Beroperasi
di proyek-proyek pertambangan batu bara utama di seluruh wilayah negeri, PAMA
dikenal luas sebagai kontraktor penambangan batu bara terbesar dan terkemuka di
Indonesia, termasuk anak-anak perusahaan di bawahnya: PT Kalimantan Prima
Persada (“KPP”), PT Pama Indo Mining (“PIM”) dan PT Multi Prima Universal
(“MPU”). Dalam memperkuat keberadaan Perseroan dan secara strategis bagi
kelangsungan bisnis masa depan, PAMA menyediakan layanan yang komprehensif dan
mempertahankan produktivitas dan efisiensi yang tinggi dengan menetapkan target zero accident di semua wilayah operasi
tambang.
United
Tractors menjalankan usaha pertambangan batu bara melalui anak usahanya, PT
Tuah Turangga Agung (“TTA”). Sebagai induk dari unit usaha pertambangan, TTA
memegang kepemilikan atas sejumlah konsesi tambang batu bara dengan perkiraan
total cadangan sebesar 400 juta ton (combined reserve) yang terdiri
dari batu bara kualitas menengah dan kualitas tinggi.
Konsesi
tambang tersebut diantaranya adalah PT Prima Multi Mineral ("PMM"),
PT Agung Bara Prima ("ABP"), PT Asmin Bara Bronang ("ABB"),
PT Asmin Bara Jaan ("ABJ"), PT Duta Sejahtera ("DS"), PT
Duta Nurcahya ("DN") dan PT Piranti Jaya Utama ("PJU").








Tidak ada komentar:
Posting Komentar